Infrastruktur AI Memasuki Fase Kedua: Mengapa Pasar Modal Kembali Memfokuskan pada Profitabilitas?

Pasar
Diperbarui: 30/06/2026 03:59

30 Juni 2026 (waktu Beijing), Nasdaq Composite melonjak 522,52 poin atau naik 2,07%, ditutup pada 25.820,14. Saham NVIDIA naik 1,27% hari itu, berakhir di $194,97 dengan kapitalisasi pasar sekitar $4,72 triliun. Namun, dalam lima hari perdagangan sebelumnya, perusahaan semikonduktor paling bernilai di dunia baru saja mengalami penurunan beruntun.

Di balik fluktuasi harga jangka pendek ini, terdapat perubahan struktural yang lebih mendalam: investasi AI kini bergerak dari fase "storytelling" menuju fase "accounting". Pasar tidak lagi sekadar bertanya "siapa yang terlibat dalam AI", melainkan mulai fokus pada "siapa yang benar-benar dapat menghasilkan keuntungan dari AI".

"Tagihan" $725 Miliar: Mengapa Belanja Modal Masih Melaju Kencang

Untuk memahami transisi ini, Anda perlu mengikuti aliran dana.

Prediksi terbaru Goldman Sachs yang dirilis Juni 2026 menunjukkan bahwa empat operator pusat data hyperscale—Alphabet (Google), Amazon, Microsoft, dan Meta—secara kolektif akan menghabiskan $725 miliar untuk belanja modal di tahun 2026. Rinciannya: Amazon diperkirakan akan membelanjakan sekitar $200 miliar, Microsoft sekitar $190 miliar, Google antara $175 miliar hingga $185 miliar, dan Meta sekitar $115 miliar hingga $135 miliar. Angka ini mewakili kenaikan 77% secara tahunan dari $410 miliar pada 2025.

Yang lebih mencolok adalah kecepatan penyesuaian. Dalam enam bulan terakhir saja, ekspektasi pasar atas capex penyedia cloud tahun 2026 melonjak hampir 80%. Barclays memproyeksikan capex penyedia cloud utama akan mencapai $919 miliar pada 2027 dan naik lagi menjadi sekitar $1,16 triliun pada 2028.

Apa arti $725 miliar? Angka ini melebihi total ukuran pasar semikonduktor global pada 2025—menurut World Semiconductor Trade Statistics (WSTS), pasar semikonduktor global diperkirakan mencapai $1,5112 triliun pada 2026. Capex AI dari keempat perusahaan ini mendekati setengah dari seluruh pasar semikonduktor global.

Aliran modal ini secara kasar terbagi dalam tiga lapisan: hulu adalah pengadaan chip (GPU NVIDIA, akselerator AMD, ASIC khusus, dan lain-lain); tengah adalah infrastruktur pusat data (lahan, konstruksi, listrik, sistem pendingin); hilir adalah perangkat jaringan dan ekosistem perangkat lunak (InfiniBand, Ethernet, ekosistem CUDA, dan sebagainya). Bernstein Research menyoroti bahwa kenaikan harga HBM (high-bandwidth memory) saja dapat meningkatkan capex AI penyedia cloud hyperscale sekitar 30%.

Sementara itu, investasi pusat data global kumulatif diperkirakan mencapai $1,6 triliun pada 2030. Pada April 2026, belanja konstruksi pusat data di AS mencapai tingkat tahunan $50,7 miliar. Samsung mengumumkan total investasi sebesar 26,55 triliun won (sekitar 1,168 triliun RMB), dan SK Group berencana menanamkan lebih dari 10 triliun won per tahun di Korea Selatan selama dekade mendatang. Blackstone Group berniat menginvestasikan $30 miliar untuk membangun pusat data AI di Jepang.

Namun, besarnya belanja saja kini bukan lagi satu-satunya fokus pasar.

Dari "Kelangkaan Komputasi" ke "Validasi Return": Pergeseran Logika Investasi yang Mendalam

Dalam tiga tahun terakhir, industri AI mengikuti logika yang jelas dan kuat: semakin langka komputasi, semakin masuk akal capex; semakin besar capex, semakin tinggi valuasi. Siklus yang saling memperkuat ini nyaris tak dipertanyakan. Namun memasuki 2026, setiap mata rantai dalam siklus ini mulai mengalami uji tekanan.

Laporan Juni Goldman Sachs menegaskan: kontradiksi inti dalam boom AI semakin tajam—fundamental tetap kuat, namun pasar sudah terlalu banyak memasukkan proyeksi laba masa depan. Investasi teknologi AS sebagai persentase PDB telah naik ke sekitar 4,9%, melampaui puncak bubble dot-com tahun 2000. Kecepatan pasar dalam memproyeksikan return AI jelas melampaui realisasi peningkatan produktivitas yang sebenarnya.

