Pada Februari 2026, sektor fintech dan pembayaran kripto menyaksikan perubahan besar dalam kepemimpinan. Block, perusahaan yang dipimpin oleh pendiri Twitter, Jack Dorsey, mengumumkan PHK yang berdampak pada hampir setengah dari tenaga kerjanya—sekitar 4.000 karyawan. Berbeda dengan pemangkasan tenaga kerja pada masa krisis, harga saham Block justru melonjak lebih dari 20% setelah jam perdagangan, menandakan bahwa pasar benar-benar mengapresiasi apa yang disebut sebagai "revolusi efisiensi".
Menghadapi kritik tajam terkait "manajemen buruk", Dorsey merespons dengan keterbukaan yang jarang terjadi, menyebutkan bahwa permasalahan perusahaan berakar pada kesalahan strategi selama pandemi dan menetapkan tolok ukur tegas: lebih dari USD 2 juta laba kotor per karyawan. Artikel ini akan mengulas secara mendalam logika industri di balik peristiwa ini, menganalisisnya melalui linimasa, data keuangan, sentimen publik, dan proyeksi masa depan.
Mengakui Utang Struktural: Tiga Lapisan Kebenaran dalam Respons Dorsey
Pada 27 Februari, Jack Dorsey secara terbuka menanggapi komentar pasar yang menyebut PHK Block disebabkan oleh perekrutan yang sembrono dan manajemen yang buruk. Ia mengakui bahwa antara Desember 2019 hingga Desember 2022, jumlah karyawan Block melonjak dari 3.900 menjadi 12.500—sebuah contoh nyata dari overhiring. Dorsey menelusuri akar masalah pada kesalahan struktural di tingkat strategi: "Saat itu, saya keliru membangun dua struktur perusahaan independen (Square dan Cash App), bukannya mengintegrasikannya dalam satu arsitektur terpadu." Ia menegaskan bahwa masalah ini telah diperbaiki pada pertengahan 2024.
Respons Dorsey menyoroti tiga poin utama. Pertama, ia mengakui kesalahan tersebut sebagai cacat desain di level tertinggi—bukan sekadar salah membaca pasar. Kedua, ia menegaskan bahwa kompleksitas bisnis (pembiayaan, perbankan, dan BNPL) sering diremehkan oleh pihak luar; operasi yang sarat kepatuhan ini memang membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Ketiga, ia memaparkan jalur koreksi yang jelas: target USD 2 juta laba kotor per karyawan—empat kali lipat dari efisiensi sebelum pandemi. Tolok ukur kuantitatif ini kini menjadi titik akhir yang dapat diverifikasi untuk semua penyesuaian struktural berikutnya.
Ekspansi, Lalu Koreksi: Empat Tonggak Penting dalam Siklus Lima Tahun Block
| Periode | Peristiwa & Data Utama | Konteks Strategis & Logika Internal |
|---|---|---|
| 2019–2022 (Pandemi) | Jumlah karyawan melonjak dari 3.900 menjadi 12.500 | Ekspansi di lingkungan suku bunga rendah; dua struktur (Square dan Cash App) berjalan paralel, menimbulkan "utang struktural" |
| Pertengahan 2024 | Manajemen melakukan integrasi struktural, memperbaiki operasi independen | Inisiatif efisiensi dan penghematan biaya dimulai; fungsi yang tumpang tindih digabungkan; alat AI internal (seperti Goose) diluncurkan |
| September 2025 | Menyelenggarakan acara tatap muka di Oakland, menelan biaya USD 68,1 juta | Acara besar terakhir untuk seluruh karyawan, namun laba kotor per karyawan stagnan di USD 500.000 |
| 26 Februari 2026 | Mengumumkan hampir 4.000 PHK, menargetkan di bawah 6.000 karyawan | Beralih ke operasi "AI-native", menetapkan target USD 2 juta laba kotor per karyawan, harga saham melonjak |
Yang membedakan PHK kali ini adalah sifatnya yang "bukan karena krisis". Laporan keuangan menunjukkan Block meraih laba kotor USD 10,36 miliar pada 2025, dengan laba kotor kuartal IV dua kali lipat dari kuartal I. Dorsey memilih melakukan penyesuaian "surgical" ini di tengah kekuatan finansial, bertujuan mengantisipasi apa yang ia prediksi sebagai "perubahan struktural yang akan dihadapi sebagian besar perusahaan tahun depan".
