Menurut laporan dari @CoinDesk yang mengutip sumber-sumber yang memahami situasi ini, raksasa teknologi Meta yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg berencana untuk kembali memasuki ranah stablecoin pada paruh kedua tahun ini. Langkah ini diambil hanya empat tahun setelah proyek ambisius Libra—yang kemudian berganti nama menjadi Diem—berakhir dengan kegagalan.
Berbeda dengan upaya sebelumnya membangun ekosistem keuangan independen, kembalinya Meta kali ini tampak jauh lebih hati-hati dan pragmatis. Dengan mengacu pada perkembangan industri terkini dan data pasar Gate, artikel ini akan menganalisis tujuan strategis di balik langkah Meta, perubahan lingkungan pasar, serta potensi dampaknya.
Strategi Baru: Bermitra Alih-Alih Membangun dari Awal
Menurut tiga orang dalam, rencana integrasi stablecoin Meta tidak lagi berfokus pada penerbitan token eksklusif milik sendiri. Sebaliknya, perusahaan kini beralih ke kolaborasi dengan penyedia pihak ketiga yang sudah mapan. Meta telah mengirimkan permintaan produk ke sejumlah perusahaan fintech, dengan tujuan menghadirkan mitra eksternal untuk mengelola sistem pembayaran berbasis stablecoin, serta berencana meluncurkan dompet digital baru seiring upaya tersebut.
Di antara calon mitra, Stripe sebagai pemroses pembayaran menonjol sebagai kolaborator pilot yang paling memungkinkan. Stripe mengakuisisi perusahaan infrastruktur stablecoin Bridge tahun lalu, dan CEO-nya, Patrick Collison, bergabung dengan dewan Meta pada April 2025. Koneksi yang erat ini menjadikan kerja sama antara kedua perusahaan sebagai langkah yang alami.
Juru bicara Meta, Andy Stone, kemudian memberikan tanggapan di platform sosial X dengan menyatakan: "Bisnis berjalan seperti biasa—masih belum ada stablecoin Meta. Fokusnya adalah memungkinkan individu dan bisnis menggunakan metode pembayaran pilihan mereka di platform Meta." Pernyataan resmi ini dengan jelas menggambarkan posisi baru Meta: beralih dari pembuat aturan menjadi integrator dan pengguna infrastruktur yang sudah ada.
Pelajaran dari Libra/Diem: Kegagalan Regulasi
Untuk memahami perubahan strategi Meta, penting untuk meninjau kembali upaya sebelumnya yang kurang berhasil.
Pada tahun 2019, saat Meta masih dikenal sebagai Facebook, perusahaan merilis whitepaper Libra dengan tujuan membangun token digital lintas batas. Rencana tersebut langsung memicu reaksi keras dari regulator global. Para pembuat kebijakan khawatir bahwa platform sosial dengan miliaran pengguna yang menerbitkan mata uang sendiri akan mengancam kedaulatan moneter nasional, stabilitas keuangan, dan keamanan data. Di bawah tekanan politik yang intens, mitra inti seperti Visa dan PayPal menarik diri, proyek ini diperkecil dan berganti nama menjadi Diem, dan akhirnya ditutup pada awal 2022 dengan aset dijual.
Mark Zuckerberg mengakui dalam sidang kongres bahwa ini adalah "proyek berisiko tinggi." Kegagalan tersebut mengajarkan pelajaran penting bagi Meta: dalam dunia infrastruktur keuangan, ambisi dan kemampuan teknis saja tidak cukup—kepatuhan dan kepercayaan adalah fondasi utama untuk bertahan.
Perubahan Lanskap Regulasi: Dari "Zero Tolerance" ke Aturan yang Jelas
Jika empat tahun lalu lingkungan regulasi di Amerika Serikat menerapkan "zero tolerance" terhadap Meta, kini terdapat jalur yang relatif jelas untuk pengembangan stablecoin.
