30 Januari 2026—Paul Atkins, Ketua U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), telah mengonfirmasi bahwa program pengecualian inovasi kripto yang sangat dinantikan dan semula dijadwalkan diluncurkan pada Januari, kini ditunda. Dirancang untuk memberikan kejelasan regulasi bagi sekuritas ter-tokenisasi dan DeFi, inisiatif ini kini tertahan, sehingga para pelaku pasar yang mencari kepastian regulasi kembali berada dalam ketidakpastian.
Sementara itu, setelah beberapa kali mengalami kemunduran, Digital Asset Market CLARITY Act Amerika Serikat akhirnya lolos tipis di Komite Pertanian Senat dengan perolehan suara 12 banding 11.
Penundaan Regulasi: Program Pengecualian Inovasi SEC Ditangguhkan
Ketua SEC Paul Atkins baru-baru ini menyatakan, "Kita harus melangkah dengan hati-hati." Program pengecualian yang sebelumnya menimbulkan ekspektasi tinggi ini bertujuan memberikan kejelasan regulasi untuk sekuritas ter-tokenisasi, decentralized finance (DeFi), dan inovasi kripto lainnya. Namun, program tersebut kini ditunda setelah melalui pertimbangan matang. Keputusan ini menandakan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam regulasi kripto di Amerika Serikat. SEC menyatakan akan menunggu perkembangan legislasi dari Kongres, alih-alih melanjutkan pengecualian regulasi secara independen.
Penundaan pengecualian inovasi kripto ini berdampak langsung pada ekspektasi pasar terhadap lanskap regulasi. Bagi institusi yang berencana meluncurkan ekuitas ter-tokenisasi atau proyek token patuh regulasi lainnya, hal ini berarti masa tunggu yang lebih lama dan ketidakpastian yang lebih besar terkait kepatuhan.
Perkembangan Legislasi: Jalan Sulit CLARITY Act dan Polarisasi Partai
Digital Asset Market CLARITY Act merupakan upaya utama Amerika Serikat dalam membangun kerangka regulasi komprehensif untuk kripto. Berdasarkan pembaruan terakhir, RUU ini menjalani tinjauan penting di Komite Pertanian Senat pada 15 Januari 2026.
Salah satu ketentuan utama RUU ini adalah memperjelas pembagian tanggung jawab regulasi antara SEC dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Undang-undang ini memberikan kewenangan kepada CFTC untuk mengawasi komoditas digital dan perantara yang tidak diklasifikasikan sebagai sekuritas, sementara SEC tetap bertanggung jawab atas perdagangan kripto di pasar primer. Hasil pemungutan suara di komite menunjukkan adanya perpecahan politik yang dalam: seluruh anggota Partai Demokrat menolak RUU ini, yang akhirnya lolos dengan selisih tipis 12–11.
Pemerintahan Trump kembali mengaktifkan konsultasi CLARITY yang melibatkan regulator, bank, dan perusahaan kripto, dengan fokus pada koordinasi praktis antara keuangan tradisional dan pasar aset digital. Topik utama yang dibahas meliputi kustodian, tokenisasi, dan batas yurisdiksi.
Sekuritas Ter-tokenisasi: Tantangan Kepatuhan di Tengah Pengawasan Ketat
Seiring pengawasan regulasi yang semakin ketat, sektor sekuritas ter-tokenisasi menghadapi tekanan kepatuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada 23 Januari 2026, Financial Conduct Authority (FCA) Inggris merilis serangkaian proposal regulasi aset kripto yang bertujuan membangun kerangka kerja untuk pembukaan pasar kripto secara resmi pada September 2026.
Proposal FCA memperluas standar keuangan tradisional—seperti Consumer Duty, persyaratan perilaku, penanganan keluhan, dan perlindungan aset—kepada perusahaan aset kripto. Perusahaan diwajibkan memberikan hasil terbaik bagi klien secara transparan dan memastikan investor benar-benar memahami risiko yang terkait.
Di Amerika Serikat, sebuah kelompok kerja yang dibentuk oleh pemerintahan Trump menerbitkan laporan pada Juli 2025 yang merekomendasikan agar Kongres membuat undang-undang untuk memperjelas pembagian pengawasan aset digital antara SEC dan CFTC. Laporan tersebut juga mendorong Kongres untuk "menetapkan supremasi hukum federal atas hukum negara bagian." Tren ini sangat penting bagi pengembangan token patuh regulasi, yang harus beradaptasi dengan lanskap regulasi yang terus berubah sambil menjaga perlindungan investor dan stabilitas pasar.
Respons Bursa: Delisting dan Penyesuaian Standar Kepatuhan
Menanggapi dinamika regulasi yang berubah, bursa kripto utama mulai menyesuaikan standar pencatatan token mereka. Pada 29 Januari 2026, sebuah platform perdagangan terkemuka mengumumkan penghapusan 12 token dari daftar rekomendasi karena tidak memenuhi standar kepatuhan platform.
Token-token tersebut antara lain WIZARD, SHOGGOTH, G, FWOG, dan beberapa lainnya. Pengguna masih dapat menjual token tersebut di platform, namun token-token itu tidak lagi muncul dalam daftar rekomendasi. Langkah ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan bursa untuk memperketat proses peninjauan dan seleksi token di bawah tekanan regulasi.
Seiring terbentuknya kerangka regulasi di Amerika Serikat, sengketa yurisdiksi antara otoritas negara bagian dan federal semakin mencuat. Setidaknya 40 negara bagian telah mengajukan atau mengesahkan legislasi aset digital, sehingga menciptakan lingkungan regulasi yang kompleks dan berlapis.
Di tengah evolusi regulasi global yang terus berlangsung, Gate tetap memprioritaskan kepatuhan dan keamanan aset pengguna sebagai inti operasional, serta secara dinamis menyesuaikan strategi globalnya. Kami telah membangun mekanisme peninjauan pencatatan token yang ketat dan transparan, yang tidak hanya menilai keamanan teknis dan likuiditas pasar, tetapi juga secara proaktif mengevaluasi aspek fundamental kepatuhan untuk memastikan kesesuaian, atau bahkan mengantisipasi, arah regulasi pasar utama. Seiring legislasi di negara bagian Amerika Serikat dan yurisdiksi global lainnya semakin rinci, tim kepatuhan Gate secara aktif memantau perubahan kebijakan dan melakukan peninjauan rutin terhadap proyek yang terdaftar guna menjaga keseimbangan antara dukungan inovasi dan pemenuhan persyaratan regulasi.
Bagi investor, memilih platform perdagangan seperti Gate—yang secara aktif membangun kerangka kepatuhan dan proaktif mengelola risiko pasar—merupakan salah satu cara paling efektif untuk menghadapi ketidakpastian dalam lingkungan regulasi yang kompleks dan dinamis. Kami mendorong pengguna untuk tetap mengikuti pengumuman resmi platform guna memperoleh pembaruan terbaru terkait kepatuhan atas aset yang didukung dan layanan terkait.
Dampak Pasar: Data dan Harga Aset Dipengaruhi Regulasi
Ketidakpastian regulasi berdampak langsung pada harga pasar aset digital. Berdasarkan data pasar Gate, Bitcoin (BTC) tercatat seharga $82.932,5 per 30 Januari 2026, turun 6,10% dalam 24 jam terakhir, dengan volume perdagangan 24 jam sebesar $1,28 miliar. Selama tujuh hari terakhir, harga Bitcoin turun 2,10%, meski masih naik 1,05% dalam 30 hari terakhir. Kapitalisasi pasar total Bitcoin mencapai $1,76 triliun, mencakup 56,29% dari seluruh pasar aset digital.
Ethereum (ETH) juga terdampak sentimen pasar, saat ini diperdagangkan di harga $2.750,08, turun 7,13% dalam 24 jam terakhir, dengan kapitalisasi pasar sekitar $353,69 miliar dan pangsa pasar 11,30%.
Korelasi antara kebijakan regulasi dan harga aset utama semakin kuat. Penundaan kebijakan SEC dan kontroversi seputar CLARITY Act berdampak langsung pada partisipasi investor institusi, sehingga menekan likuiditas pasar. Pasar stablecoin, yang merupakan bagian vital dari ekosistem kripto, juga berada di bawah pengawasan regulasi. Pada Juni 2025, Senat Amerika Serikat mengesahkan GENIUS Act dengan 68 suara setuju, membentuk kerangka regulasi federal pertama untuk stablecoin.
Lanskap global regulasi kripto tengah mengalami perubahan besar—mulai dari penundaan kebijakan SEC di Amerika Serikat hingga proposal baru dari FCA Inggris, regulator di seluruh dunia berupaya menyeimbangkan antara mendorong inovasi dan mengelola risiko. Pasar kripto Amerika Serikat kini berada di persimpangan regulasi. Meskipun CLARITY Act lolos tipis dalam tinjauan komite, fakta bahwa "seluruh anggota Partai Demokrat menolaknya" menandakan jalan legislasi yang penuh tantangan ke depan. Para pelaku pasar mungkin harus beradaptasi dengan lingkungan regulasi yang lebih berhati-hati. Penundaan peluncuran pengecualian inovasi SEC sudah menunjukkan sikap regulator yang lebih waspada terhadap inovasi kripto. Seiring pemerintahan Trump mengaktifkan kembali konsultasi CLARITY, industri menantikan kerangka kerja yang mampu mendorong inovasi sekaligus melindungi investor.


