Indeks Nasdaq anjlok lebih dari 2,6% sesaat setelah bel pembukaan, namun kemudian memangkas kerugian dan ditutup turun 0,72%. Pasar kripto, di sisi lain, mengalami pergerakan yang jauh lebih dramatis—Bitcoin merosot lebih dari 5% dalam satu hari, sempat menyentuh angka $81.000. Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 220.000 trader di seluruh jaringan mengalami likuidasi.
01 Divergensi Pasar
Saat pasar AS dibuka pada 29 Januari, investor dihadapkan pada divergensi yang membingungkan. Dow Jones naik 0,14%, S&P 500 menguat 0,18%, sementara Nasdaq turun tipis 0,13%.
Perbedaan ini semakin nyata di saham teknologi. Meta Platforms melonjak hampir 10% setelah melampaui ekspektasi pada hasil Q4, proyeksi Q1, dan belanja modal sepanjang tahun. Sebaliknya, saham Microsoft anjlok lebih dari 8%, terutama akibat perlambatan pertumbuhan bisnis cloud—turun menjadi 39%—dan belanja modal yang mencapai rekor tertinggi, sehingga memicu kekhawatiran pasar.
Fokus pasar keuangan segera beralih ke saham-saham terkait kripto, yang tanpa pengecualian mengalami penurunan secara luas.
02 Kinerja Saham Kripto
Saham-saham terkait kripto menghadapi tekanan jual yang berat, menjadikannya sektor yang paling terpukul hari itu. Berdasarkan data pasar, MicroStrategy turun 3,89% dan Coinbase merosot 3,97%.
Bahkan MicroStrategy—yang kerap disebut sebagai "ETF Bitcoin dengan leverage" dan perusahaan publik pemilik Bitcoin terbanyak di dunia—tidak luput dari aksi jual.
Perusahaan lain yang terhubung dengan kripto juga mengalami tekanan: CRCL turun 4,02%, SBET kehilangan 1,30%, dan BMNR melemah 3,98%. Penurunan luas ini menandakan bahwa kekhawatiran investor tidak hanya terbatas pada perusahaan tertentu; seluruh sektor menghadapi tekanan sistemik.
Sebaliknya, raksasa teknologi Meta Platforms justru melesat hampir 10% pada hari yang sama.
03 Penurunan Tajam di Pasar Kripto
Penurunan tajam di pasar kripto secara langsung memicu aksi jual di saham-saham terkait. Pada dini hari 30 Januari (waktu Beijing), Bitcoin anjlok lebih dari 5%, sempat menyentuh level $81.000. Kripto utama lainnya ikut tertekan: Ethereum turun lebih dari 6%, begitu juga SOL dan Dogecoin yang masing-masing terkoreksi lebih dari 6%.
Kepanikan pun menyebar dengan cepat. Menurut CoinGlass, sebanyak 227.939 trader di seluruh dunia mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan total volume likuidasi mencapai $1,014 miliar.
Berdasarkan data pasar Gate, per 30 Januari, harga Bitcoin bergerak konsolidasi di kisaran $82.500, dengan penurunan 24 jam sebesar 6,4%. Penurunan tajam pada aset inti ini secara alami menekan kinerja saham-saham terkait.
04 Beragam Faktor yang Berperan
Ketidakpastian geopolitik terus meningkat. Beredar rumor bahwa Presiden AS Trump sedang "mempertimbangkan serangan besar baru terhadap Iran." Iran pun merespons dengan menyatakan "tidak akan memulai perang, namun jika perang diprovokasi, akan membela diri dengan tegas."
Data arus dana mendukung pandangan ini. Bloomberg melaporkan bahwa investor menarik lebih dari $1,3 miliar dari dana terkait Bitcoin dalam sepekan terakhir, memperpanjang tren arus keluar dari ETF kripto.
Analis Citi Group dan Tagus Capital mencatat bahwa fungsi Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi hanya bersifat sesekali. Harga Bitcoin lebih dipengaruhi oleh likuiditas, selera risiko, dan arus masuk ke saham teknologi, daripada keterkaitan yang berkelanjutan dengan pelemahan dolar atau tekanan geopolitik.
Volatilitas pasar kali ini mengungkap tren yang jelas: modal bergerak keluar dari aset kripto berisiko tinggi menuju kelas aset yang lebih defensif.
05 Rotasi Modal
Sementara saham AS secara umum menguat di pembukaan, saham-saham terkait kripto justru anjlok, menyoroti rotasi modal besar-besaran di pasar keuangan global.
Investor institusi mulai meninjau ulang alokasi aset mereka. Beberapa perusahaan kripto mengumumkan rencana untuk mengalokasikan 10% hingga 15% portofolio mereka ke emas fisik. Pergeseran ini secara langsung mencerminkan perubahan sentimen pasar.
Teori investasi yang telah lama dipegang kini sedang diuji. Profesor Cam Harvey dari Duke University sebelumnya menyatakan, "Bitcoin tidak mungkin menggantikan emas sebagai aset safe haven pilihan investor."
Data korelasi historis mengonfirmasi pergeseran ini. Menurut riset Trefis, korelasi Bitcoin dengan kelas aset tradisional dalam 10 tahun, 5 tahun, dan 1 tahun terakhir masing-masing sebesar 26%, 38%, dan 40%. Korelasi yang relatif rendah ini sebelumnya dianggap sebagai keunggulan diversifikasi, namun kini justru menjadi alasan arus keluar modal.
Prospek
Setelah mencetak rekor tertinggi, harga emas dan perak sama-sama berbalik tajam, dengan penurunan intraday masing-masing lebih dari 5% dan 8%.
Kepemilikan di ETF emas terbesar dunia—SPDR Gold Trust—naik mendekati level tertinggi dalam hampir empat tahun, menandakan minat investor terhadap aset safe haven tradisional kembali menguat.
Di tengah ketidakpastian global yang berlanjut, modal terus mengalir keluar dari aset berisiko tinggi seperti kripto dan saham teknologi, kembali ke emas, perak, dan investasi tradisional lainnya—memicu volatilitas pasar yang semakin intens.


