Emas Turun di Bawah Rp4.050, Perak Anjlok Lebih dari 3%: Mengapa Aset Safe Haven Mulai Kehilangan Daya Tariknya?

Pasar
Diperbarui: 07/13/2026 09:20

Selama sesi perdagangan Asia pada 13 Juli, pasar keuangan global menunjukkan korelasi lintas-aset yang jarang terjadi: harga minyak internasional melonjak tajam, dengan kontrak berjangka WTI naik hingga 5%. Sementara itu, aset safe haven tradisional—emas dan perak—justru tertekan dan bergerak turun secara bersamaan. Harga spot emas turun di bawah $4.050 per ons pada sore hari, merosot 1,71% dalam sehari; harga spot perak bahkan mengalami penurunan lebih tajam, sempat anjlok 3,25%. Pada saat yang sama, Bitcoin tergelincir ke kisaran $63.148, mencatat penurunan sekitar 1,5% dalam 24 jam.

Konflik geopolitik telah memicu lonjakan harga energi, tetapi justru memadamkan narasi safe haven bagi logam mulia dan aset kripto. Divergensi ini memaksa pasar untuk kembali pada pertanyaan mendasar: Ketika perang benar-benar pecah, mengapa aset safe haven gagal menjadi "pelabuhan di tengah badai"?

Memanasnya Ketegangan AS-Iran: Mengapa Pasar Tidak Terpukau?

Sejak akhir pekan hingga dini hari 13 Juli, ketegangan AS-Iran terkait penguasaan Selat Hormuz terus meningkat. Dalam tiga malam terakhir, pasukan AS menyerang lebih dari 300 target Iran, dengan sekitar 140 serangan terjadi pada Sabtu saja. Iran membalas dengan serangkaian serangan ke target militer AS di lima negara Timur Tengah—Bahrain, Kuwait, Yordania, Qatar, dan Oman. Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan bahwa Selat Hormuz "ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut".

Menurut logika keuangan tradisional, meningkatnya risiko geopolitik seharusnya mendorong modal masuk ke aset safe haven seperti emas, yen, dan obligasi pemerintah AS. Namun kali ini, pasar bereaksi sebaliknya. Indeks Dolar AS menguat ke 101,10, imbal hasil obligasi 10 tahun tetap tinggi, dan emas, perak, serta Bitcoin semuanya anjlok.

Fokus penetapan harga pasar telah bergeser: Risiko geopolitik itu sendiri bukan lagi tema utama perdagangan. Sebaliknya, rantai transmisi—di mana risiko geopolitik mendorong kenaikan harga energi, yang kemudian meningkatkan ekspektasi inflasi dan memperkuat prospek kenaikan suku bunga The Fed—kini menjadi kontradiksi inti di pasar.

Bagaimana Kanal Inflasi Mengalahkan Kanal Safe Haven

Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia. Gangguan di selat ini secara langsung mendorong kenaikan harga energi. Pada 13 Juli, kontrak berjangka Brent naik 3,92% ke $78,99 per barel, sementara kontrak berjangka WTI naik 3,44% ke $73,87 per barel.

Dampak langsung dari kenaikan harga energi adalah meningkatnya ekspektasi inflasi. Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed yang lebih hawkish—biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu inflasi yang lebih luas, memaksa bank sentral mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneter. Dot plot terbaru The Fed dari rapat FOMC bulan lalu menunjukkan 9 dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2026, dibandingkan dengan nol pada Maret.

Mekanisme transmisi ini memberi tekanan ganda pada emas dan perak. Logam mulia tidak menghasilkan pendapatan bunga, sehingga kenaikan suku bunga riil secara langsung meningkatkan opportunity cost memegang emas. Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi mendorong suku bunga nominal naik, tetapi daya tarik emas sebagai pelindung inflasi ditekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga—pasar kini lebih khawatir pada "kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi" ketimbang inflasi itu sendiri. Karakteristik industri pada perak membuat tekanan harga menjadi lebih kompleks, sehingga penurunannya lebih tajam dibanding emas.

Perbandingan Historis: Kinerja Emas di Konflik Timur Tengah Sebelumnya

Prinsip umum "beli emas saat perang" ternyata tidak selalu berlaku. Setelah Perang Teluk pecah pada 1991, harga emas turun lebih dari 5% dalam seminggu. Menyusul eskalasi konflik Israel-Palestina pada Oktober 2023, emas sempat melonjak ke $2.000 per ons namun segera terkoreksi. Saat Perang Irak dimulai pada 2003, harga emas naik dari sekitar $320 menjadi $340—kenaikan sekitar 5%—dengan reli safe haven hanya berlangsung sekitar empat minggu.

Perbedaan kinerja emas selama konflik masa lalu sangat bergantung pada latar belakang makroekonomi. Pada 2003, dolar AS berada dalam siklus depresiasi berkepanjangan, dengan Indeks Dolar turun dari 120 pada 2002 ke 70 pada 2008, memberikan dukungan struktural bagi emas. Lingkungan saat ini sangat berbeda: Indeks Dolar mendekati 101, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus menekan aset tanpa imbal hasil, dan premi safe haven emas telah tergerus signifikan oleh lingkungan suku bunga tinggi.

Pada putaran konflik AS-Iran kali ini, emas sempat melonjak pada tahap awal namun segera terkoreksi. Efek impuls risiko geopolitik kini tersapu oleh tekanan suku bunga sistemik—ini bukan pertama kalinya emas "gagal" di masa perang, dan tidak akan menjadi yang terakhir.

Bitcoin: Dari "Emas Digital" Menjadi Barometer Likuiditas

Kinerja Bitcoin dalam guncangan geopolitik kali ini semakin menggoyahkan narasi "emas digital". Pada 13 Juli, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $63.748, turun sejalan dengan emas dan perak.

Dalam sejumlah peristiwa geopolitik belakangan ini, peran Bitcoin justru kontradiktif: Kadang berperan sebagai safe haven sesaat, kadang turun bersama aset berisiko global. Selama eskalasi konflik AS-Iran, penurunan Bitcoin sangat selaras dengan aksi jual aset berisiko global, mengindikasikan jalur transmisi "risiko geopolitik = aksi jual aset berisiko".

Perdagangan Bitcoin yang berlangsung 24/7, likuiditas yang dalam, dan penyelesaian instan menjadikannya aset pilihan bagi investor yang ingin menguangkan dengan cepat saat panik pasar. Karakteristik "likuiditas tinggi" ini memang menguntungkan di masa normal, namun saat krisis justru mempercepat tekanan jual. Ketika investor institusi perlu mengurangi eksposur risiko, menutup margin call, atau memenuhi penarikan dana, Bitcoin sering menjadi salah satu aset pertama yang dijual. Pada dasarnya, Bitcoin adalah aset dengan pasokan tetap yang sensitif terhadap risiko, bukan alat safe haven tradisional.

Squeeze Likuiditas: Logika di Balik Penurunan Serempak Aset Safe Haven

Penurunan serempak emas dan Bitcoin menandakan adanya mekanisme yang lebih dalam—yakni squeeze likuiditas.

Ketika pasar menghadapi ketidakpastian ekstrem, pemilik aset memiliki kebutuhan mendesak terhadap uang tunai. Baik itu margin call bagi investor institusi, deleveraging oleh hedge fund, maupun penarikan panik oleh investor ritel, semuanya bermuara pada "menjual apa pun yang bisa dijual". Dalam kondisi krisis likuiditas, tidak ada aset safe haven absolut—semua aset hanya menjadi sumber likuiditas, dan uang tunai adalah perlindungan utama.

Likuiditas tinggi dan perdagangan tanpa henti membuat Bitcoin menjadi salah satu aset pertama yang dijual saat squeeze likuiditas. Emas, meski kurang likuid, juga sulit bertahan ketika tekanan jual cukup besar. Pertumbuhan M2 global melonjak ke 12% year-on-year pada awal 2026, mendorong emas ke rekor tertinggi $5.595; namun ketika kondisi likuiditas berbalik, koreksi emas bisa sama tajamnya.

Logika ini menjelaskan mengapa, dalam peristiwa risiko geopolitik klasik seperti eskalasi AS-Iran, emas dan Bitcoin tidak hanya gagal reli tetapi justru jatuh bersama. Logika penetapan harga pasar telah melampaui kerangka linier sederhana "peristiwa risiko → reli aset safe haven", memasuki lingkaran umpan balik kompleks "peristiwa risiko → squeeze likuiditas → aksi jual menyeluruh".

Dolar dan Obligasi Pemerintah AS: "Aset Safe Haven Sejati"

Ketika modal global mencari perlindungan, tujuan pertama bukanlah emas—melainkan dolar dan obligasi pemerintah AS. Urutan ini kembali ditegaskan dalam konflik AS-Iran saat ini.

Pada 13 Juli, Indeks Dolar menguat ke 101,10, dengan kekuatan dolar sangat kontras dengan penurunan emas. Status dolar sebagai mata uang cadangan dunia, likuiditas yang dalam, dan keunggulan imbal hasil tinggi saat ini memastikan dolar tetap menjadi tujuan utama arus modal safe haven. Permintaan perlindungan akibat ketidakpastian geopolitik pada akhirnya sebagian besar mengalir ke dolar, bukan emas.

Urutan safe haven yang sebenarnya adalah: Dolar → Obligasi Pemerintah AS → Emas. Hanya setelah kebutuhan likuiditas dolar terpenuhi dan imbal hasil obligasi pemerintah kehilangan daya tariknya, investor baru mempertimbangkan emas secara marginal. Dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang masih kuat, urutan ini tidak mungkin berubah dalam waktu dekat. Selama dolar tetap kuat dan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS tinggi, emas akan kesulitan menarik permintaan safe haven secara berkelanjutan.

Variabel Kunci ke Depan: CPI, Kebijakan The Fed, dan Selat Hormuz

Pergerakan jangka pendek emas dan perak akan sangat dipengaruhi oleh evolusi tiga variabel inti berikut.

