Yen Jepang baru-baru ini mencatat rebound harian terkuatnya dalam hampir enam bulan, ketika nilai tukar USD/JPY anjlok dari level tertinggi mendekati 160 ke 155,6. Para pengamat pasar segera menyadari bahwa pergerakan ini lebih dari sekadar volatilitas rutin. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, telah mengeluarkan peringatan terkait fluktuasi yen yang dinilai "abnormal". Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa Federal Reserve Bank of New York mulai melakukan penelusuran dengan sejumlah bank besar mengenai nilai tukar yen—langkah yang kerap dianggap sebagai awal dari intervensi terkoordinasi di pasar valuta asing.
Tanda-Tanda Intervensi
Pasar keuangan global tengah mencermati pergerakan tajam yen. Baru-baru ini, yen mencatat performa harian terkuat terhadap dolar dalam hampir enam bulan, memicu spekulasi luas bahwa otoritas Jepang mungkin tengah bersiap melakukan intervensi di pasar FX. Sinyal utama datang dari New York Fed, yang menghubungi sejumlah bank besar terkait nilai tukar yen—langkah yang secara luas diinterpretasikan sebagai tanda aksi terkoordinasi yang segera terjadi.
Arthur Hayes, salah satu pendiri BitMEX, membagikan pandangan menarik terkait situasi ini. Ia berpendapat, jika The Fed benar-benar turun tangan—menciptakan cadangan bank untuk menjual dolar dan membeli yen demi mendukung Jepang—hal tersebut akan sangat "bullish" untuk Bitcoin. Kekhawatiran utama di pasar saat ini adalah posisi short yen yang telah mencapai level tertinggi dalam satu dekade. Jika yen semakin melemah, hal ini dapat memicu gejolak pasar.
Transmisi Likuiditas
Mengapa intervensi FX yang tampaknya jauh dari dunia kripto bisa berdampak pada harga Bitcoin? Jawabannya terletak pada arus modal global dan neraca The Fed.
Arthur Hayes menyoroti pentingnya memantau baris "foreign currency denominated assets" dalam laporan mingguan H.4.1 The Fed. Lonjakan tajam pada kategori ini menandakan The Fed sedang menginjeksi likuiditas dolar ke pasar, kemungkinan melalui skema currency swap. Hayes menyebut ini sebagai "stealth quantitative easing". Berbeda dengan pengumuman publik program QE di masa lalu, injeksi likuiditas melalui intervensi FX ini bersifat "diam-diam", namun efeknya serupa: dolar baru mengalir ke sistem keuangan global.
Rantai logikanya adalah sebagai berikut: The Fed mencetak uang untuk menciptakan cadangan bank → menjual dolar dan membeli yen guna mendukung nilai tukar → dolar baru masuk ke sistem keuangan global → peningkatan likuiditas berpotensi mendorong harga aset berisiko, termasuk kripto.
Korelasi Pasar
Sejarah memberikan konteks bagi situasi saat ini. Melihat kembali pada Plaza Accord tahun 1985 dan intervensi terkoordinasi selama krisis keuangan Asia 1998, aksi bersama yang sukses tidak hanya menstabilkan yen dan melemahkan dolar, tetapi juga sering memicu reli harga aset global. Para analis memperingatkan bahwa intervensi unilateral tanpa koordinasi dapat memaksa Bank of Japan menjual US Treasuries untuk mendapatkan dolar, yang berpotensi mengguncang pasar obligasi global.
Dari perspektif korelasi pasar, Bitcoin menunjukkan korelasi positif yang signifikan dengan yen, dan sering kali korelasi negatif dengan dolar. Dengan demikian, potensi pelemahan dolar dapat membuka peluang repricing besar di pasar kripto. Tentu saja, hal ini juga membawa risiko. Dalam jangka pendek, jika yen melonjak akibat intervensi resmi, posisi leverage yang mengandalkan pinjaman yen murah untuk investasi di aset berisiko dengan imbal hasil tinggi (strategi "yen carry trade") bisa tertekan, memicu deleveraging dan sementara menekan harga saham serta aset seperti Bitcoin.
Perspektif Harga
Di tengah gelombang peristiwa makroekonomi global awal tahun 2026, pasar Bitcoin sendiri berada di titik kritis. Berdasarkan data pasar Gate, per 26 Januari 2026, Bitcoin (BTC) diperdagangkan di harga $87.692,4 dengan fluktuasi 24 jam sebesar -0,25%. Dalam rentang waktu lebih panjang, pasar menunjukkan pola yang kompleks: Harga Bitcoin turun -6,21% dalam 7 hari terakhir, namun masih mencatat kenaikan +3,19% dalam 30 hari terakhir. Kapitalisasi pasar saat ini mencapai $1,79 triliun, setara dengan 56,48% dari total pasar cryptocurrency.
Tingkat ketidakpastian yang tinggi mewarnai lanskap pasar saat ini. Harga opsi menunjukkan perbedaan pendapat yang lebar tentang arah Bitcoin di akhir 2026, dengan probabilitas baik untuk penurunan ke $50.000 maupun lonjakan ke $250.000.
Alex Thorn, Head of Research di Galaxy Digital, mencatat bahwa akses institusional yang semakin luas, pelonggaran kebijakan moneter secara bertahap, dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai non-dolar dapat mendorong Bitcoin diterima secara mainstream—mirip emas—dalam dua tahun ke depan.
Narasi Jepang
Untuk memahami kaitan antara yen dan Bitcoin, perlu melihat evolusi pesat pasar kripto Jepang sendiri. Sebagai kekuatan finansial tradisional, Jepang kini semakin aktif di ranah aset digital. Negara ini telah menyetujui stablecoin yen (JPY) pertama, yang akan membantu menstabilkan pasangan perdagangan yen dan mengurangi volatilitas. Selain itu, mulai 2026, Jepang akan menerapkan tarif pajak tunggal atas keuntungan kripto, menyederhanakan struktur pajak dan mendorong partisipasi yang lebih luas.
Perusahaan Jepang yang terdaftar, MetaPlanet, terus menambah kepemilikan Bitcoin, meniru pendekatan MicroStrategy dan menyoroti tren adopsi institusional. Pelaku pasar perlu memantau likuiditas pasangan perdagangan BTC/JPY serta potensi arus modal dari ETF Bitcoin lokal. Perkembangan domestik ini, yang berpadu dengan peristiwa makro global, menjadikan Jepang sebagai jembatan penting antara pasar FX tradisional dan kripto.
Sementara pasar menantikan pembaruan berikutnya dari laporan H.4.1 The Fed tentang "foreign currency denominated assets", harga Bitcoin bergerak dalam rentang sempit 24 jam antara $86.100 hingga $89.185,2. Beberapa analis bahkan menatap lebih jauh ke tahun 2031, dengan proyeksi Bitcoin dapat mencapai $271.045,28. Terlepas dari volatilitas jangka pendek, kedewasaan pasar kripto dan laju adopsi institusional terus meningkat. Arus modal global tak pernah berhenti—mulai dari dana yang kembali ke pasar obligasi Jepang, hingga modal yang mencari aset safe haven non-sovereign, pergerakan ini secara perlahan membentuk narasi nilai Bitcoin.


