17 Juli 2026 (Waktu Beijing) menjadi momen penting bagi pasar emas—harga spot emas turun di bawah ambang kritis $4.000 per ons. Kontrak berjangka emas utama di New York turun 1,77%, ditutup pada $3.979,9 per ons. Emas spot berakhir di $3.976,26 per ons, sempat menyentuh level terendah sesi di $3.969,21, menandai harga penutupan terendah dalam lebih dari delapan bulan terakhir.
Harga ini hampir 28% di bawah rekor tertinggi sekitar $5.598 yang tercatat pada Januari 2026. Berdasarkan definisi pasar tradisional, penurunan lebih dari 20% dari puncak biasanya menandakan masuknya pasar ke wilayah bearish.
Namun, sekadar menyebut penurunan ini sebagai "emas memasuki pasar bearish" tidak cukup untuk menggambarkan dinamika makro yang mendasarinya. Penurunan harga emas bukan disebabkan oleh meredanya aversi risiko, melainkan oleh repricing makro yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, rebound inflasi, dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Artikel ini akan membedah logika mendalam di balik penurunan emas di bawah $4.000, menelusuri rantai transmisi yang menghubungkan faktor-faktor tersebut.
Eskalasi Geopolitik: Mengapa Emas Turun, Bukan Naik?
Pada Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman 14 poin, sempat memunculkan harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Namun, perdamaian rapuh ini segera runtuh—dalam waktu sebulan, konflik kembali pecah.
Pada 14 Juli, pasukan AS kembali memberlakukan blokade maritim terhadap Iran. Pada 16 Juli, AS melancarkan serangan militer skala besar ke Iran, dengan ledakan dilaporkan terjadi di Pelabuhan Abbas, Bushehr, Pulau Qeshm, dan beberapa lokasi lain. Dua jembatan di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, diserang, menyebabkan dua orang tewas dan empat luka-luka. Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga AS menghentikan serangan militer dan operasi blokade. Per 16 Juli, hanya 13 kapal dagang yang melintasi Selat tersebut—sekitar sepersepuluh dari level sebelum konflik.
Secara tradisional, eskalasi konflik geopolitik meningkatkan aversi risiko, mendorong modal masuk ke emas dan mengerek harga. Emas naik selama konflik Rusia-Ukraina tahun 2022 dan kembali menguat pada awal konflik Timur Tengah Oktober 2023.
Namun kali ini, logikanya benar-benar berbalik.
Pasar tak lagi memperdagangkan "risiko perang" itu sendiri, melainkan apakah perang akan memicu inflasi kembali. Selat Hormuz adalah jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia, dengan sekitar 30% perdagangan minyak global via laut melaluinya. Penutupan yang berkelanjutan langsung mengganggu rantai pasok energi global—harga minyak mentah New York sempat menembus $80 per barel, tertinggi di $80,87; Brent di London mencapai $86,25 per barel. Harga minyak tetap dekat level tertinggi bulanan, memperkuat kekhawatiran inflasi yang persisten.
Inilah alasan utama mengapa emas justru turun di tengah ketegangan geopolitik saat ini: perang mendorong harga minyak naik → harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi → tekanan inflasi membatasi ruang kebijakan The Fed → suku bunga riil naik → aset tanpa imbal hasil seperti emas tertekan. Rantai transmisi ini benar-benar berlawanan dengan logika aversi risiko tradisional.
Rebound Inflasi: "Ruang Kebijakan" The Fed Makin Sempit
Rebound data inflasi memberikan dukungan kuat bagi rantai transmisi ini.
Pada 10 Juli 2026, Federal Reserve merilis laporan kebijakan moneter semesteran pertama di bawah kepemimpinan Ketua baru, Kevin Warsh. Tema utama laporan: inflasi memanas secara signifikan. Pada Mei, Indeks Harga Konsumsi Pribadi (PCE) AS naik 4,1% year-on-year, dibanding hanya 2,5% pada Mei 2025. Core PCE melonjak ke 3,4% dari 2,8% setahun sebelumnya. Kedua angka ini jauh di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2%.
The Fed mengaitkan lonjakan inflasi dengan tiga faktor utama: efek tertunda dari kebijakan tarif AS yang meningkatkan biaya produk akhir; konflik Timur Tengah yang mengganggu pelayaran di Selat Hormuz dan mendongkrak harga energi global; serta lonjakan permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI)—kelangkaan chip, listrik, dan bahan baku mendorong kenaikan harga yang persisten. Menurut estimasi Goldman Sachs, kenaikan harga memori, perangkat lunak, dan listrik akibat AI telah mengerek core PCE lebih dari 0,2 poin persentase year-on-year, dan bisa mencapai 0,5 poin pada akhir tahun.
Yang lebih menarik adalah perubahan mendasar dalam bahasa The Fed. Laporan tersebut menyebut "stabilitas harga" sebanyak 14 kali—hampir tiga kali lipat frekuensi periode yang sama tahun 2025. Tidak ada lagi pernyataan kehati-hatian seperti "penyesuaian di masa depan tergantung data," melainkan sinyal tegas: "Komite akan mencapai stabilitas harga." Ini mengirim pesan kuat ke pasar—The Fed akan memprioritaskan penanggulangan inflasi, meski harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Dot plot keputusan suku bunga The Fed bulan Juni menunjukkan 9 dari 19 anggota komite memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2026, dengan 6 di antaranya mengantisipasi dua kali kenaikan atau lebih. Pasar telah menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga 2026 dari 21 basis poin sebelum rapat menjadi 39 basis poin setelahnya; swap indeks overnight dolar AS (OIS) kini sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga pada Oktober. Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, baru-baru ini menyatakan, "Kenaikan suku bunga moderat sekarang lebih baik daripada pengetatan besar-besaran nanti," menandakan bias hawkish yang jelas.
Kombinasi rebound inflasi dan repricing kebijakan The Fed menciptakan tekanan makro terkuat bagi emas.
Kenaikan Imbal Hasil Riil: Dilema "Opportunity Cost" bagi Aset Tanpa Imbal Hasil
Logika harga emas pada akhirnya bermuara pada satu variabel inti—suku bunga riil.
Emas tidak menghasilkan bunga atau dividen; ia adalah aset klasik tanpa imbal hasil. Ketika suku bunga riil (suku bunga nominal dikurangi ekspektasi inflasi) naik, opportunity cost memegang emas meningkat—investor lebih cenderung mengalokasikan modal ke aset dolar yang memberikan imbal hasil (seperti obligasi pemerintah AS) ketimbang emas.
Lingkungan pasar saat ini mengikuti logika tersebut secara presisi. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mendorong naik imbal hasil obligasi pemerintah AS secara nominal. Meski ekspektasi inflasi juga naik, imbal hasil nominal naik lebih cepat, memperlebar imbal hasil riil. Di saat yang sama, penguatan dolar AS semakin menekan harga emas dalam denominasi dolar.
Analis Forex.com, Fawad Razaqzada, mencatat, "Meski beberapa data ekonomi terbaru melemah, harga energi yang tetap tinggi akan menyulitkan The Fed untuk beralih ke sikap dovish. Karena alasan yang sama, investor saat ini lebih memilih dolar dibandingkan aset tanpa imbal hasil seperti emas."
Mekanisme "kenaikan imbal hasil riil → emas tertekan" ini semakin diperkuat di pasar saat ini. Risalah rapat The Fed bulan Juni mengaitkan risiko inflasi dengan tarif, biaya energi Timur Tengah, dan permintaan AI untuk teknologi, data center, serta listrik. Beberapa peserta mencatat bahwa belanja AI pada akhirnya dapat menurunkan biaya melalui peningkatan produktivitas, namun efek ini baru akan terasa dalam beberapa tahun. Sementara itu, permintaan data center dan peralatan teknologi tinggi yang terus berlanjut menjaga tekanan kenaikan harga.
Hal ini menunjukkan inflasi mungkin akan lebih "lengket" daripada yang diperkirakan pasar sebelumnya, dan The Fed bisa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, menjaga lingkungan suku bunga riil yang ketat bagi emas.
Analisis Teknikal: Berbagai Sinyal Bearish Bertemu
Dari sudut pandang analisis teknikal, emas saat ini memunculkan berbagai sinyal bearish.
Analis teknikal Bank of America, Paul Ciana, menyoroti beberapa indikator bearish dalam laporannya: pola "death cross" (rata-rata pergerakan 50 hari turun di bawah 200 hari), posisi net long yang tinggi, formasi candlestick puncak peringatan, sinyal kelelahan TD Sequential, serta Relative Strength Index (RSI) yang mencapai 90 pada puncak terbaru—angka yang sejalan dengan puncak emas tahun 1980 dan 2011.
Bank of America sebelumnya telah menurunkan proyeksi harga rata-rata emas 2026 sebesar 14% menjadi $4.360 per ons. Ciana memperkirakan emas akan tetap tertekan sepanjang Agustus dan September, dengan harga kemungkinan baru menemukan dasar yang lebih kuat setelah menguji support di sekitar $3.600 per ons. Dalam skenario yang lebih pesimistis, BofA melihat emas bisa turun menuju $3.315.
Meski demikian, analisis teknikal tidak sepenuhnya menutup peluang rebound. Beberapa analis mencatat emas mungkin mengalami pantulan teknikal setelah penurunan tajam. Level kunci yang perlu diperhatikan: breakout di atas kisaran $4.300–$4.400 bisa memicu peninjauan ulang status pasar bearish, sementara support di sekitar $3.550 bisa menjadi area penting.
Menariknya, Bank of America tetap berhati-hati untuk jangka pendek namun belum meninggalkan tesis bullish jangka panjangnya. Bank ini memperkirakan emas bisa mencapai $6.000 per ons pada 2027. Analis BofA merekomendasikan investor mempertimbangkan membangun posisi secara bertahap saat harga turun, dan menyarankan alokasi penuh hanya jika harga jatuh ke kisaran $3.450–$3.250.
Divergensi Wall Street: Tekanan Jangka Pendek, Optimisme Jangka Panjang
Lembaga-lembaga besar Wall Street sangat terbelah dalam prospek emas jangka pendek dan jangka panjang.
JPMorgan kini bersikap hati-hati terhadap prospek emas jangka pendek, memangkas target harga Q4 2026 sebesar 25% menjadi $4.500 per ons, turun dari target sebelumnya $6.000. Bank ini memperkirakan harga rata-rata Q3 di $4.300. Penyesuaian ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan dari sektor pembeli emas utama dan sensitivitas tinggi terhadap fluktuasi suku bunga riil.
Goldman Sachs memangkas proyeksi akhir tahun dari $5.400 menjadi $4.900 per ons. Namun, Goldman percaya pembelian emas oleh negara dan diversifikasi cadangan devisa bank sentral negara berkembang akan tetap menopang harga. Bank ini menaikkan proyeksi pembelian bulanan bank sentral 12 bulan ke depan dari sekitar 29 ton menjadi hampir 50 ton, kini memperkirakan pembelian negara rata-rata 60 ton per bulan pada 2026.
UBS bertaruh pada repricing kebijakan The Fed dan pelemahan dolar, dengan target emas 12 bulan di $5.200. Morgan Stanley juga memperkirakan emas akan menembus $5.200 pada paruh kedua, namun menekankan hal ini bergantung pada arus masuk besar yang berkelanjutan ke ETF emas.
Bank swasta Swiss Julius Baer menurunkan target akhir tahun emas ke $4.800, menyarankan klien menunggu sinyal beli yang lebih jelas. Meski bullish jangka panjang, alokasi emas saat ini netral di sekitar 5%, di bawah level overweight pada awal tahun.
Perbedaan tajam antar institusi ini mencerminkan tingginya ketidakpastian yang dihadapi pasar emas—tekanan makro jangka pendek jelas, namun dukungan struktural jangka panjang (pembelian bank sentral, tren dedolarisasi, dll.) tetap terjaga.
Kesimpulan
Penembusan emas di bawah $4.000 bukanlah kegagalan logika aversi risiko tradisional, melainkan pergeseran mendalam dalam dinamika penetapan harga makro.
Kontradiksi inti pasar kini semakin jelas: ketegangan geopolitik di Selat Hormuz mendorong harga minyak naik, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi. Rebound inflasi memicu repricing kebijakan The Fed, menaikkan suku bunga riil dan menekan harga emas secara berkelanjutan. Setiap mata rantai dalam transmisi ini saling memperkuat, menciptakan lingkaran tertutup yang tidak menguntungkan bagi emas.
Arah emas ke depan akan sangat bergantung pada tiga variabel utama: Pertama, apakah The Fed akan semakin hawkish—rapat FOMC September, data CPI, dan PCE akan menjadi titik pengamatan penting. Kedua, apakah ketegangan di Selat Hormuz mereda—jika pelayaran kembali lancar dan harga minyak turun, tekanan pada emas bisa mereda; jika konflik meningkat, pasar bisa semakin memperhitungkan risiko stagflasi. Ketiga, arah indeks dolar AS—dolar yang lebih kuat akan terus menekan emas, sementara dolar yang melemah bisa menjadi penopang.
Dalam jangka pendek, berbagai sinyal teknikal bearish dan tekanan makro membuat emas kemungkinan tetap tertekan. Namun dari perspektif menengah hingga panjang, akumulasi cadangan emas oleh bank sentral, tren dedolarisasi, dan status unik emas sebagai aset safe haven utama tetap menopang nilai fundamentalnya.
Pasar emas pada paruh kedua 2026 diprediksi akan menjadi ajang tarik-ulur antara narasi makro dan dinamika teknikal.
FAQ
Q1: Apa alasan utama emas turun di bawah $4.000?
Penurunan emas di bawah $4.000 bukan karena aversi risiko yang menurun, melainkan akibat rantai transmisi makro: eskalasi konflik AS-Iran mendorong harga minyak naik, harga minyak yang lebih tinggi memperkuat kekhawatiran inflasi, rebound inflasi membatasi ruang The Fed untuk menurunkan suku bunga bahkan memicu ekspektasi kenaikan suku bunga, kenaikan suku bunga riil mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Q2: Apakah Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi pada 2026?
Dot plot The Fed bulan Juni menunjukkan 9 dari 19 anggota komite memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2026. Pasar sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga pada Oktober. Namun, perbedaan internal tetap ada: 8 mendukung suku bunga tetap, hanya 1 yang mendukung penurunan. Keputusan akhir akan sangat bergantung pada data inflasi dan ketenagakerjaan berikutnya.
Q3: Konflik geopolitik biasanya menguntungkan emas. Mengapa kali ini sebaliknya?
Kali ini, logika pasar berbeda: investor tidak khawatir pada risiko perang itu sendiri, melainkan apakah perang akan mendorong inflasi. Penutupan Selat Hormuz menaikkan harga minyak, harga minyak yang lebih tinggi memperkuat ekspektasi inflasi, inflasi memaksa The Fed tetap hawkish, dan kenaikan suku bunga riil pada akhirnya menekan harga emas.
Q4: Sinyal teknikal apa saja yang saat ini muncul pada emas?
Emas menunjukkan berbagai sinyal bearish: "death cross" dengan rata-rata pergerakan 50 hari turun di bawah 200 hari, posisi net long yang tinggi, RSI mencapai 90 (sejalan dengan puncak tahun 1980 dan 2011). Bank of America memperkirakan emas baru akan menemukan dasar yang lebih kuat setelah menguji support di sekitar $3.600.
Q5: Bagaimana prospek emas pada paruh kedua 2026?
Emas kemungkinan tetap tertekan dalam jangka pendek, namun pandangan institusi terbelah. JPMorgan memperkirakan rata-rata harga Q3 di $4.300 dan Q4 di $4.500; Goldman Sachs memproyeksikan akhir tahun di $4.900; UBS menargetkan 12 bulan di $5.200. Masa depan emas akan sangat bergantung pada kebijakan The Fed, perkembangan di Timur Tengah, dan indeks dolar AS.




