Mengapa Eskalasi Ketegangan di Selat Hormuz Menyebabkan Tren Berlawanan di Pasar Saham Global dan Pasar Kripto?

Pasar
Diperbarui: 2026-03-04 10:48

28 Februari 2026: Ketika koalisi AS-Israel meluncurkan Operasi "Epic Fury" terhadap Iran, Selat Hormuz—salah satu koridor energi paling krusial di dunia—kembali menjadi sorotan utama. Menanggapi hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan penutupan selat dan mengancam akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melintas. Gelombang kejut geopolitik ini segera merambat ke pasar keuangan global, namun menghasilkan dampak yang tidak biasa: pasar saham global dan kripto justru bergerak terpisah, tidak lagi sejalan. Per 4 Maret 2026, berdasarkan data pasar Gate, harga Bitcoin tercatat di $71.650, naik 8% dalam 24 jam. Di tengah tekanan luas pada pasar tradisional, Bitcoin menunjukkan ketahanan luar biasa, memperlihatkan perilaku "anti-drop" yang unik alih-alih sekadar sifat "safe haven" yang selama ini diharapkan dari "emas digital".

Latar Belakang dan Garis Waktu Konflik

Konflik ini termasuk yang paling intens dalam beberapa tahun terakhir. Pada 28 Februari, koalisi AS-Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei. Peristiwa ini secara fundamental mengubah sifat kebuntuan. Dengan struktur kekuasaan inti yang hancur, Iran segera memainkan kartu trufnya—Selat Hormuz.

Pada 2 Maret, seorang penasihat komandan IRGC menyatakan bahwa semua kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz akan menjadi target, memperketat blokade. Sebagai titik pengiriman minyak paling vital di dunia, Selat Hormuz menangani sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari, hampir 20% dari pasokan global. Langkah Iran bertujuan mengeskalasi krisis regional menjadi krisis global, memaksa intervensi internasional.

AS merespons dengan cepat. Pemerintahan Trump mengumumkan asuransi dan pengawalan laut bagi kapal tanker yang melintasi selat, sehingga membantu meredakan ketakutan ekstrem pasar atas gangguan pasokan. Harga minyak, dolar, dan imbal hasil Treasury AS semuanya turun tajam dari level tertinggi. Kedua pihak tetap berada dalam kebuntuan yang tegang, sementara pasar mencari arah di tengah ketidakpastian ekstrem.

Data Pasar dan Analisis Struktural: Divergensi Kinerja Aset

Kinerja pasar pasca konflik jelas menunjukkan perubahan karakteristik kelas aset.

Saham global mengalami pukulan berat. Pasar Asia-Pasifik terkena dampak pertama, dengan KOSPI Korea Selatan anjlok 6% pada pembukaan 4 Maret, memicu penghentian perdagangan algoritmik. Pada 2 Maret, KOSPI sudah turun 7,24%, menghapus sekitar $257 miliar nilai pasar dalam sehari. Nikkei 225 jatuh di bawah 55.000, turun lebih dari 2%. Analis HSBC Private Banking mencatat bahwa jika konflik berlarut, saham Eropa akan tertinggal dibanding AS dan Asia, dengan saham siklikal menghadapi tekanan lebih besar.

Komoditas dan dolar bergerak "berlawanan intuisi". Pada tahap awal konflik, emas melonjak ke $5.418, namun kemudian turun lebih dari 4% bersama saham, sementara penurunan harian perak mendekati 8%. Di sisi lain, Indeks Dolar AS naik 1,1%, menandai kenaikan harian terbesar dalam beberapa bulan. Ini mematahkan narasi sederhana "beli emas saat krisis". Penyebab utamanya adalah krisis likuiditas: ketika seluruh pasar menghadapi margin call atau likuidasi paksa, dolar—sebagai kolam likuiditas terdalam di dunia—menjadi satu-satunya "safe harbor" sejati. Modal keluar dari semua aset, termasuk emas, dan masuk ke dolar.

