

Monero (XMR) menjadi yang paling terdampak dalam gelombang delisting ini, mencatat kenaikan delisting tahunan hingga 6 kali lipat dibanding periode sebelumnya. Lonjakan tajam ini menandakan semakin besarnya perhatian regulator terhadap cryptocurrency berfokus privasi. Dash (DASH) menyusul sebagai token kedua dengan jumlah penghapusan terbanyak dari bursa utama. Konsentrasi dampak pada token privasi terkemuka ini memperlihatkan bagaimana pengawasan regulator sangat memengaruhi proyek privasi paling mapan dan banyak digunakan.
Token privasi didesain khusus untuk menyamarkan detail transaksi serta mempersulit pelacakan blockchain—fitur utama yang menjadi sorotan regulator global. Seiring meningkatnya peran token ini di ekosistem cryptocurrency, perhatian otoritas keuangan pun makin besar karena kekhawatiran pada potensi penyalahgunaan untuk aktivitas ilegal.
Peningkatan jumlah delisting berasal dari aksi regulasi terkoordinasi di berbagai yurisdiksi. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah memperketat sikap terhadap aset digital berfokus privasi. Jepang menjadi pelopor dengan melarang token privasi sejak 2018 karena tantangan regulasi yang ditimbulkannya. Australia dan Korea Selatan kemudian menyusul pada 2020 dengan larangan serupa dalam kerangka regulasi masing-masing.
Perkembangan regulasi terbaru makin mempercepat tren delisting. Uni Emirat Arab memperkenalkan aturan kripto komprehensif yang secara eksplisit melarang token privasi, mencerminkan kekhawatiran di pusat keuangan baru. Sementara itu, Uni Eropa menerbitkan regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA) yang menetapkan pembatasan ketat atas perdagangan dan kustodian token privasi di negara anggota UE.
Merespons tekanan regulasi ini, bursa kripto utama meluncurkan program delisting secara sistematis. Satu bursa terkemuka menangguhkan perdagangan pasangan XMR untuk pengguna Eropa demi mematuhi regulasi regional, sementara platform besar lain benar-benar menghapus token tersebut dari penawaran global. Sejumlah platform ternama lain mengambil langkah serupa dan secara konsisten menjadikan kepatuhan regulasi sebagai alasan utama delisting. Respons terkoordinasi dari bursa utama ini menegaskan sifat global regulasi token privasi.
Meski terjadi delisting besar-besaran di bursa utama, token privasi tetap menemukan tempat di bursa dengan pengawasan regulasi lebih longgar. Platform seperti ini mengalami lonjakan pesat dalam aktivitas perdagangan token privasi dan kini menguasai porsi volume perdagangan yang jauh lebih besar. Konsentrasi perdagangan token privasi di bursa-bursa tersebut meningkat signifikan, hingga kini menyumbang bagian berarti dari volume global token privasi dibanding sebelumnya.
Permintaan atas token privasi di bursa alternatif tetap sangat tinggi, bahkan kerap melampaui likuiditas di order book. Ketidakseimbangan suplai-permintaan ini menunjukkan minat pengguna yang terus kuat terhadap aset privasi, meski tekanan regulasi meningkat. Perpindahan aktivitas perdagangan ke platform kurang teregulasi menciptakan struktur pasar terbelah: bursa utama beroperasi dalam rezim kepatuhan ketat, sementara platform alternatif melayani pengguna yang ingin mengakses token privasi.
Dengan kerangka regulasi yang makin ketat di seluruh dunia, token privasi seperti Monero, Dash, dan Zcash menghadapi tantangan besar di bursa tersentralisasi. Meskipun perdagangan mereka sudah bermigrasi ke platform kurang teregulasi, pengawasan regulator yang berkelanjutan menandai masa depan yang kompleks bagi aset ini. Pelaku pasar dan penggemar token privasi harus menavigasi lanskap regulasi yang terus berkembang demi mempertahankan akses ke aset digital tersebut. Perbedaan antara bursa sangat teregulasi dan kurang teregulasi diperkirakan akan bertahan, membentuk segmen pasar tersendiri bagi perdagangan kripto berorientasi privasi.
Token privasi memanfaatkan teknologi enkripsi canggih untuk menyembunyikan detail transaksi dan meningkatkan anonimitas pengguna, tidak seperti cryptocurrency biasa yang berjalan di blockchain transparan. Mereka menggunakan teknik seperti zero-knowledge proofs dan ring signature untuk menyamarkan identitas pengirim, penerima, serta nominal transaksi, sehingga menghadirkan privasi dan kerahasiaan keuangan lebih tinggi bagi pengguna.
Regulator menargetkan privacy coin karena kekhawatiran terkait pencucian uang dan aktivitas ilegal. Fitur anonimitas token ini menyulitkan pemenuhan syarat anti-money laundering (AML) dan know-your-customer (KYC), sehingga meningkatkan risiko kejahatan finansial.
Privacy coin utama seperti Monero, Dash, dan Zcash telah mengalami delisting akibat tekanan regulasi. Hal ini menurunkan likuiditas dan aksesibilitas perdagangan bagi pemegangnya, serta bisa berdampak pada nilai pasar dan kemudahan konversi ke mata uang fiat.
Delisting massal privacy coin menurunkan likuiditas dan akses pasar, menandai kepatuhan industri kripto terhadap tekanan regulator. Hal ini bisa melemahkan kepercayaan investor dan memengaruhi stabilitas pasar secara keseluruhan, serta menandai perubahan arah industri menuju kepatuhan regulasi.
Investor dapat memperdagangkan privacy coin di bursa yang menerapkan aturan AML dan KYC, meski ketersediaannya berbeda-beda di tiap wilayah. Beberapa token privasi menghadapi risiko delisting akibat pengawasan regulator. Pertimbangkan transaksi peer-to-peer, bursa terdesentralisasi, atau dompet non-kustodial sebagai alternatif, namun pastikan tetap mematuhi hukum setempat.
Privacy coin memang menghadapi tantangan, namun tetap memiliki nilai tersendiri. Meski pengembangan privasi di Ethereum dan teknologi zero-knowledge proof menjadi pesaing, privacy coin menawarkan infrastruktur khusus dan jaringan yang sudah mapan. Pasar kemungkinan akan mengalami koeksistensi, bukan penggantian total, dengan privacy coin yang terus mengembangkan peran dalam ekosistem privasi yang lebih luas.










