Pasar kripto baru saja mengalami hari perdagangan yang dramatis. Berdasarkan data yang dibagikan oleh analis ETF Bloomberg, Eric Balchunas, ETF Bitcoin spot milik BlackRock—IBIT—mencatat lonjakan volume perdagangan hingga mendekati $10 miliar, menetapkan rekor baru untuk volume harian sejak peluncurannya, meskipun harga turun 13% dalam satu hari.
Pada saat yang sama, harga Bitcoin mengalami penurunan tajam secara intraday hampir 15%, merosot dari harga pembukaan sekitar $73.100 menjadi sekitar $62.400. Ini merupakan kali pertama dalam 15 bulan terakhir Bitcoin jatuh di bawah ambang $70.000.
Dinamika Pasar
Di pasar keuangan tradisional, volume perdagangan yang tinggi umumnya dipandang sebagai sinyal positif atas partisipasi aktif investor. Namun, situasi di pasar kripto pada awal Februari menunjukkan hal yang berbeda.
ETF Bitcoin spot milik BlackRock, yakni iShares Bitcoin Trust, mencatat rekor volume perdagangan harian yang menakjubkan sebesar $10 miliar, meskipun harganya turun tajam sebesar 13%. Angka ini jauh melampaui rekor sebelumnya sekitar $8 miliar, sementara volume perdagangan harian biasanya hanya beberapa miliar dolar.
Data tersebut menunjukkan bahwa ini lebih dari sekadar kebetulan statistik. Bitcoin mengalami penurunan harga yang sangat cepat pada hari itu, dari pembukaan sekitar $73.100 ke titik terendah sekitar $62.400—penurunan hampir 15%. Artinya, meski harga turun tajam, investor tetap sangat aktif dalam perdagangan ETF, menciptakan fenomena pasar yang unik.
Mekanisme Pasar di Balik Data
Analisis data kedalaman pasar mengungkap beberapa dimensi dari aksi jual ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan Bloomberg, IBIT telah mencatat volume perdagangan di atas $5 miliar beberapa kali selama beberapa minggu berturut-turut penurunan harga kripto. Penting untuk dicatat, ini bukan peristiwa yang terisolasi. Total kapitalisasi pasar kripto telah menyusut dari lebih dari $3 triliun pada akhir Januari menjadi sekitar $2,16 triliun, mencerminkan penyesuaian pasar secara luas.
Selama periode penurunan ini, Bitcoin menembus beberapa level harga psikologis penting. Kehilangan level $70.000 dipandang sangat simbolis. Shiliang Tang, Managing Partner di Monarq Asset Management, menekankan bahwa level harga ini memiliki bobot politik dan psikologis yang signifikan. Banyak pengamat pasar meyakini bahwa penurunan di bawah $70.000 dapat memicu gelombang penjualan yang lebih luas.
Institusi vs. Investor Ritel
Dalam periode gejolak pasar ini, perilaku investor institusi dan ritel tampak sangat berbeda. Data on-chain menunjukkan terjadinya "transfer kelas" besar-besaran atas kepemilikan kripto. Alamat yang memegang kurang dari satu Bitcoin—umumnya investor ritel—melakukan aksi jual agresif saat harga turun, sedangkan dompet "whale" dengan kepemilikan Bitcoin besar justru aktif mengakumulasi, menambah posisi mereka di tengah kepanikan penjualan oleh investor ritel.
Sementara itu, arus masuk ke ETF Bitcoin yang terdaftar di AS mengalami fluktuasi signifikan, dengan permintaan institusi menunjukkan ketidakpastian yang nyata. Data Bloomberg mengindikasikan bahwa setelah arus masuk bersih sekitar $562 juta pada hari Senin, lebih dari $800 juta keluar dari ETF tersebut dalam dua hari perdagangan berikutnya.
Prospek Harga Bitcoin: Jangka Pendek dan Panjang
Menurut data pasar Gate, per tanggal 6 Februari 2026, harga Bitcoin tercatat di $64.796,1, dengan volume perdagangan 24 jam sebesar $1,95 miliar dan kapitalisasi pasar sebesar $1,56 triliun. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin berubah sebesar -10,67%, dan dominasi pasar mencapai 56,80%.
Berdasarkan data dan analisis pasar saat ini, beberapa skenario dapat terjadi untuk harga Bitcoin ke depan:
Skenario bearish (probabilitas 20%): Jika inflasi AS tiba-tiba meningkat di luar kendali sehingga memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga kembali, atau jika gelembung AI pecah dan memicu kejatuhan pasar saham global, Bitcoin bisa menguji level support $60.000.
Skenario dasar (probabilitas 50%): Pasar akan mencapai titik terendah pada kuartal I, dengan Bitcoin diperdagangkan antara $82.000 hingga $92.000. Ketika likuiditas global terbuka, harga berpotensi menguat menuju $150.000 pada akhir tahun.
Skenario bullish: Berdasarkan data platform Gate, analis memprediksi bahwa pada tahun 2026, harga rata-rata Bitcoin dapat mencapai $78.559,7, dengan rentang fluktuasi antara $58.134,17 hingga $85.630,07. Pada tahun 2031, harga Bitcoin diperkirakan naik ke $210.873,2, yang berarti potensi imbal hasil sebesar +108,00% dibandingkan level saat ini.
| Periode Waktu | Harga Terendah | Harga Tertinggi | Harga Rata-rata | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| 2026 | $58.134,17 | $85.630,07 | $78.559,7 | — |
| 2027 | $66.496,85 | $122.321,38 | $82.094,88 | +4,00% |
| 2031 | $89.907,18 | $210.873,2 | $163.467,6 | +108,00% |
Krisis Likuiditas dan Divergensi Pasar
Perubahan likuiditas menjadi faktor kunci dalam memahami dinamika pasar saat ini. Menurut data Kaiko, kedalaman pasar Bitcoin telah turun lebih dari 30% dari puncaknya pada Oktober tahun lalu. Terakhir kali likuiditas serendah ini terjadi adalah setelah kejatuhan FTX pada 2022, dan kontraksi likuiditas pasar secara luas kemungkinan mendorong penurunan harga saat ini.
Pasar menunjukkan tanda-tanda divergensi yang jelas: produk institusi besar tetap berkinerja kuat, sementara pasar secara keseluruhan menghadapi tantangan. IBIT masih menjadi ETF Bitcoin spot terbesar dengan aset sekitar $56 miliar, meskipun total pasar kripto telah turun dari kapitalisasi puncak lebih dari $3 triliun.
Kripto dalam Konteks Makro
Perubahan lingkungan makro memberikan dampak besar pada pasar kripto. Berita bahwa Trump telah mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya memicu penjualan Bitcoin lebih lanjut.
Warsh dikenal dengan sikap hawkish terhadap inflasi, dan pencalonannya dapat mengurangi ekspektasi pelonggaran Fed di masa depan. Di saat yang sama, korelasi antara kripto dan aset berisiko tradisional semakin meningkat. Bitcoin menunjukkan keterkaitan yang lebih kuat dengan saham teknologi—ketika Nasdaq turun, Bitcoin biasanya jatuh lebih tajam; saat saham teknologi rebound, kenaikan Bitcoin juga lebih menonjol.
Dengan Bitcoin kembali jatuh di bawah ambang psikologis $70.000, pasar diliputi suasana yang kompleks. Baru beberapa hari lalu, BlackRock mengajukan pendaftaran iShares Bitcoin Premium Income ETF, berencana menghasilkan imbal hasil bagi investor dengan menjual opsi covered call.
Kini, dengan Bitcoin diperdagangkan di kisaran $64.796, muncul perdebatan baru: Apakah keuangan terdesentralisasi yang dijanjikan oleh revolusi blockchain pada akhirnya hanyalah bentuk baru dari kontrol terpusat? Premi Coinbase yang terus negatif dalam beberapa pekan terakhir mengindikasikan institusi AS masih melakukan penjualan, sementara investor ritel global berupaya "menangkap pisau jatuh." Ketika gelombang likuiditas berikutnya benar-benar tiba, akankah modal terus mengalir ke Bitcoin yang telah terinstitusionalisasi, atau justru mencari aset baru yang benar-benar merepresentasikan semangat desentralisasi?