Mandat USD 2 Juta Per Karyawan: Mengukur Tolok Ukur Efisiensi
Strategi Block kini beralih dari ekspansi bisnis semata ke fokus intens pada "unit economics". Target USD 2 juta laba kotor per karyawan bukan sekadar angka yang digandakan—ini menandai perubahan mendasar dalam cara perusahaan beroperasi.
Secara historis, antara 2019 hingga 2024, laba kotor Block per karyawan berkisar di angka USD 500.000. Meski kompleksitas bisnis meningkat tajam—dengan ekspansi ke pembiayaan, perbankan, dan buy now, pay later (BNPL)—duplikasi organisasi dan gesekan internal (karena Square dan Cash App beroperasi terpisah) menghambat skala untuk bertransformasi menjadi efisiensi. Kedua unit bisnis memiliki fungsi back office terpisah untuk legal, kepatuhan, dan SDM, menciptakan apa yang Dorsey sebut sebagai "utang struktural".
Target baru USD 2 juta berarti, di samping pertumbuhan bisnis yang ada, Block akan memanfaatkan alat AI (seperti "Goose" milik mereka sendiri) dan tim yang lebih ramping untuk mendapatkan leverage eksponensial atas modal manusia. Model Dorsey "100 orang + AI = 1.000 orang" adalah visi konkret dari tujuan ini. Dengan proyeksi laba kotor 2026 sebesar USD 12,2 miliar, Block membutuhkan sekitar 6.100 karyawan untuk mencapai target USD 2 juta per karyawan—angka yang sangat dekat dengan jumlah karyawan pasca-PHK, menunjukkan bahwa tolok ukur ini adalah batas finansial yang presisi, bukan sekadar slogan.
Pendukung vs Skeptis: Pesta USD 68 Juta dan Dilema Kepercayaan
Opini publik terkait PHK besar-besaran ini terbelah menjadi dua kubu, tergantung pada bobot yang diberikan pada "transformasi berbasis AI" versus "koreksi manajemen".
- Pendukung: Merangkul Revolusi AI
Diwakili oleh analis Wall Street dan sebagian investor, kelompok ini melihat Block sebagai pelopor strategi baru bagi perusahaan teknologi pasca-pandemi. Analis Evercore, Adam Frisch, menyebutnya "momen penting dalam sejarah pengembangan AI". Para pendukung berargumen bahwa Dorsey tidak memangkas tenaga kerja karena krisis, melainkan melakukan restrukturisasi proaktif di masa kuat—sebuah strategi "first-mover" yang memastikan kelincahan di era AI. Lonjakan harga saham 20% setelah jam perdagangan dan kenaikan kapitalisasi pasar sebesar USD 6 miliar menjadi sinyal persetujuan pasar atas "efisiensi di atas skala".
- Skeptis: AI Sebagai Kedok Kegagalan Manajemen
Kritikus—termasuk sebagian pengguna X (sebelumnya Twitter) dan pegiat buruh—mengklaim bahwa menyalahkan PHK pada AI adalah "AI washing", cara untuk menutupi overhiring dan manajemen buruk selama pandemi. Perbandingan yang sangat kontroversial: hanya lima bulan sebelum PHK (September 2025), Block menggelar acara perusahaan mewah senilai USD 68,1 juta, menghadirkan selebritas seperti Jay-Z dan Anderson .Paak—setara dengan gaji tahunan sekitar 200 karyawan. Pendekatan "pesta dulu, PHK kemudian" ini dianggap oleh sebagian pihak sebagai bukti buruknya pengambilan keputusan di tingkat atas. Pengguna media sosial menyebutnya "gila" dan "tidak waras", menilai hal ini mengirim pesan buruk tentang prioritas dan kepemimpinan perusahaan.
- Titik Tengah: Koreksi Efisiensi, Apa pun Penyebabnya
Pandangan ini menilai bahwa, apakah pemicunya AI atau kesalahan manajemen, hasil akhirnya adalah penyesuaian terhadap "era gemuk". Mantan CTO Coinbase, Balaji Srinivasan, merangkum pandangan ini: industri teknologi sedang bergeser ke model produktivitas tim kecil berbasis AI. Sementara itu, paket pesangon Block (gaji 20 minggu, 6 bulan asuransi kesehatan, ekuitas, dan bantuan transisi USD 5.000) terbilang dermawan menurut standar industri, membantu meredam kritik terkait perlakuan terhadap karyawan.
AI: Alasan atau Alat?
- Fakta: Jumlah karyawan Block tumbuh dari sekitar 3.900 sebelum pandemi menjadi 12.500; integrasi struktural terjadi pada pertengahan 2024; hampir 4.000 PHK diumumkan pada Februari 2026, menargetkan tim di bawah 6.000; Dorsey secara terbuka mengakui overhiring akibat kesalahan struktur ganda; perusahaan menetapkan target USD 2 juta laba kotor per karyawan; laba kotor 2025 sebesar USD 10,36 miliar; lima bulan sebelum PHK, Block mengadakan acara besar senilai USD 68,1 juta.
- Perspektif:
- Dorsey dan manajemen: PHK adalah langkah strategis proaktif yang didorong oleh AI yang secara fundamental mengubah cara kerja. Tujuannya adalah perusahaan yang lebih gesit dan efisien—keputusan yang "dibangun dari posisi kuat".
- Kritikus: PHK adalah koreksi yang memang diperlukan akibat kesalahan manajemen Dorsey sendiri, dengan AI digunakan sebagai alasan yang nyaman. Pesta mewah yang diikuti PHK massal menyoroti lemahnya budaya dan tanggung jawab perusahaan.
- Analisis:
- Peran nyata AI: Apakah AI penyebab PHK, atau sekadar alat untuk mencapai efisiensi? Secara logis, AI sangat penting untuk mencapai target USD 2 juta per karyawan, namun pendorong utama PHK adalah koreksi overstaffing era pandemi akibat struktur yang keliru. AI memberikan justifikasi teknis sekaligus visi komersial untuk "koreksi efisiensi" ini. Tanpa AI, PHK massal bisa mengancam kelangsungan bisnis; tanpa PHK, AI hanya akan menghasilkan peningkatan marjinal, bukan lompatan efisiensi. Keduanya saling terkait dan saling memperkuat.
- Nilai perusahaan yang didefinisikan ulang: Restrukturisasi Block bisa menjadi model baru—nilai perusahaan teknologi tidak lagi diukur dari jumlah karyawan atau basis pengguna, melainkan "arus kas per unit modal manusia". Lonjakan kapitalisasi pasar USD 6 miliar akibat PHK mencerminkan pengakuan pasar atas model penilaian baru ini: setiap PHK menambah sekitar USD 1,5 juta nilai perusahaan.
Empat Pelajaran Penting untuk Kripto dan Teknologi
Langkah "perampingan" Block membawa implikasi luas bagi industri kripto dan teknologi, setidaknya menawarkan empat pelajaran utama yang mengubah paradigma:
- Menetapkan ulang tolok ukur efisiensi: Target USD 2 juta laba kotor per karyawan bisa menjadi standar efisiensi baru bagi perusahaan fintech matang. Untuk perusahaan kripto yang menghadapi tekanan kepatuhan (misal: KYC/AML) dan inovasi teknologi, memaksimalkan leverage modal manusia di tengah kompleksitas bisnis akan menjadi medan persaingan berikutnya. Poin Dorsey tentang "mengelola kompleksitas" (pembiayaan, perbankan, BNPL) adalah tantangan universal ketika perusahaan kripto bergerak menuju kepatuhan dan adopsi arus utama.
- Struktur organisasi AI-native: Contoh Block membuktikan bahwa "struktur datar + alat AI" dapat menggantikan "struktur hierarkis + jumlah karyawan". Alat AI internal "Goose" menunjukkan bahwa perusahaan kripto dan pembayaran dapat memangkas biaya operasional dan pengembangan melalui rantai alat internal yang cerdas. Bagi industri, ini berarti perlombaan talenta akan bergeser dari "kuantitas" ke "efisiensi kolaborasi manusia-mesin".
- Nilai komunikasi terbuka: Dorsey tidak menghindar dari mengakui kesalahan strategisnya, justru mempublikasikan masalah "utang struktural". Transparansi ini justru membantu membangun kepercayaan pasar di tengah krisis, membuka jalan bagi reformasi besar. Di sektor kripto yang sangat transparan, upaya menggunakan narasi AI untuk menutupi kesalahan manajemen pada akhirnya akan terungkap; mengakui kesalahan secara terbuka dan menawarkan jalur koreksi yang terukur dapat memenangkan respek pasar.
- Menyeimbangkan budaya dan disiplin finansial: Kontras mencolok antara pesta USD 68,1 juta dan PHK massal menjadi peringatan bagi seluruh perusahaan teknologi: bahkan di masa keuangan kuat, perusahaan harus tetap sensitif terhadap pengeluaran berlebihan dan keputusan jumlah karyawan. Ketika narasi "pesta dulu, PHK kemudian" muncul, PHK yang secara komersial dibenarkan pun akan menimbulkan biaya tambahan dalam membangun kembali kepercayaan budaya.
Tiga Skenario Evolusi yang Mungkin Terjadi
- Skenario 1: Mitos Efisiensi Terwujud (Probabilitas Tinggi)
Jika Block berhasil mencapai target laba kotor USD 12,2 miliar pada 2026 dengan tim sekitar 6.000 orang, laba kotor per karyawan akan mendekati USD 2 juta. Ini akan memicu "gelombang peniruan" di industri, dengan lebih banyak perusahaan melepas bisnis non-inti dan meningkatkan investasi AI untuk memaksimalkan output modal manusia. Block akan bertransformasi dari perusahaan pembayaran menjadi pemimpin teknologi efisiensi tinggi berbasis AI, dengan strategi integrasinya menjadi studi kasus di sekolah bisnis.
- Skenario 2: Ketidakseimbangan Inovasi-Kepatuhan (Probabilitas Sedang)
Pemangkasan jumlah karyawan yang agresif bisa melemahkan fungsi risiko dan kepatuhan yang krusial. Mengingat eksposur Block pada pembiayaan, BNPL, dan kustodian Bitcoin, setiap celah kepatuhan akibat kekurangan staf bisa memicu sanksi regulator yang menghapus seluruh keuntungan efisiensi. Dalam skenario ini, laba per karyawan yang melonjak bisa diimbangi oleh lonjakan risiko, membuat Block "lebih efisien tapi kurang patuh".
- Skenario 3: Kehilangan Talenta dan Budaya Secara Bersamaan (Probabilitas Rendah)
PHK massal dan pesta mewah sebelumnya bisa merusak reputasi Block sebagai pemberi kerja di pasar talenta. Rekrutmen talenta AI atau keuangan terbaik di masa depan mungkin memerlukan "premi kepercayaan" yang lebih tinggi. Jika jalur talenta terputus, inovasi jangka panjang akan terganggu, dan target USD 2 juta per karyawan bisa menjadi tidak berkelanjutan akibat menurunnya kualitas SDM.
Kesimpulan
"Operasi bedah" Jack Dorsey pada Block, di permukaan, adalah respons proaktif terhadap gelombang AI, namun pada intinya, ini adalah pertanggungjawaban penuh atas "utang struktural" dari siklus sebelumnya. Dengan menetapkan target USD 2 juta laba kotor per karyawan, ia secara paksa menggeser perusahaan dari narasi lama soal skala menuju medan persaingan baru yang berfokus pada efisiensi unit.
Apa pun hasil akhirnya, kasus Block telah menetapkan tolok ukur baru dalam pemikiran sektor kripto dan teknologi: tetaplah berhemat meski di masa berlimpah, kejar kesederhanaan di tengah kompleksitas bisnis, dan—saat gelembung pecah—temukan keberanian untuk mengakui kesalahan dan membangun ulang. Bagi para profesional industri, ini bukan sekadar penyesuaian bisnis, melainkan ujian ketahanan organisasi, keterbukaan strategi, dan batas efisiensi yang sesungguhnya. Saat pesta USD 68,1 juta berlalu dan 4.000 karyawan menjalani masa transisi, ujian nyata baru saja dimulai: mampukah Block yang lebih ramping memenuhi janji efisiensi USD 2 juta per karyawan sambil tetap patuh dan tangguh? Jawabannya akan terungkap dalam tahun mendatang.


