Pada 10 Februari 2026, harga Bitcoin bergerak di kisaran kritis US$68.000 hingga US$70.000, menghadapi ujian terberat sejak turun dari rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.000 yang dicapai Oktober lalu.
Sinyal teknikal yang lebih signifikan adalah bahwa Bitcoin telah berada di bawah Simple Moving Average 100-minggu (SMA 100-minggu) selama 13 hari berturut-turut. Garis tren ini, yang dianggap analis teknikal sebagai "jaring pengaman" jangka panjang, kini berada di bawah tekanan besar.
Support Utama Tertembus
Bagi analis teknikal, rata-rata bergerak 100-minggu bukan sekadar garis tren—ini merupakan garis batas penting bagi sentimen pasar jangka panjang Bitcoin. Rata-rata bergerak ini mencerminkan rata-rata biaya kepemilikan selama kurang lebih dua tahun dan secara luas digunakan untuk mengidentifikasi pembalikan tren utama.
Data pasar menunjukkan bahwa Bitcoin telah ditutup di bawah rata-rata bergerak 100-minggu selama tiga minggu berturut-turut. Per 10 Februari 2026, harga tetap berada di bawah garis tren jangka panjang ini selama 13 hari berturut-turut.
Durasi ini telah melampaui banyak koreksi jangka pendek, sehingga pasar mulai menilai ulang kekuatan tren jangka panjang.
Perbandingan Historis
Data historis menunjukkan bahwa ketika Bitcoin jatuh di bawah garis tren jangka panjangnya, pasar biasanya memasuki fase penyesuaian yang berkepanjangan. CEO Coin Bureau, Nic, mencatat bahwa berdasarkan siklus sebelumnya, setelah BTC menembus di bawah garis tren jangka panjang, rata-rata bertahan di bawah level tersebut selama 267 hari.
Periode terpendek di bawah garis tren terjadi saat pandemi COVID-19, hanya berlangsung selama 34 hari. Rentang 13 hari saat ini masih relatif singkat secara historis, namun belum pasti apakah pasar dapat pulih secepat saat pandemi.
Secara historis, pasar lebih cenderung tetap tertekan dalam waktu yang lebih lama. Rebound cepat memang mungkin terjadi, namun semakin lama Bitcoin berada di level rendah, semakin kecil peluang terjadinya pemulihan yang cepat.
Analisis Struktur Teknikal
Analisis terbaru Gate menunjukkan bahwa per 10 Februari 2026, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$69.000, turun sekitar 46% dari rekor tertinggi di atas US$126.000 pada Oktober lalu.
Beberapa indikator kunci menunjukkan sinyal bearish. Bitcoin untuk pertama kalinya sejak Maret 2022 turun di bawah rata-rata bergerak 365-hari.
Berikut status indikator teknikal utama per 10 Februari 2026:
| Indikator | Status | Sinyal |
|---|---|---|
| MA 100-minggu | Di bawah selama 13 hari berturut-turut | Bearish jangka panjang |
| MA 365-hari | Tertembus (pertama sejak Maret 2022) | Sinyal bearish utama |
| Relative Strength Index (RSI) | 14-hari di ~33 (mendekati oversold) | Bearish, namun dekat zona rebound |
| Moving Average Convergence Divergence (MACD) | Bearish crossover, histogram melebar ke bawah | Momentum turun berlanjut |
| Exponential MA 20-hari | Sekitar US$86.100 (jauh di atas harga saat ini) | Resistensi kuat di atas |
Kesenjangan performa antara Bitcoin dan emas terus melebar. Dalam setahun terakhir, emas naik 68%, sementara Bitcoin turun hampir 30%. Kontras tajam ini semakin melemahkan narasi Bitcoin sebagai "emas digital".
Sentimen Pasar dan Arus Modal
Pasar kripto saat ini diliputi ketakutan ekstrem. Crypto Fear & Greed Index anjlok ke angka 14, menandakan "ketakutan ekstrem"—level terendah sejak kejatuhan FTX pada 2022.
Faktor lain yang mendorong volatilitas pasar adalah gelombang likuidasi paksa yang masih berlangsung. Menurut data Coinglass, lebih dari US$2 miliar posisi long dan short telah dilikuidasi dalam siklus ini. Pada 5 Februari saja, posisi leverage senilai US$2,58 miliar terhapus, dengan 93% di antaranya merupakan posisi bullish.
Laporan terbaru CryptoQuant menyoroti pembalikan tajam permintaan institusional. Sementara ETF Bitcoin spot AS membeli sekitar 46.000 BTC pada periode yang sama tahun 2025, pada 2026 mereka justru menjadi penjual bersih.
Dari November 2025 hingga Januari 2026, total arus keluar ETF mencapai sekitar US$6,2 miliar—periode outflow terpanjang sejak produk ini diluncurkan.
Analisis Support dan Resistance
Dengan koreksi Bitcoin yang masih berlangsung, mengidentifikasi level support dan resistance kunci menjadi sangat penting bagi para trader. Berikut analisis level harga kritis Bitcoin saat ini:
| Level | Tipe | Analisis Pentingnya |
|---|---|---|
| US$60.000 - US$61.000 | Support kuat | Titik terendah intraday 6 Feb 2026; zona MA 200-minggu; bertepatan dengan "realized price" CoinDesk |
| US$65.000 - US$66.000 | Support minor | Titik terendah penurunan tajam 5 Feb 2026; ambang psikologis |
| US$72.000 - US$73.500 | Resistance awal | Zona resistance yang ditandai IG; rebound berkelanjutan harus menembus level ini |
| US$79.000 - US$81.000 | Resistance kuat | Resistance outlook mingguan Bitcoin Magazine; support US$84.000 kini menjadi resistance |
Secara teknikal, grafik harian Bitcoin tetap bearish. Analis mencatat hanya pergerakan kembali di atas US$81.000 yang dapat membalikkan tren saat ini.
Analisis Elliott Wave menyarankan bahwa besaran gelombang korektif C bisa setara dengan gelombang A, berpotensi turun ke kisaran US$52.000–US$53.000—mendekati support yang terbentuk pada titik terendah September 2024.
Lingkungan Makro dan Prospek
Dari perspektif makro, pasar tengah menilai ulang peran Bitcoin di antara aset berisiko. Dengan arus keluar institusional, sentimen yang mendingin, dan teknikal yang melemah, Bitcoin berada di persimpangan penting.
Analis menyampaikan beragam pandangan terkait prospek pasar:
- Canary Capital memperkirakan bear market akan berlanjut hingga kuartal IV, dengan proyeksi stabilisasi di kisaran US$50.000–US$60.000, mendekati rata-rata bergerak 200-minggu.
- Trader Polymarket memberikan probabilitas 54% bahwa Bitcoin akan mencapai US$75.000 pada akhir Februari.
- Standard Chartered tetap bullish jangka panjang, mempertahankan target akhir tahun di US$150.000.
Performa harga Bitcoin baru-baru ini menimbulkan keraguan terhadap narasi "emas digital". Analis Deutsche Bank, Marion Laboure, menyoroti bahwa tekanan jual yang terus-menerus menunjukkan investor tradisional secara bertahap kehilangan minat, dan sentimen pasar secara keseluruhan terhadap kripto semakin pesimistis.
Kesimpulan
Tantangan yang dihadapi Bitcoin bukan sekadar koreksi harga—tetapi juga menguji proposisi nilai intinya. Seiring harga emas terus naik dan Bitcoin semakin dianggap berkorelasi dengan saham teknologi dan aset berisiko lainnya, statusnya sebagai "emas digital" kini dipertanyakan.
Pelaku pasar kini memantau dua faktor krusial ke depan: pertama, apakah data makroekonomi AS—terutama laporan CPI 13 Februari—dapat memberikan dukungan bagi aset berisiko; kedua, apakah modal institusional akan kembali ke produk ETF Bitcoin.
Apa pun hasilnya, investor perlu menyadari bahwa 13 hari Bitcoin berada di bawah rata-rata bergerak 100-minggu hanyalah awal dari potensi titik balik pasar. Penentu utama masa depan Bitcoin terletak pada investor institusi dan individu yang kini tengah menilai ulang nilai fundamentalnya.