Dengan mantan Presiden Trump menandatangani GENIUS Act, AS menetapkan kerangka hukum federal pertama untuk penerbit stablecoin. Disahkannya undang-undang ini membuka pintu bagi pelaku pasar, memberikan status hukum yang jelas bagi stablecoin yang patuh regulasi. Di tengah kondisi ini, Meta melihat peluang untuk meluncurkan kembali strategi pembayaran mereka. Dengan memperkenalkan stablecoin pihak ketiga yang teregulasi—seperti token yang dipatok 1:1 terhadap dolar AS—Meta dapat memanfaatkan efisiensi blockchain sekaligus menghindari pengawasan regulasi secara langsung.
Seorang orang dalam merangkum pola pikir ini secara singkat: "Mereka ingin melakukan ini, tetapi tetap menjaga jarak aman."
Nilai Strategis dan Kompetisi Industri: Jalan Menuju Super Apps
Bagi Meta, yang memiliki Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lebih dari 3 miliar pengguna aktif bulanan, integrasi pembayaran stablecoin menawarkan nilai komersial yang sangat besar.
Pertama, hal ini dapat memangkas biaya secara drastis untuk remitansi lintas negara dan pembayaran kepada kreator. Transfer bank tradisional dan jaringan kartu kredit mahal dan kurang efisien, sementara stablecoin yang memanfaatkan teknologi blockchain memungkinkan transfer dana hampir instan dengan biaya sangat rendah. Bayangkan seorang kreator konten di Asia Tenggara menerima pembayaran stablecoin dolar dari merek AS secara nyaris real-time tanpa terkena biaya remitansi yang tinggi.
Kedua, langkah ini akan langsung mendorong Meta masuk ke ranah "social commerce." Dengan menyematkan fungsi pembayaran di chat WhatsApp, belanja Instagram, dan Facebook Marketplace, Meta dapat menantang platform X milik Musk dan Telegram dalam persaingan menuju "super app." Menutup siklus antara interaksi sosial dan transaksi keuangan adalah kunci untuk meningkatkan keterlibatan pengguna dan nilai platform.
Data Pasar dan Analisis Korelasi Industri
Meskipun langkah Meta bukan merupakan nasihat investasi, dampaknya terhadap pasar kripto sangat signifikan. Per 25 Februari 2026, data pasar Gate menunjukkan Bitcoin (BTC) naik +3,76% dalam 24 jam terakhir menjadi $65.573,4, dengan sentimen pasar secara umum netral. Ethereum (ETH) juga mencatat kenaikan +4,66%, mencapai $1.912,3.
| Aset | Harga (USD) | Volume 24h | Market Cap | Perubahan 24h |
|---|---|---|---|---|
| Bitcoin (BTC) | $65.573,4 | $1,23M | $1,31T | +3,76% |
| Ethereum (ETH) | $1.912,3 | $386,23J | $231,09M | +4,66% |
Walaupun Meta bermitra dengan stablecoin yang sudah ada dan tidak menerbitkan token sendiri, langkah ini merupakan dukungan kuat terhadap stablecoin sebagai "alat pembayaran" yang praktis. Hal tersebut akan membawa eksposur pengguna yang masif ke industri dan dapat mendorong pertumbuhan ekosistem blockchain yang terkait dengan protokol pembayaran. Ekspektasi masuknya modal institusi sering tercermin dalam penemuan harga aset utama, sebagaimana pengumuman proyek Libra dahulu memicu volatilitas signifikan pada BTC dan aset lain karena antisipasi adopsi berskala besar.
Kesimpulan
Langkah Mark Zuckerberg untuk memimpin Meta kembali ke arena stablecoin menandai fase baru dalam konvergensi raksasa teknologi dan keuangan kripto. Kali ini, Meta tidak berupaya menantang bank sentral, melainkan merangkul kerangka regulasi yang ada dan memanfaatkan mitra seperti Stripe untuk menyematkan stablecoin sebagai infrastruktur efisien dalam imperium sosialnya yang luas.
Keberhasilan strategi ini akan bergantung pada kelancaran integrasi teknis, adopsi pengguna, serta apakah regulator bersedia menerima platform dengan 3 miliar pengguna sebagai saluran distribusi pembayaran utama. Satu hal yang pasti: langkah terbaru Meta telah menekan pedal gas untuk stablecoin, mendorongnya dari "crypto-native" menuju adopsi global arus utama.


