13 Februari 2026 — Setelah mengalami koreksi tajam di awal tahun, pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan. Namun, titik awal pemulihan ini terlihat sangat berbeda bagi para partisipan di berbagai ETF spot. Berdasarkan laporan terbaru dari analis Bloomberg dan data on-chain, pemegang ETF Ethereum menghadapi tekanan kerugian belum terealisasi yang jauh lebih besar dibandingkan pemegang ETF Bitcoin. Dengan mengacu pada data pasar terkini dari Gate per 13 Februari 2026, artikel ini akan mengulas secara mendalam perbedaan mendasar antara dua kelompok utama pemegang ETF kripto, dengan fokus pada basis biaya, besaran penurunan nilai, dan struktur pasar.
Kontras yang Mencolok
Per 13 Februari 2026, data pasar Gate menunjukkan:
- Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada harga $66.580,7, dengan volume perdagangan 24 jam sebesar $768,22 juta, kapitalisasi pasar $1,31 triliun, dan dominasi pasar 55,42%.
- Ethereum (ETH) diperdagangkan pada harga $1.947,19, dengan volume perdagangan 24 jam sebesar $205,33 juta, kapitalisasi pasar $233,26 miliar, dan dominasi pasar 9,80%.
Dari sisi performa harga, BTC dan ETH telah mengalami rebound masing-masing sebesar +4,97% dan +5,92% dalam 7 hari terakhir, tampak bergerak seirama. Namun, jika melihat struktur biaya bagi pemegang ETF, gambaran yang muncul sangat berbeda.
Analis Bloomberg Intelligence, James Seyffart, mengungkapkan bahwa rata-rata basis biaya investor ETF spot Ethereum di AS berada di kisaran $3.500, sementara harga ETH saat ini telah turun lebih dari 50% di bawah level tersebut. Sebaliknya, rata-rata basis biaya investor ETF Bitcoin sekitar $84.063, dengan harga BTC saat ini di $66.580,7, yang berarti penurunan sekitar 20,8%.
Dengan kata lain, kedalaman kerugian belum terealisasi bagi pemegang ETF Ethereum adalah 2,5 kali lebih besar dibandingkan pemegang ETF Bitcoin. Ini bukan sekadar perbedaan angka—ETH perlu reli hingga 80% hanya untuk kembali ke rata-rata basis biaya ETF, sedangkan BTC hanya membutuhkan kenaikan 26%.
Skala Sebenarnya dari Bagholding: Perspektif AUM
Penurunan aset kelolaan ETF (AUM) menjadi ukuran langsung tingkat tekanan investor. Berdasarkan data SoSoValue, total aset bersih ETF spot Bitcoin AS turun dari puncak $170 miliar pada Oktober 2025 menjadi sekitar $85,76 miliar saat ini—penurunan sekitar 49,5%. Menariknya, meskipun AUM berkurang setengahnya, hanya sekitar 6% aset ETF Bitcoin yang benar-benar keluar selama periode penurunan ini. Hal ini menunjukkan sebagian besar pemegang ETF BTC memilih bertahan, bukan melakukan panic selling secara masif.
Sebaliknya, AUM ETF Ethereum anjlok dari puncak $30,5 miliar menjadi $11,27 miliar—penurunan drastis sebesar 63%. Yang lebih mengkhawatirkan, arus masuk bersih ke ETF Ethereum hanya turun sekitar $3 miliar. Sekilas, ini tampak seolah-olah pemegang enggan menjual, namun interpretasi lebih dalam menunjukkan likuiditas ETF ETH tipis dan minimnya modal baru yang mampu menyerap tekanan jual.
Saat ini, pasar kripto berada pada fase zero-sum, dengan aliran modal utama mengarah ke Bitcoin yang memiliki konsensus lebih kuat dan narasi yang lebih jelas. Ethereum menghadapi tantangan struktural, termasuk terjadinya value leakage ke solusi Layer 2 dan narasi peningkatan jaringan yang mulai melemah.
Mengapa Pemegang ETF ETH Lebih Sulit Balik Modal?
Basis Biaya Tinggi, Ambang Pemulihan Terjal
Seperti telah disebutkan, sebagian besar posisi ETF Ethereum dibuka pada akhir 2024 hingga awal 2025, saat ETH berada di kisaran $3.200–$3.800. Dengan harga ETH di Gate saat ini $1.947,19, ETH harus naik 79,7% hanya untuk mencapai titik impas.
Prediksi harga Ethereum versi Gate memperkirakan rata-rata harga ETH tahun 2026 di $1.936,98, dengan proyeksi tertinggi $2.324,37. Bahkan dalam skenario paling optimis, masih ada gap lebih dari $1.175 menuju titik impas $3.500. Artinya, mayoritas pemegang ETF Ethereum kemungkinan besar belum akan meraih keuntungan pada tahun 2026.
Arus Modal Bernuansa Bearish
Data Ecoinometrics menunjukkan baik ETF Bitcoin maupun Ethereum sama-sama mengalami arus keluar bersih 30 hari bergulir negatif selama 90 hari berturut-turut. Bedanya, arus keluar ETF BTC merupakan kombinasi profit taking dan panic selling, sedangkan arus keluar ETF ETH lebih didorong oleh capitulation dan stop-loss.
ETF Ethereum menghadapi dilema ganda: tidak mampu menarik modal risk-off seperti ETF Bitcoin, juga tidak dapat mereplikasi narasi boom aplikasi on-chain seperti 2023–2024. Tanpa pertumbuhan pengguna baru atau pendapatan protokol, narasi "ultrasound money" ETH mulai dipertanyakan.
Struktur Pasokan: Tak Terbatas vs. Langka
Pasokan Bitcoin dibatasi hanya 21 juta, dengan 19,98 juta sudah beredar, memperkuat narasi deflasi dan "emas digital". Sebaliknya, meski Ethereum sempat mengalami fase deflasi, aktivitas jaringan yang menurun mendorong total pasokan ETH kembali naik ke 120,69 juta tanpa batas maksimum.
Alasan mendasar ETF Ethereum sulit menarik modal jangka panjang adalah narasi "minyak digital" yang kehilangan daya tarik di tengah kondisi makro yang mengetat, serta ketiadaan batas pasokan yang menyulitkan pemegang ETF membangun keyakinan kelangkaan seperti pada Bitcoin.
Pasar Sudah Menyentuh Dasar, Namun Pemulihan Tidak Merata
Sebagian besar pelaku pasar meyakini pasar kripto telah menemukan titik dasar jangka pendek—dan data Gate menunjukkan BTC dan ETH sama-sama rebound lebih dari 5% dari level terendah awal Februari—namun reli saat ini masih didominasi oleh Bitcoin.
Satu indikator utama: dominasi pasar Bitcoin kini berada di 55,42%, naik hampir 10 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Ini menandakan bahwa meskipun pasar pulih, arus modal kembali mengalir ke Bitcoin terlebih dahulu, bukan ke Ethereum atau blockchain pesaing lainnya.
Bagi pemegang ETF Ethereum, ini menjadi realita yang cukup pahit: saat pasar naik, ETH tertinggal dari BTC; saat pasar turun, ETH jatuh lebih dalam dari BTC. Analis Bloomberg, Eric Balchunas, mencatat bahwa meski AUM ETF IBIT milik BlackRock turun setengah dari puncak $100 miliar menjadi $51 miliar, ETF ini tetap menjadi salah satu yang tercepat dalam sejarah menembus $60 miliar aset. Sementara itu, ETF Ethereum belum menunjukkan ketahanan serupa.
Kesimpulan: ETF Bukan Akhir Segalanya—Narasi Adalah Kunci
Per 13 Februari 2026, Bitcoin dan Ethereum masing-masing diperdagangkan pada $66.580,7 dan $1.947,19. Pemegang ETF Bitcoin menanti titik balik likuiditas dan perubahan suku bunga makro, sementara pemegang ETF Ethereum perlu lebih bersabar—bukan sekadar menunggu rebound pasar, tetapi juga menanti ekosistem Ethereum kembali membuktikan kemampuannya menangkap nilai.
Di Gate, kami terus menyediakan data pasar real-time yang transparan dan analisis mendalam bagi pengguna. Baik di pasar bullish maupun bearish, memahami struktur biaya aset Anda dan arah arus modal adalah kunci untuk menavigasi setiap siklus pasar.