Goldman juga mencatat bahwa sejak November 2022, kapitalisasi pasar perusahaan terkait AI melonjak $27 triliun, jauh melampaui estimasi makro benchmark sebesar $9 triliun. Revisi naik pada laba memang meredakan kekhawatiran valuasi sementara, tetapi volatilitas saham bisa semakin meningkat.

Dalam konteks ini, industri AI menghadapi ambang batas penting. Menurut Exponential View, per kuartal I 2026, pendapatan industri AI generatif global (di luar Tiongkok) untuk pertama kalinya melampaui biaya depresiasi infrastruktur AI di periode yang sama. Depresiasi tahunan infrastruktur AI tahun 2026 diperkirakan mendekati $111 miliar. Dengan kata lain, arus kas bisnis AI kini dapat menutupi biaya depresiasi server, GPU, dan pusat data—industri telah melewati ambang pertama sebagai "self-sustaining".

Namun, membuktikan bahwa seluruh siklus modal dapat menghasilkan return yang wajar masih membutuhkan waktu. Laporan memperkirakan hingga akhir 2026, capex AI kumulatif penyedia cloud hyperscale dan platform cloud AI baru akan mencapai sekitar $2 triliun. Pasar kini bergeser dari "iman pada kelangkaan komputasi" ke tinjauan sistemik atas return investasi.

Short seller legendaris Wall Street, Jim Chanos, memberikan angka konkret pada seminar Juni 2026: ekspektasi return on invested capital (ROIC) sebelum pajak untuk infrastruktur komputasi saat ini hanya 5% hingga 8%. Logika Chanos sederhana. Ia menyoroti "financial mismatch" besar dalam rantai nilai AI saat ini: perusahaan penjual chip dan perangkat pusat data langsung membukukan pendapatan dan laba, sementara penyedia cloud yang membeli aset tersebut mengkapitalisasi biaya. Begitu aset mulai beroperasi dan depresiasi berjalan, dampak terhadap laba akan signifikan.

Ia membandingkan investasi infrastruktur AI saat ini dengan era bubble dot-com tahun 1998–2000. Saat itu, laba operasional S&P 500 tumbuh 30% dalam dua tahun, namun ketika order book runtuh pada 2001 dan biaya depresiasi terus meningkat, laba S&P 500 anjlok 40%.

Sinyal Nyata dalam Debat ROI: Harga Sewa Komputasi Turun

Kekhawatiran pasar memang beralasan. Harga sewa per jam chip B200 NVIDIA turun dari $6,11 pada 30 Mei menjadi $4,22 pada 22 Juni—penurunan 31% dalam kurang dari sebulan. Secara umum, biaya sewa server AI cenderung menurun.

Jika kelangkaan menghilang, logika yang menopang capex berkelanjutan kehilangan pijakan. Laporan terbaru JPMorgan merangkum perubahan ini sebagai "dari iman ke biaya". Memahami hal ini adalah kunci untuk menangkap siklus saat ini: fakta yang sama mendasari kepastian capex sekaligus mengungkap kerentanan sisi permintaan.

Namun, tesis short memiliki sanggahan. Menghadapi skeptisisme pasar, pendiri dan CEO NVIDIA Jensen Huang memberikan respons langsung pada rapat pemegang saham tahunan 24 Juni. Ia mengutip data keuangan: pendapatan fiskal 2026 NVIDIA tumbuh 65% menjadi $216 miliar, dengan arus kas operasional mencapai $103 miliar. Pendapatan pusat data melonjak 68% menjadi $194 miliar.

Dari sisi pangsa pasar, dominasi NVIDIA di pasar akselerator AI tetap kokoh. Awal 2026, NVIDIA menguasai sekitar 81% hingga 90% pasar chip akselerator AI dan chip pusat data. Pada segmen inti pelatihan AI, pangsa pasarnya bahkan lebih tinggi, sekitar 85% hingga 90%. Meski skala AMD berkembang dan penyedia cloud hyperscale mulai mengadopsi chip custom (ASIC), pangsa pasar diperkirakan turun menjadi sekitar 75% pada 2026, tetapi pendapatan absolut tetap meningkat—karena total pasar yang dapat dijangkau tumbuh jauh lebih cepat daripada yang bisa direbut satu kompetitor.