"Rally independen" kripto. Berdasarkan data pasar Gate per 4 Maret 2026, harga Bitcoin berada di $71.650, naik 8% dalam 24 jam. Kenaikan ini menonjol di tengah kejatuhan saham global dan tekanan pada emas. Bitcoin tidak melonjak dan jatuh seperti aset safe haven tradisional, juga tidak mengikuti aset berisiko dalam aksi jual. "Rally independen" ini menyoroti sifat Bitcoin yang terus berkembang: pasar sedang bereksperimen dengan posisinya sebagai "hedge geopolitik", dan meski narasi ini belum sepenuhnya terbentuk, aliran modal nyata mulai membuktikan logikanya.

Membedah Sentimen Pasar

Tiga pandangan utama muncul untuk menjelaskan divergensi pasar ini:

Pandangan 1: Uji Stres Narasi Gagal. Selama bertahun-tahun, pasar mengadopsi "currency debasement trade" besar: spiral utang AS akan mendevaluasi dolar, sehingga emas dan Bitcoin menjadi lindung nilai terbaik sebagai aset keras. Konflik ini menjadi uji stres nyata bagi narasi tersebut—dan hasilnya mengecewakan. Dalam krisis sesungguhnya, insting pertama adalah lari ke dolar, bukan menjauhinya. Ini menunjukkan bahwa "de-dolarisasi" adalah variabel lambat, sementara krisis likuiditas adalah variabel cepat—dan variabel cepat selalu sementara mengungguli variabel lambat.

Pandangan 2: Rotasi Modal dan Penilaian Ulang Atribut. Perspektif lain menyatakan bahwa pemisahan kripto dari saham teknologi bukanlah kebetulan. Data menunjukkan selama tiga bulan terakhir, ETF Bitcoin spot mengalami arus keluar bersih hampir $3 miliar, sementara ETF bertema emas mencatat arus masuk bersih lebih dari $20 miliar. Ini mengindikasikan spekulasi ritel telah berotasi dari kripto ke saham dan produk tematik lain. Di saat yang sama, aset kripto secara sistematis dikeluarkan dari portofolio "aset berisiko", dengan volatilitasnya semakin mirip emas dan komoditas. Kekuatan penetapan harga independen sebagai "aset teknologi" mulai memudar.

Pandangan 3: Kerusakan Mikrostruktur. Beberapa analis menunjuk respons pasar kripto yang tenang sebagai gejala kerapuhan internal. Peristiwa likuidasi pasar Oktober 2025 telah merusak sejumlah market maker, mengurangi kedalaman pasar. Ketika terjadi guncangan eksternal, penemuan harga melemah, digantikan oleh kekosongan likuiditas, sehingga harga berosilasi dalam rentang sempit.

Meneliti Kebenaran di Balik Narasi

Konflik ini telah menembus dua narasi inti kripto.

Bubble 1: Bitcoin sebagai "Emas Digital". Narasi ini mendapat ujian berat dalam krisis saat ini. Emas memang sempat menunjukkan permintaan safe haven, namun penurunan akhirnya terjadi karena perannya sebagai aset paling likuid untuk ditukar dengan dolar. Bitcoin tidak mengalami lonjakan awal seperti emas, juga tidak mengalami penurunan tajam—"ketahanannya" justru menandakan relevansi yang marginal. Ketika pasar sangat membutuhkan safe haven, Bitcoin lebih bertindak sebagai aset pinggiran dengan korelasi likuiditas makro yang lemah, bukan alat lindung nilai utama.

Bubble 2: Kripto sebagai Dunia Paralel Finansial Tradisional. Kenyataannya justru sebaliknya: kripto kini lebih bergantung pada likuiditas dolar daripada sebelumnya. Ketika rial Iran anjlok lebih dari 30%, hal pertama yang dilakukan warga lokal dengan kripto adalah mengonversinya ke USDT dan USDC—pada dasarnya, lari ke dolar. Ini menunjukkan bahwa kripto, dalam banyak hal, hanyalah tambalan atas kekurangan fiat, bukan disruptor.

Analisis Dampak Industri

Divergensi pasar kali ini memiliki implikasi mendalam bagi perkembangan jangka panjang industri kripto.

Atribut aset sedang dinilai ulang secara fundamental. Pasar mulai menghapus "tech growth premium" yang tidak berdasar dari aset kripto. Sebelumnya, investor menilai kripto seperti perusahaan teknologi tahap awal, mengharapkan imbal hasil eksponensial dari pertumbuhan pengguna dan ekspansi ekosistem. Namun, saat terjadi guncangan makro, pasar menyadari aset ini tidak menghasilkan arus kas eksternal dan nilainya sangat bergantung pada arus modal yang berkelanjutan. Akibatnya, kripto kembali dari "proxy Nasdaq high-beta" menjadi aset yang lebih mirip komoditas, dengan penetapan harga semakin didorong oleh dinamika penawaran-permintaan dan likuiditas makro.

Kerentanan struktural terungkap. Episode ini kembali membuktikan bahwa kedalaman dan ketahanan pasar kripto masih belum cukup untuk menghadapi guncangan eksternal secara mandiri. Kerusakan jaringan market maker, leverage berlebihan, dan kurangnya kerangka penilaian konsensus semuanya menghambat pasar dalam menjalankan fungsi penemuan harga saat krisis geopolitik. Pengembangan industri yang berkelanjutan membutuhkan produk dengan fundamental nyata, bukan sekadar hype naratif.

Percepatan pergeseran menuju infrastruktur. Seiring memudarnya narasi "membangun dunia baru", nilai blockchain sebagai infrastruktur keuangan semakin nyata. Pengembangan patuh RWA (Real World Assets) dan stablecoin mulai menanamkan kurva imbal hasil dunia nyata ke dalam kripto, memberi pasar pengalaman pertama dukungan nilai yang tidak sepenuhnya bergantung pada spekulasi. Meski transisi ini mungkin tidak memicu pertumbuhan eksplosif, namun dapat secara signifikan mengurangi kerapuhan sistemik.

Analisis Skenario: Beragam Kemungkinan

Berdasarkan dinamika saat ini, evolusi kebuntuan Hormuz akan langsung membentuk arah kripto. Mengacu pada analisis skenario dari institusi terkemuka, berikut tiga jalur kemungkinan:

Skenario 1: Mereda dalam Jangka Pendek (beberapa hari hingga 2 minggu). Jika upaya diplomatik atau militer segera menurunkan ketegangan dan membuka kembali Selat Hormuz, premi risiko geopolitik akan cepat menghilang. Harga minyak akan turun, ekspektasi inflasi mendingin, dan selera risiko pasar pulih. Dalam skenario ini, kripto bisa mengalami rebound jangka pendek dan kembali membangun korelasi lemah dengan saham teknologi, namun narasi "emas digital" akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Skenario 2: Konflik Berlarut (1–2 bulan). Jika selat tetap tertutup dan ekspor minyak Iran terhenti, harga minyak bisa naik di atas $90–$100 per barel. Ini akan memperparah stagflasi global, memaksa bank sentral menghadapi dilema antara memerangi inflasi dan mendukung pertumbuhan. Bagi kripto, ini berarti likuiditas makro yang lebih ketat dan aversi risiko berlanjut. Pasar bisa memasuki fase sideways atau turun berkepanjangan, dengan hanya aset RWA yang menghasilkan arus kas nyata yang memiliki peluang struktural.

Skenario 3: Eskalasi Ekstrem (lebih dari 2 bulan). Jika konflik meningkat menjadi perang besar-besaran, mengganggu pengiriman global dan menyebabkan kekurangan pasokan parah, ekonomi dunia akan menghadapi stagflasi sistemik. Dalam skenario ini, semua aset berisiko akan dijual tanpa pandang bulu, dan uang tunai—terutama dolar—menjadi raja. Kripto bisa mengalami krisis likuiditas terparah dalam sejarah, dengan harga hanya digerakkan oleh kebutuhan likuidasi, bukan fundamental atau narasi.

Kesimpulan

Eskalasi di Selat Hormuz bertindak sebagai uji stres mendadak, mengupas lapisan narasi pasar. Kejatuhan saham global dan divergensi kripto pada dasarnya adalah referendum atas "likuiditas" dan "kepercayaan". Setelah debu mereda, dolar tetap menjadi pemenang utama, sementara industri kripto dipaksa menghadapi penilaian ulang fundamental atas atribut aset.

Bagi investor, ini bisa menjadi titik balik penting: meninggalkan era liar membangun sistem keuangan paralel dan beralih ke dunia kripto yang lebih pragmatis, terhubung erat dengan narasi makro arus utama. Di era baru ini, pemahaman geopolitik yang cermat akan sama pentingnya dengan analisis data on-chain.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten