CLARITY Act Picu Kontroversi: Larangan Imbal Hasil Stablecoin Berpotensi Melemahkan Dolar dan Memicu Arus Keluar Modal

Pasar
Diperbarui: 2026-01-19 06:41

Badai besar tengah mengancam Capitol Hill terkait rancangan undang-undang yang dikenal sebagai "CLARITY Act". Salah satu ketentuan utamanya adalah melarang bursa kripto dan penyedia layanan menawarkan imbal hasil stablecoin kepada pengguna.

Anthony Scaramucci, pendiri SkyBridge Capital, secara tegas mengkritik langkah ini, dengan alasan bahwa hal tersebut akan membuat dolar AS kalah bersaing dengan yuan digital milik Tiongkok.

01 Pertarungan Legislatif

Industri kripto tengah menghadapi pertarungan regulasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di pusat perseteruan ini terdapat "CLARITY Act", sebuah RUU yang berpotensi mengubah lanskap keuangan digital global.

Salah satu ketentuan kunci dalam RUU ini telah memicu kontroversi sengit: larangan bagi bursa kripto dan penyedia layanan lainnya untuk menawarkan imbal hasil stablecoin kepada pelanggan. Aturan ini dipandang sebagai perpanjangan dari larangan yang sebelumnya diatur dalam "GENIUS Act".

Scaramucci tidak berbasa-basi: "Seluruh sistem sedang runtuh." Ia mengecam RUU ini sebagai upaya melindungi kepentingan bank tradisional, bukan mendorong inovasi.

Namun, pihak perbankan mengambil posisi yang sangat berbeda. CEO Bank of America, Brian Moynihan, memperingatkan bahwa jika stablecoin diizinkan menawarkan imbal hasil, hal ini dapat memicu arus keluar dana deposito bank hingga 6 triliun dolar AS.

02 Persaingan Geofinansial

Di balik perdebatan ini, terdapat persaingan yang lebih dalam untuk supremasi geofinansial. Scaramucci langsung menyoroti inti persoalan dengan bertanya:

"Bank tidak ingin penerbit stablecoin bersaing dengan mereka, sehingga mereka memblokir distribusi imbal hasil. Namun, Tiongkok menerbitkan stablecoin yang bisa menawarkan imbal hasil—jadi, menurut Anda, sistem mana yang akan dipilih pasar negara berkembang?"

Pertanyaan ini mengungkap perebutan kekuasaan di balik pelarangan imbal hasil stablecoin dan potensi ancamannya terhadap dominasi global dolar.

Sejak Januari 2026, Bank Sentral Tiongkok telah mengizinkan bank komersial membayarkan bunga atas simpanan yuan digital. Perubahan kebijakan ini memberikan keunggulan struktural bagi yuan digital dibanding stablecoin dolar dalam persaingan adopsi global.

Bagi para pemegang aset, memperoleh pendapatan pasif dari mata uang digital jelas lebih menarik dibanding opsi tanpa imbal hasil—terutama di tengah kondisi suku bunga global yang masih relatif tinggi.

03 Kekhawatiran Sektor Perbankan

Bank tradisional sangat khawatir dengan bangkitnya stablecoin. Moynihan mengungkapkan kekhawatirannya secara gamblang: "Jika aturan struktur pasar tetap longgar, stablecoin yang menawarkan imbal hasil bisa menyebabkan arus keluar deposito hingga 6 triliun dolar AS."

Angka tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari total dana deposito bank di AS—dan jika benar-benar terjadi, hal ini akan menjadi bencana bagi model bisnis industri perbankan.

Pada dasarnya, perbankan bergantung pada penghimpunan dana dan penyaluran kredit untuk mendapatkan selisih keuntungan. Ketika dana deposito mengalir ke stablecoin, sumber dana pinjaman bank menyusut dengan cepat, memaksa bank menaikkan suku bunga deposito demi bersaing memperebutkan modal dan mempersempit margin keuntungan mereka.

Dewan Bank Komunitas dari American Bankers Association telah mengirimkan surat bersama kepada Senat, mendesak para legislator untuk menutup celah dalam "Crypto Market Structure Bill" yang memungkinkan stablecoin membayarkan imbal hasil secara tidak langsung melalui bursa.

Para pemimpin perbankan berbicara lugas: "Pengaturan seperti ini mengubah pengecualian menjadi aturan utama, sehingga larangan menjadi tidak berarti."

04 Industri Kripto Melawan Balik

Menghadapi tekanan yang semakin besar dari bank tradisional, industri kripto melakukan perlawanan. Blockchain Association dan Crypto Innovation Council berpendapat bahwa bank hanya berupaya mempertahankan monopoli yang tidak efisien dan berimbal hasil rendah.

Mekanisme reward membantu konsumen menjaga daya beli di tengah inflasi—ini adalah inovasi pasar, bukan upaya menghindari regulasi.

Brian Armstrong, CEO bursa kripto terbesar yang patuh regulasi di AS, memberikan peringatan yang lebih tegas:

"Saya khawatir di AS, kita justru gagal melihat gambaran besar. Imbal hasil stablecoin tidak memengaruhi penyaluran kredit, namun akan sangat merusak daya saing stablecoin dolar AS."

Ia juga menegaskan bahwa pelarangan imbal hasil stablecoin tidak benar-benar melindungi bank, karena modal akan tetap mengalir ke aset digital lain yang menawarkan imbal hasil—bahkan mungkin ke aset yang tidak lagi berdenominasi dolar AS.

Armstrong bahkan membawa perdebatan ini ke ranah strategi internasional: "Jika pembuat undang-undang AS terlalu mengatur dan melarang imbal hasil pada stablecoin dolar, mereka akan melemahkan daya saing digital dolar dan memberikan keunggulan kepada yuan digital Tiongkok."

05 Kinerja dan Data Pasar

Di tengah memanasnya perdebatan regulasi, pasar kripto tetap bergerak volatil dan kompleks. Beberapa pemimpin industri justru optimistis terhadap prospek tahun 2026.

Scaramucci dan CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, memprediksi bahwa kebijakan The Fed yang lebih longgar dan pelemahan dolar dapat mendorong reli besar kripto pada 2026.

Scaramucci mengamati, "Minat pencarian terhadap Bitcoin berada di titik terendah dalam sejarah… dan itu justru membuat saya optimistis." Ia percaya dinamika pasar akan sangat dipengaruhi oleh tren makroekonomi.

Sementara itu, GateToken—token asli dari salah satu bursa kripto terbesar dunia—baru-baru ini mencatat kinerja sebagai berikut:

Tanggal Harga Penutupan (USD) Harga Pembukaan (USD) Tertinggi Harian (USD) Terendah Harian (USD) Volume Perubahan (%)
19-01-2026 10,08 10,22 10,22 10,05 846.720 +1,51%
18-01-2026 9,93 10,16 10,21 9,89 804.980 -2,26%
17-01-2026 10,16 10,39 10,49 10,10 735.670 -2,12%
16-01-2026 10,38 10,20 10,43 10,10 908.680 +1,86%
15-01-2026 10,19 10,37 10,58 9,99 1.110.000 -1,64%

Data harga GateToken per 19 Januari 2026. GateToken

06 Dilema Strategis Hegemoni Dolar

Scaramucci menyoroti persoalan strategis yang lebih dalam: dalam konteks persaingan AS-Tiongkok di bidang teknologi dan keuangan, pelarangan imbal hasil stablecoin bisa menjadi kesalahan strategis besar bagi AS.

Dominasi global dolar menguat pasca sistem Bretton Woods, didukung peran sentralnya dalam penyelesaian perdagangan internasional, cadangan devisa, dan penetapan harga komoditas. Namun, status ini tidaklah abadi—dolar harus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan dinamika pasar.

Di era mata uang digital, aturan persaingan moneter tengah mengalami perubahan mendasar. Secara tradisional, daya tarik suatu mata uang bergantung pada kekuatan ekonomi, stabilitas politik, dan kedalaman pasar keuangan negara penerbitnya.

Kini, pengalaman pengguna, kemudahan teknologi, dan potensi imbal hasil menjadi dimensi baru dalam persaingan. Jika stablecoin dolar tertinggal dari yuan digital dalam aspek-aspek ini, status global dolar bisa benar-benar terancam.

Yang lebih krusial, regulasi yang terlalu ketat dapat mendorong inovasi dan modal keluar negeri. Jika AS memberlakukan aturan keras terhadap stablecoin, proyek-proyek terkait bisa saja bermigrasi ke yurisdiksi seperti Singapura, Swiss, atau UEA.

Negara-negara tersebut tengah berlomba menjadi pusat keuangan kripto global, menawarkan lingkungan regulasi yang lebih ramah. Jika penerbitan dan operasional stablecoin dolar beralih ke luar negeri, pengaruh AS atas pasar ini akan berkurang secara signifikan.

Melihat ke Depan

Crypto Innovation Council menegaskan bahwa bank hanya berusaha mempertahankan monopoli yang tidak efisien dan berimbal hasil rendah. Peringatan Scaramucci masih bergema di Washington: "Bank tidak ingin penerbit stablecoin bersaing dengan mereka, sehingga mereka memblokir distribusi imbal hasil."

Sementara itu, di belahan dunia lain, dompet yuan digital diam-diam menghasilkan bunga tahunan sebesar 0,05%. Perang mata uang yang senyap ini mungkin pada akhirnya akan menentukan keseimbangan kekuatan dalam sistem keuangan global selama beberapa dekade ke depan.

Ketika modal global mencari jalur paling mudah, regulasi yang terlalu melindungi kepentingan tradisional pada akhirnya bisa membuat dolar kehilangan keunggulan kompetitifnya di era digital. Timbangan sejarah kini menanti dorongan penentu berikutnya.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten