Stripe tengah mempersiapkan penawaran tender baru yang akan mendorong valuasinya setidaknya mencapai $140 miliar. Ini menandai kenaikan lebih dari $30 miliar dari valuasi tahun lalu yang sekitar $107 miliar—sebuah lonjakan yang signifikan.
Sejak 2024, raksasa pembayaran ini kerap menggunakan penawaran tender untuk menyediakan likuiditas bagi karyawan dan investor awal, alih-alih memilih IPO tradisional. Meski valuasi terus melambung, salah satu pendiri sekaligus presiden Stripe, John Collison, secara terbuka menyatakan pada Januari lalu bahwa ia puas dengan status perusahaan yang masih privat dan "masih belum terburu-buru untuk go public."
Penawaran Tender: Jalur Alternatif Menuju Pertumbuhan Nilai Pasar
Penawaran tender telah menjadi pilar utama dalam strategi permodalan unik Stripe. Menurut sumber yang mengetahui hal ini, kesepakatan terbaru Stripe akan memungkinkan pemegang saham yang sudah ada—terutama karyawan dan investor awal—menjual saham mereka di pasar sekunder. Skema ini akan meningkatkan valuasi implisit Stripe menjadi setidaknya $140 miliar, naik lebih dari $30 miliar dari valuasi sekitar $107 miliar pada 2024.
Sebagai bentuk transaksi ekuitas sekunder, penawaran tender secara cerdas menjawab kebutuhan likuiditas mendesak para pemegang saham di perusahaan privat. Bagi karyawan Stripe yang telah bekerja bertahun-tahun dan mengumpulkan insentif ekuitas yang substansial, mekanisme ini memungkinkan kekayaan di atas kertas mereka secara berkala berubah menjadi uang tunai nyata. Hal ini memungkinkan Stripe tetap privat sembari terus menarik dan mempertahankan talenta terbaik. Perusahaan pun terhindar dari pengawasan regulasi yang ketat, tekanan pelaporan laba kuartalan, dan volatilitas pasar publik yang biasanya menyertai status perusahaan terbuka, sehingga dapat lebih fokus pada strategi jangka panjang.
Bangkit dari Titik Terendah: Logika Pemulihan Valuasi Stripe
Kebangkitan valuasi Stripe menjadi contoh klasik yang patut dicermati. Pada Maret 2023, valuasi perusahaan ini sempat anjlok hingga hanya $50 miliar dalam satu putaran pendanaan—penurunan tajam dari puncak $95 miliar pada 2021. Namun, dengan fokus pada profitabilitas, memperdalam inovasi fintech berbasis AI, dan ekspansi global, Stripe dengan cepat kembali ke jalur pertumbuhan.
Pada awal 2025, melalui penjualan saham karyawan, valuasinya telah pulih menjadi $91,5 miliar. Stripe mengungkapkan bahwa mereka memproses pembayaran senilai $1,4 triliun sepanjang 2024, meningkat 38% secara tahunan, memberikan landasan kinerja yang kuat bagi pemulihan valuasinya. Fundamental bisnis yang solid dan optimisme pasar terhadap prospek jangka panjang infrastruktur pembayaran memungkinkan valuasi Stripe melonjak dari sekitar $107 miliar menjadi setidaknya $140 miliar hanya dalam waktu satu tahun.
Fondasi Bisnis: Integrasi Mendalam dalam Ekonomi Digital Global
Valuasi Stripe ditopang oleh fondasi bisnisnya yang tak tergantikan. Sebagai perusahaan infrastruktur pembayaran "developer-first", API Stripe yang ringkas dan efisien memungkinkan bisnis di seluruh dunia dengan mudah mengintegrasikan kemampuan pembayaran daring.
Saat ini, layanan Stripe jauh melampaui sekadar pemrosesan pembayaran online. Stripe telah berkembang menjadi seperangkat alat komprehensif yang mencakup penagihan langganan, deteksi penipuan, pengendalian risiko, perangkat keras point-of-sale, hingga rekening keuangan. Perusahaan ini melayani "setengah dari Fortune 100", dengan klien mulai dari raksasa teknologi seperti Amazon dan Shopify hingga jutaan usaha kecil dan menengah.
Pada 2024, Stripe mencapai profitabilitas penuh selama setahun, menandakan kemampuan swadaya yang kuat. Sembari mengoptimalkan operasional, Stripe juga melakukan penyesuaian struktural yang memengaruhi sekitar 300 karyawan (sekitar 3,5% dari total tenaga kerja), namun juga mengumumkan perekrutan berkelanjutan untuk menyempurnakan struktur talenta dan mendukung pertumbuhan ke depan.
Strategi Mendalam: Ambisi dan Langkah Stripe di Dunia Kripto
Berlawanan dengan persepsi umum sebagai "perusahaan pembayaran", Stripe secara senyap menjalankan strategi mendalam di bidang kripto dan blockchain. Hal ini bisa jadi merupakan faktor kunci lain di balik ekspektasi valuasi ultra-tinggi perusahaan ini.
Stripe tengah membangun jaringan blockchain miliknya sendiri, Tempo. Blockchain Layer 1 yang sangat dinantikan ini diluncurkan di testnet publik pada Desember 2025 dan dijadwalkan meluncur di mainnet pada 2026. Tempo bukanlah proyek yang berdiri sendiri; daftar mitranya bertabur nama besar, termasuk Anthropic, OpenAI, Shopify, Visa, dan pemimpin industri lainnya. Menariknya, Klarna, perusahaan "beli sekarang, bayar nanti" terkemuka, telah mengumumkan rencana untuk meluncurkan stablecoin KlarnaUSD di jaringan Tempo pada 2026.
Untuk memperkuat infrastruktur pembayaran kripto, Stripe merampungkan dua akuisisi penting pada 2024: platform infrastruktur Bridge dan penyedia dompet kripto Privy, dengan tujuan mengintegrasikan stablecoin lebih erat ke dalam bisnis pembayaran inti mereka.
Perbandingan Langsung: Persaingan Kripto di Fintech dan Paradigma Valuasi Baru
Ketika Stripe memimpin sektor fintech dengan valuasi $140 miliar, pasar kripto tradisional juga mengalami pergeseran struktural. Per 10 Februari 2026, Harga Bitcoin berada di angka $70.059,3 dengan kapitalisasi pasar $1,41 triliun; Harga Ethereum tercatat $2.104,73 dengan kapitalisasi pasar $252,82 miliar.
Strategi kripto Stripe bukanlah hal yang unik—ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas di kalangan raksasa fintech. Pemimpin pembayaran PayPal meluncurkan stablecoin miliknya sendiri, PYUSD, pada 2023. Hingga 2025, suplai beredarnya telah melonjak 600% menjadi $3,6 miliar.
Bank baru Revolut dan platform perdagangan Robinhood juga memperluas tim dan lini produk kripto mereka pada 2026, secara aktif merangkul aset digital. Inti dari persaingan ini adalah siapa yang mampu menghadirkan infrastruktur generasi berikutnya untuk pembayaran lintas batas triliunan dolar, penyelesaian korporasi, dan aset digital yang tengah berkembang.
Menatap Masa Depan: Menjelang Konvergensi Fintech dan Kripto
Ke depan, jalur perkembangan raksasa fintech seperti Stripe akan sangat memengaruhi arus modal global. Penggunaan penawaran tender alih-alih IPO untuk menyediakan likuiditas menunjukkan bahwa perusahaan teknologi papan atas, dengan dukungan modal privat yang melimpah, dapat tetap privat, gesit, dan fokus. Perkembangan proyek blockchain-nya, Tempo, akan menjadi jendela utama untuk melihat bagaimana fintech tradisional bertransformasi dengan jaringan terdesentralisasi. Jika berhasil, Tempo bisa menjadi bukan sekadar blockchain baru, melainkan jembatan yang menghubungkan puluhan juta klien bisnis yang sudah ada ke ekosistem kripto.
Bagi industri secara keseluruhan, batas antara pembayaran, mata uang kripto, dan layanan keuangan tradisional semakin kabur. Platform yang mampu mengintegrasikan ketiganya secara mulus dan menawarkan solusi keuangan global yang hemat biaya dan efisien akan mendefinisikan lanskap infrastruktur keuangan dekade mendatang.
Lampu-lampu di kantor pusat Stripe masih menyala hingga larut malam. Para engineer sibuk menguji fase berikutnya dari blockchain Tempo, sementara tim keuangan menyiapkan dokumen untuk penawaran tender yang akan datang. Analis Wall Street memperbarui model valuasi mereka dan berspekulasi seberapa dekat Stripe dengan momen IPO. Sementara itu, di platform perdagangan global seperti Gate, para investor dengan cermat merasakan setiap resonansi halus antara keuangan tradisional dan dunia kripto melalui pergerakan harga Bitcoin dan Ethereum secara real-time.