Verifikasi data inflasi. Data CPI AS bulan Juni akan dirilis pada 14 Juli. Pasar memperkirakan CPI utama turun 0,1% month-over-month, sementara CPI inti diprediksi naik 0,3%. Jika data lebih tinggi dari ekspektasi, urgensi kenaikan suku bunga The Fed akan semakin kuat; jika inflasi melunak, logam mulia bisa mendapat ruang bernapas.

Sinyal kebijakan The Fed. Ketua The Fed, Walsh, akan memberikan kesaksian pertamanya di Kongres mengenai kebijakan moneter pada 14 Juli. Pasar akan mencermati penilaiannya terkait dampak konflik AS-Iran terhadap prospek inflasi. Jika Walsh memberikan sinyal hawkish, emas bisa mendapat tekanan tambahan.

Kelayakan navigasi Selat Hormuz. Ini adalah variabel paling tidak terduga. Meski Presiden AS bersikeras selat tetap "terbuka", ancaman dan serangan nyata dari Iran terus berlanjut. Kelayakan navigasi selat secara riil akan berdampak langsung pada harga minyak, yang kemudian memengaruhi harga logam mulia melalui kanal inflasi.

Outlook pertengahan 2026 dari World Gold Council mencatat bahwa pasar memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga sekitar Oktober. Ini berarti pasar emas kecil kemungkinan benar-benar lepas dari tekanan lingkungan suku bunga tinggi dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Emas telah jatuh di bawah $4.050, perak anjlok lebih dari 3%, dan Bitcoin turun bersamaan—penurunan serempak lintas-aset ini mencerminkan kegagalan sistemik logika safe haven tradisional dalam lanskap makro saat ini.

Akar permasalahannya bukan kurangnya risiko geopolitik, melainkan pasar yang menerjemahkan risiko geopolitik menjadi ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga, bukan permintaan safe haven secara langsung. Lonjakan harga energi telah mengaktifkan rantai "inflasi → kenaikan suku bunga → kenaikan suku bunga riil → tekanan pada aset tanpa imbal hasil", dan premi safe haven geopolitik telah sepenuhnya tersisih oleh ekspektasi kebijakan makro yang semakin ketat. Sementara itu, mekanisme squeeze likuiditas memperbesar tekanan jual—saat uang tunai menjadi raja, tidak ada aset yang benar-benar kebal.

Investor perlu meninjau ulang makna "safe haven" yang sesungguhnya: Bukan sekadar membeli kelas aset tertentu, melainkan memahami logika penetapan harga berbagai aset dalam skenario makro yang berbeda. Dalam kondisi saat ini, dolar dan obligasi pemerintah AS tetap menjadi perlindungan utama modal, sementara narasi safe haven untuk emas dan Bitcoin sedang mengalami restrukturisasi mendalam.

FAQ

T: Mengapa emas turun saat ketegangan AS-Iran meningkat?

Konflik geopolitik mendorong kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi dan memperkuat prospek kenaikan suku bunga The Fed di mata pasar. Emas, sebagai aset tanpa imbal hasil, menghadapi biaya kepemilikan yang lebih tinggi di lingkungan suku bunga tinggi, sehingga harganya tertekan. Saat ini pasar lebih fokus pada "kenaikan suku bunga" sebagai hasil akhir ketimbang "inflasi" itu sendiri.

T: Apakah Bitcoin merupakan aset safe haven?

Berdasarkan kinerjanya di sejumlah konflik geopolitik sebelumnya, Bitcoin lebih menyerupai aset berisiko yang sangat likuid ketimbang alat safe haven tradisional. Dalam masa krisis, Bitcoin kerap menjadi salah satu aset pertama yang dijual karena likuiditasnya, bergerak sejalan dengan emas dan saham.

T: Apakah atribut safe haven emas benar-benar gagal?

Tidak sepenuhnya—hanya saja kini sangat tertekan oleh lingkungan makro suku bunga tinggi dan dolar yang kuat. Fungsi safe haven emas masih ada, tetapi memerlukan kondisi khusus: dolar yang lebih lemah, suku bunga riil menurun, atau krisis sistemik pada mata uang fiat. Latar makro saat ini kurang mendukung peran safe haven emas.

T: Apa yang membedakan konflik AS-Iran kali ini dengan sebelumnya?

Perbedaan utamanya terletak pada latar makro. Saat Perang Irak 2003, dolar berada dalam siklus depresiasi sehingga mendukung emas secara struktural. Kini, Indeks Dolar di kisaran 101, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih kuat, dan lingkungan suku bunga tinggi telah sangat menekan premi safe haven emas.

T: Faktor apa saja yang akan menentukan tren emas ke depan?

Tiga variabel inti: apakah data CPI AS bulan Juni melampaui ekspektasi, sinyal kebijakan dari kesaksian Ketua The Fed Walsh di Kongres, dan kelayakan navigasi Selat Hormuz secara nyata. Ketiganya akan membentuk arah ekspektasi inflasi, prospek kenaikan suku bunga, dan evolusi premi risiko.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement

Bagikan

sign up guide logosign up guide logo
sign up guide content imgsign up guide content img
Sign Up
Log In