Komersialisasi Terwujud: AI Beralih dari Pusat Biaya ke Sumber Pendapatan

Jika infrastruktur AI adalah bisnis "menjual sekop", kini pasar bertanya apakah para "penambang emas" benar-benar menemukan emas.

Paruh pertama 2026, industri AI global bergerak dari fase "ledakan teknologi" ke fase "implementasi rasional". Pasokan komputasi semakin beragam, kapabilitas model terus berkembang, aplikasi mulai menghasilkan pendapatan dan laba, serta ekonomi token beralih dari biaya tersembunyi menjadi variabel operasional yang nyata.

Beberapa perusahaan sudah mengintegrasikan AI secara mendalam ke ekosistem produk mereka, menghasilkan aliran pendapatan yang stabil. Contohnya adalah AI Copilot pada perangkat lunak kantor perusahaan, sistem rekomendasi iklan berbasis AI, alat otomasi AI, layanan pelanggan cerdas, dan sistem analitik data.

Pendapatan bisnis AI tahunan Microsoft telah melampaui $37 miliar, naik 123% secara tahunan, dengan Azure mempertahankan pertumbuhan 40%. Google Cloud membukukan pendapatan $20 miliar pada kuartal I, naik 63%, dengan pesanan backlog mendekati $462 miliar—lebih dari setengahnya akan diakui sebagai pendapatan dalam 24 bulan ke depan. AWS Amazon melaporkan pendapatan $37,6 miliar pada kuartal I, naik 28%, menandai pertumbuhan tercepat dalam empat tahun terakhir.

Namun, hasil komersialisasi sangat bervariasi antar perusahaan. Ada yang memiliki narasi AI kuat tetapi kesulitan membuktikan monetisasi dalam jangka pendek. Pasar kini beralih dari "siapa yang menerapkan AI" ke "siapa yang benar-benar bisa menghasilkan uang dari AI".

Kesimpulan investasi utama dari laporan Goldman: margin laba yang membaik pada penyedia cloud hyperscale akan membuat investasi infrastruktur yang tinggi saat ini lebih berkelanjutan, menyelesaikan kekhawatiran inti tentang return capex AI. Laporan mencatat bahwa operator masih kesulitan memenuhi permintaan komputasi saat ini dan masa depan.

Lanskap Investasi Meluas: Dari Chip ke Seluruh Rantai Nilai

Seiring logika investasi AI bergeser dari perlombaan komputasi ke realisasi komersial, fokus pasar modal meluas dari perusahaan chip tunggal ke seluruh rantai pasok.

Melihat aliran ekuitas AS dari 2023 hingga 2026, pola rotasi yang jelas muncul. Tahap pertama (awal 2023 hingga pertengahan 2024) menyaksikan dana sangat terkonsentrasi pada infrastruktur komputasi, dengan perusahaan chip seperti NVIDIA jauh mengungguli sektor lain. Memasuki 2026, modal bergerak dari saham chip AI utama seperti NVIDIA, Broadcom, dan TSMC, lebih jauh ke serat optik, kaca, keramik, dan material canggih—"lapisan kedua" rantai pasok infrastruktur AI.

Chief Global Equity Strategist Goldman Sachs, Peter Oppenheimer, mencatat capex penyedia cloud hyperscale diperkirakan terus tumbuh pesat. Didukung capex yang kuat, saham infrastruktur AI "fase kedua" melonjak 40% sejak awal kuartal II. Sebagian besar kenaikan harga sektor infrastruktur AI didorong oleh laba. Namun, ekspansi valuasi dan dinamika posisi terbaru menunjukkan volatilitas pasar akan meningkat. Median P/E sektor infrastruktur AI kini melebar ke 26x.

Area fokus pasar utama meliputi: GPU dan chip AI, platform komputasi cloud, konstruksi pusat data, perangkat jaringan berkecepatan tinggi, dan layanan komputasi AI kelas enterprise.

Target utama mencakup beberapa lapisan. Lapisan chip: NVIDIA (NVDA), AMD (AMD), Broadcom (AVGO); lapisan storage dan perangkat: Micron (MU), ASML (ASML), Applied Materials (AMAT); lapisan infrastruktur dan server: Dell Technologies (DELL); lapisan infrastruktur energi: seiring permintaan listrik pusat data melonjak, utilitas menjadi penerima manfaat langsung, termasuk Vistra (VST), GE Vernova (GEV), dan Constellation Energy (CEG).

Selain itu, perusahaan aplikasi AI semakin mendapat perhatian. AI enterprise, sistem rekomendasi dan iklan AI, AI Agents, serta content generation dipandang sebagai jalur penting fase berikutnya.

Konfigurasikan Aset Sektor AI Secara Mulus di Gate

Bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam investasi infrastruktur AI fase kedua, Gate menawarkan titik masuk yang unik. Pada 1 Juni 2026, Gate resmi meluncurkan layanan trading saham asli, menjadi salah satu platform kripto pertama yang terhubung langsung ke pasar saham AS. Pengguna tidak perlu menukar mata uang, melakukan transfer lintas negara, atau membuka akun broker tambahan—cukup gunakan likuiditas USDT di akun Gate untuk trading saham AS secara langsung.

Per Juni 2026, Gate mendukung lebih dari 12.500 saham (AS, Hong Kong, dan Korea) serta aset ETF. Rentang aset mencakup saham teknologi utama seperti Apple (AAPL), NVIDIA (NVDA), dan Tesla (TSLA). Platform ini meliputi NYSE, Nasdaq, dan bursa sekuritas AS lainnya, serta mendukung trading saham fraksional mulai dari 0,01 saham. Tarif fee minimum adalah 0,023%, diselesaikan dalam USDT.

Ini berarti investor dapat mengelola aset kripto sekaligus saham bertema AI dalam satu platform, mewujudkan manajemen portofolio lintas aset.

Kesimpulan

Investasi infrastruktur AI memasuki tahap yang lebih bernuansa. Capex masih tumbuh pesat—$725 miliar belanja tahunan, pertumbuhan 77% year-on-year, hampir setengah ukuran pasar semikonduktor global—angka-angka ini saja menunjukkan intensitas ekspansi industri. Namun fokus pasar kini bergeser dari "berapa banyak yang dibelanjakan" ke "berapa banyak yang dihasilkan".

Industri telah melewati ambang pertama—pendapatan AI kini menutupi depresiasi infrastruktur. Namun dengan return yang diproyeksikan hanya 5% hingga 8%, harga sewa komputasi yang menurun, dan median P/E sektor setinggi 26x, pengawasan atas ROI baru saja dimulai.

Ini bukan berarti akhir dari investasi infrastruktur AI. Sebaliknya, ini bisa menandai awal fase yang lebih sehat—ketika pasar beralih dari berbasis konsep ke berbasis hasil, perusahaan dengan moat komersial nyata dan profitabilitas akan menikmati valuasi yang lebih berkelanjutan. Bagi investor, memahami perubahan struktural ini mungkin lebih penting daripada mengejar volatilitas jangka pendek.

FAQ

Q1: Apa karakteristik inti fase kedua investasi infrastruktur AI?

Fase kedua ditandai pergeseran dari "ekspansi komputasi" ke "realisasi komersial". Pasar tidak lagi hanya fokus pada skala capex dan parameter model, tetapi kini secara sistematis meninjau return investasi, profitabilitas, dan progres komersialisasi. Tahun 2026, depresiasi tahunan infrastruktur AI diperkirakan mendekati $111 miliar, dan industri harus membuktikan pendapatan dapat menutupi biaya tersebut.

Q2: Berapa angka capex spesifik empat penyedia cloud utama di 2026?

Alphabet (Google), Amazon, Microsoft, dan Meta—empat penyedia cloud hyperscale—diperkirakan akan membelanjakan total $725 miliar capex di tahun 2026. Amazon sekitar $200 miliar, Microsoft sekitar $190 miliar, Google antara $175 miliar hingga $185 miliar, dan Meta sekitar $115 miliar hingga $135 miliar. Ini merupakan kenaikan 77% dari $410 miliar pada 2025.

Q3: Risiko apa yang dihadapi investasi infrastruktur AI saat ini?

Risiko utama meliputi: tren penurunan berkelanjutan harga sewa komputasi (harga sewa chip NVIDIA B200 turun 31% dalam sebulan); ekspektasi ROI hanya 5% hingga 8%; valuasi pasar sudah terlalu banyak memasukkan proyeksi laba masa depan, dengan investasi teknologi AS sebagai persentase PDB kini melampaui puncak bubble dot-com; dan biaya depresiasi skala besar berpotensi mengancam laba.

Q4: Bagaimana investor dapat berpartisipasi dalam investasi infrastruktur AI melalui Gate?

Gate telah resmi meluncurkan layanan trading saham asli, memungkinkan pengguna untuk trading lebih dari 12.500 saham (AS, Hong Kong, Korea) dan ETF secara langsung dengan USDT. Platform ini mencakup saham sektor AI utama seperti NVIDIA (NVDA), AMD (AMD), dan Micron (MU), mendukung trading saham fraksional mulai 0,01 saham, dan tidak memerlukan pembukaan akun broker tambahan.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten