Meningkatnya Ketegangan AS-Iran dan Intervensi "Penerus" Trump: Apa Dampaknya bagi Pasar Kripto?

Pasar
Diperbarui: 2026-03-06 10:22

Per 6 Maret 2026, konflik militer antara AS dan Iran telah memasuki hari ketujuh, dengan ketegangan yang semakin meningkat alih-alih mereda. Menteri Pertahanan AS, Hegseth, menegaskan bahwa serangan daya tembak di atas Tehran "akan meningkat secara dramatis," dan AS akan mengerahkan lebih banyak skuadron pesawat tempur serta pembom. Sementara itu, manuver politik semakin intens, dengan Presiden Trump secara terbuka menyatakan bahwa ia "harus secara pribadi terlibat" dalam proses suksesi Iran dan tidak akan menerima penunjukan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Serangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik telah berkembang dari sekadar konfrontasi militer menjadi intervensi mendalam terhadap stabilitas rezim Iran. Bagi industri kripto, badai geopolitik ini tengah membentuk ulang logika penetapan harga pasar melalui tiga kanal utama: harga energi, likuiditas dolar AS, dan sentimen risk-off.

Latar Belakang dan Linimasa

Eskalasi konflik ini bukanlah insiden tunggal, melainkan puncak dari persaingan kekuasaan jangka panjang. Berikut adalah rangkuman perkembangan utama dalam 24 jam menjelang 6 Maret:

  • Eskalasi militer: Laporan menunjukkan militer AS tengah mempersiapkan operasi yang dapat berlangsung setidaknya 100 hari, berpotensi hingga September. Dewan Perwakilan Rakyat AS menolak resolusi untuk membatasi kewenangan Trump dalam menggunakan kekuatan terhadap Iran (219 menolak, 212 mendukung), sehingga hambatan politik domestik terhadap aksi militer berkepanjangan pun terangkat.
  • Intervensi politik yang mendalam: Trump secara tegas menolak suksesi putra Khamenei dan mendorong Kurdi untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Intervensi langsung dalam urusan internal Iran ini meningkatkan ketidakpastian. Berdasarkan pemantauan PolyBeats, probabilitas Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya turun dari puncak 82% menjadi 52%.
  • Sinyal diplomatik campuran: Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Ravanchi, menyatakan Iran siap meninggalkan program nuklirnya asalkan AS menawarkan "alternatif yang memuaskan." Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Araghchi, juga menegaskan bahwa "Rencana kemenangan cepat A militer AS telah gagal," serta memperingatkan bahwa siapa pun yang memprovokasi perang akan "terjebak."

Analisis Data dan Struktur

Dampak konflik geopolitik terhadap pasar kripto tercermin dalam perubahan struktur yang kompleks, bukan sekadar pergerakan satu arah.

"Divergensi Bull-Bear" yang Terungkap di Pasar Opsi

Sejak awal Maret, data derivatif menunjukkan adanya koeksistensi antara lindung nilai jangka pendek dan sentimen bullish jangka panjang. Misalnya, volatilitas tersirat (IV) opsi BTC yang jatuh tempo 27 Maret melonjak ke 51,3% setelah krisis pecah, menandakan pasar sedang melakukan lindung nilai terhadap volatilitas signifikan dalam beberapa minggu ke depan.

Lebih penting lagi, rasio put/call (PCR) memberikan wawasan kunci:

  • Open Interest PCR (berdasarkan posisi terbuka): Berada di angka 0,75, di bawah 1. Ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, opsi call masih mendominasi, terutama pada harga strike USD 75.000, USD 80.000, dan bahkan USD 100.000, di mana banyak kontrak masih terbuka.
  • Volume PCR (berdasarkan volume perdagangan): Mencapai 1,37, jauh di atas 1. Hal ini mencerminkan reaksi langsung pasar terhadap krisis: lonjakan modal membeli opsi put out-of-the-money untuk lindung nilai taktis.

Intinya, divergensi antara open interest bullish dan arus baru bearish secara jelas mengungkap posisi institusional: "Bullish jangka panjang, defensif jangka pendek." Struktur ini menunjukkan bahwa jika kepanikan mereda secara marginal, rebound tajam dapat terjadi akibat gamma squeeze oleh market maker.

Perspektif Komunitas

Saat ini, terdapat tiga pandangan utama yang saling bertentangan di pasar terkait konflik AS-Iran dan dampaknya terhadap aset kripto:

  • Pandangan A: Narasi Bitcoin sebagai "emas digital" safe-haven gagal

Pendukung pandangan ini menyoroti bahwa pada awal konflik, Bitcoin tidak melonjak seperti emas. Sebaliknya, BTC turun bersamaan dengan futures ekuitas AS, memicu likuidasi bagi hampir 150.000 trader. Mereka berargumen bahwa dalam krisis likuiditas awal, Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset berisiko tinggi dan dijual.

  • Pandangan B: Bitcoin adalah "aset safe-haven utama"

Sebagian lain percaya bahwa setelah aksi jual singkat, Bitcoin menunjukkan ketahanan luar biasa. Meski terjadi krisis geopolitik besar, BTC tetap bertahan di level support kunci dan tidak mengalami crash seperti pada peristiwa "3/12" tahun 2020. Ini mengindikasikan kepemilikan institusional jangka panjang tetap utuh dan nilai Bitcoin sebagai "mata uang non-kedaulatan" tengah dievaluasi ulang.

  • Pandangan C: Konflik geopolitik ditransmisikan ke kripto melalui "ekspektasi inflasi"

Saat ini, ini adalah pandangan yang paling logis dan konsisten. Konflik telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, mengancam sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang dikirim lewat laut. Kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya memengaruhi jalur pemotongan suku bunga The Fed. Perubahan ekspektasi suku bunga dolar AS menjadi variabel fundamental yang menentukan likuiditas pasar kripto.

Analisis Dampak Industri

Berdasarkan fakta dan data di atas, konflik AS-Iran berdampak pada industri kripto melalui tiga aspek utama:

Likuiditas Makro dan Risk Appetite

Konflik terus mendorong kenaikan harga energi, memperkuat inflasi yang sulit turun. Akibatnya, pasar mengurangi taruhan pemotongan suku bunga The Fed tahun ini. Untuk pasar kripto yang sangat sensitif terhadap likuiditas global, hal ini berpotensi menunda pemulihan valuasi. Di sisi lain, jika konflik berkepanjangan melemahkan kredibilitas dolar AS akibat risiko geopolitik, nilai Bitcoin sebagai "aset keras lintas batas" bisa mengalami peningkatan sistemik.

Mikrostruktur Pasar Kripto

Data derivatif sudah mencerminkan baik rapuhnya maupun ketahanan struktur pasar. Volatilitas tersirat yang tinggi menggeser profil risiko dan imbal hasil untuk strategi grid trading dan arbitrase. Bagi trader ritel, ini berarti risiko volatilitas yang meningkat; bagi institusi profesional, ini adalah peluang untuk menangkap premi kepanikan melalui strategi opsi.

Biaya Energi dan Penambangan

Lonjakan harga minyak secara langsung akan memengaruhi penambang kripto yang bergantung pada bahan bakar fosil, terutama di kawasan Timur Tengah dan Amerika Utara. Jika konflik membuat biaya energi tetap tinggi dalam waktu lama, kita bisa melihat redistribusi hash rate global Bitcoin, mempercepat perpindahan operasi penambangan ke wilayah dengan energi terbarukan yang lebih murah.

Proyeksi Evolusi Skenario

Berdasarkan informasi saat ini, kita dapat menguraikan tiga skenario kemungkinan beserta respons pasar kripto yang menyertainya:

  • Skenario 1: Konflik berkepanjangan namun tetap terlokalisasi (base case)

Operasi militer AS berlanjut selama beberapa minggu atau bulan, terutama menargetkan fasilitas militer, dengan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz yang terjadi secara sporadis. Dampak: Ekspektasi inflasi tetap tinggi, tetapi pengetatan likuiditas global melambat. Bitcoin berpotensi membentuk bottom di tengah volatilitas lebar, dengan "max pain point" pasar opsi (saat ini sekitar USD 76.000) menjadi pusat gravitasi pertarungan bull-bear.

  • Skenario 2: Mediasi diplomatik dan de-eskalasi (kasus optimis)

Iran setuju untuk meninggalkan program nuklirnya sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi, dan AS mengumumkan tujuannya telah tercapai, sehingga ketegangan cepat mereda. Dampak: Harga minyak turun, aset berisiko rebound tajam. Opsi call yang sebelumnya tertekan memicu momentum signifikan, dan BTC dapat segera menguji ulang rekor tertinggi sepanjang masa.

  • Skenario 3: Konflik meluas (tail risk scenario)

Pertempuran menyebar ke seluruh Timur Tengah, Selat Hormuz diblokir dalam waktu lama, dan pasukan darat AS ikut terlibat. Dampak: Dunia dilanda ketakutan stagflasi, memicu krisis likuiditas indiscriminatif (kelangkaan dolar), setelah itu emas dan Bitcoin, sebagai aset safe-haven utama, menarik arus modal besar-besaran.

Kesimpulan

Eskalasi konflik AS-Iran dan intervensi Trump dalam suksesi Iran telah mendorong risiko geopolitik ke level baru. Bagi industri kripto, volatilitas jangka pendek tak terhindarkan, dan tarik-menarik antara bull dan bear akan tercermin jelas dalam data opsi. Namun, di balik kabut perang, logika dasar tetap sama: Dalam dunia dengan kredibilitas fiat yang berubah dan gejolak geopolitik, narasi Bitcoin sebagai penyimpan nilai non-kedaulatan tengah menjalani uji stres ekstrem. Apa pun hasilnya, hal ini akan mendefinisikan ulang anchor penetapan harga pasar kripto di tahun 2026.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten