Di tengah perubahan kebijakan makroekonomi dan injeksi likuiditas yang terus berlangsung, Bitcoin sedang mengalami penilaian ulang yang krusial. Berdasarkan laporan terbaru dari Tiger Research, tim tersebut menetapkan target harga sebesar $185.500 untuk kuartal I 2026—hampir 100% potensi kenaikan dari harga pasar saat publikasi (sekitar $96.000).
Kerangka analisis Tiger Research menunjukkan bahwa proyeksi ini jauh dari sekadar spekulasi. Sebaliknya, prediksi tersebut didasarkan pada Metodologi Penilaian Tiger yang mereka kembangkan sendiri, menggabungkan penilaian dasar netral sebesar $145.000 dengan faktor penyesuaian makro +25%.
Struktur pasar sedang mengalami transformasi mendasar. Efek siklus halving empat tahunan yang selama ini menjadi acuan mulai melemah, sementara sinyal jelas dari kebijakan fiskal, moneter, dan perkembangan regulasi kini muncul sebagai penggerak pasar yang lebih dominan.
01 Proyeksi Inti: Model Penilaian dan Level Harga Kunci
Pada pertengahan Januari 2026, lembaga riset Web3 terkemuka di Asia, Tiger Research, merilis laporan penilaian Bitcoin terbarunya. Kesimpulan utama: di bawah lingkungan kebijakan makro yang kondusif dan ekspansi likuiditas struktural, target harga Bitcoin untuk kuartal I 2026 ditetapkan pada $185.500.
Target ini bukan sekadar ekstrapolasi linier. Tiger Research menggunakan Metodologi Penilaian Tiger yang mereka kembangkan sendiri untuk menghasilkan angka tersebut. Model ini terlebih dahulu menetapkan "penilaian netral" berdasarkan fundamental on-chain dan tren perkembangan jaringan jangka panjang, yang dalam laporan ini sebesar $145.000.
Analis kemudian menerapkan faktor penyesuaian makro +25% untuk mencerminkan ekspektasi mereka terhadap pergeseran positif di lingkungan keuangan global, sehingga akhirnya diperoleh proyeksi $185.500.
Meskipun target ini lebih rendah dibandingkan laporan sebelumnya (dengan faktor makro turun dari +35% menjadi +25%), laporan tersebut menekankan bahwa hal ini tidak boleh diartikan sebagai sinyal bearish. Sebaliknya, penyesuaian ini mencerminkan pandangan hati-hati terhadap perlambatan arus masuk institusional dan ketidakpastian geopolitik. Model tersebut sendiri tetap mengindikasikan prospek bullish yang kuat.
Laporan ini juga memberikan kerangka analisis teknikal yang jelas: $84.000 diidentifikasi sebagai level support on-chain yang solid, setelah mampu menahan tekanan beli selama koreksi pasar pada November 2025. Sementara itu, $98.000 menjadi rata-rata biaya kepemilikan bagi pemegang jangka pendek dan berfungsi sebagai level resistance utama yang perlu ditembus.
02 Penggerak Makro: Siklus Pemangkasan Suku Bunga dan Lanskap Likuiditas
Kekuatan utama yang mendukung proyeksi optimistis ini berasal dari perubahan lanskap makroekonomi global. Laporan tersebut mencatat bahwa lingkungan makro Bitcoin tetap kuat, terutama karena dimulainya siklus penurunan suku bunga yang dipimpin oleh Federal Reserve dan bank sentral utama lainnya.
Data menunjukkan bahwa dari September hingga Desember 2025, Federal Reserve menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, sehingga kisaran suku bunga acuan turun ke 3,50%–3,75%. Pasar memperkirakan sikap moneter akomodatif ini akan berlanjut hingga 2026.
Ryan Yoon, Senior Analyst Tiger Research, menjelaskan dalam sebuah wawancara, "Ketika pasar mengantisipasi pelonggaran kuantitatif semu, Bitcoin cenderung bereaksi lebih dulu. Mengingat sensitivitas Bitcoin yang tinggi terhadap likuiditas, aset ini diperkirakan akan memimpin tren pasar." Istilah "pelonggaran kuantitatif semu" di sini merujuk tidak hanya pada kebijakan moneter bank sentral, tetapi juga pada langkah fiskal yang menyuntikkan likuiditas dan menurunkan biaya pinjaman riil.
Lebih penting dari tingkat suku bunga itu sendiri adalah total likuiditas sistem. Laporan tersebut menyoroti bahwa suplai uang global M2 mencapai rekor tertinggi pada kuartal IV 2024 dan terus mengalami ekspansi.
Pola historis menunjukkan bahwa harga Bitcoin sering kali memimpin siklus likuiditas, biasanya mulai naik sebelum M2 mencapai puncaknya. Lingkungan likuiditas yang melimpah dan terus bertambah saat ini dipandang sebagai penggerak utama potensi kenaikan Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang. Para analis meyakini, jika pasar ekuitas tradisional menjadi terlalu mahal, sebagian modal dapat mengalir ke aset alternatif seperti Bitcoin.
03 Katalis Kebijakan: Mampukah "CLARITY Act" Membuka Kotak Pandora?
Di luar likuiditas makro, kerangka regulasi yang jelas dipandang sebagai "katalis kebijakan" yang mampu memicu gelombang baru arus modal institusional. Laporan tersebut menempatkan "CLARITY Act" yang sedang dibahas di Kongres AS sebagai perkembangan yang sangat penting.
Inti dari Undang-Undang ini adalah memperjelas otoritas regulasi: menetapkan batas yurisdiksi antara US Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) atas aset digital, dengan memberikan pengawasan utama atas pasar spot komoditas digital kepada CFTC. Hal ini memberikan ekspektasi hukum yang jelas bagi bursa dan broker untuk menjalankan operasional yang sesuai regulasi.
Lebih revolusioner lagi, Undang-Undang ini memungkinkan bank untuk menawarkan layanan kustodi dan staking aset digital. Jika disahkan, ketentuan ini akan secara fundamental menghapus hambatan utama yang selama ini menghalangi institusi keuangan besar untuk masuk ke pasar kripto.
Peter Chung, Head of Research di Presto Research, menyoroti bahwa dengan pemilu paruh waktu AS yang akan berlangsung pada November 2026, para legislator termotivasi untuk menghasilkan regulasi yang ramah terhadap industri kripto. Narasi pasar pun mulai berubah, dan perkembangan CLARITY Act akan sangat menentukan arah industri dalam jangka panjang.
Laporan tersebut berpendapat bahwa jika Undang-Undang ini lolos, bank-bank besar dan manajer aset tradisional—yang sebelumnya masih menunggu di pinggir lapangan—dapat secara resmi masuk ke industri ini, membawa arus modal dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
04 Realitas Pasar: Arus Keluar Institusional Jangka Pendek dan Komitmen Jangka Panjang
Meski sinyal makro dan kebijakan tampak positif, arus pasar jangka pendek menghadirkan gambaran yang lebih kompleks. Laporan tersebut mengakui bahwa momentum pasar belakangan ini melemah, dengan salah satu penyebab langsung adalah penarikan sementara oleh investor institusional.
Data menunjukkan bahwa ETF Bitcoin spot mengalami arus keluar bersih sebesar $4,57 miliar pada November dan Desember 2025—menjadi arus keluar bulanan terbesar sejak produk ini diluncurkan. Hal ini sebagian menjelaskan mengapa harga Bitcoin sempat terkoreksi sekitar 12% dari puncaknya di Oktober 2025.
Di sisi lain, pembeli strategis jangka panjang—khususnya korporasi—terus melakukan akumulasi. Contoh paling menonjol adalah MicroStrategy, yang kini memiliki lebih dari 680.000 Bitcoin, setara dengan sekitar 3,2% dari total suplai yang beredar. Perusahaan publik seperti Metaplanet dan Mara juga mengikuti strategi akumulasi serupa.
Fenomena yang tampak kontradiktif ini mengungkapkan lapisan pasar yang kompleks: sebagian investor ETF mungkin mengambil keuntungan atau menyeimbangkan risiko jangka pendek, sementara modal lain memandang Bitcoin sebagai alat utama untuk lindung nilai terhadap depresiasi mata uang dan alokasi aset jangka panjang.
Laporan "Top 10 Perubahan Pasar Kripto Tahun 2026" dari Tiger Research memprediksi tren ini akan berlanjut, dengan modal institusional fokus pada aset seperti Bitcoin dan Ethereum yang telah diterima secara luas di sektor keuangan arus utama. Pertumbuhan pasar akan terkonsentrasi pada proyek yang memenuhi standar institusional.
05 Perspektif Investasi: Struktur Pasar dan Risiko di Siklus Baru
Struktur pasar saat ini sangat berbeda dari siklus sebelumnya. Laporan tersebut mencatat bahwa meningkatnya porsi modal institusional dan jangka panjang mengurangi kemungkinan terjadinya aksi jual panik yang dipicu oleh investor ritel. Koreksi pasar belakangan ini lebih banyak terkait dengan penyeimbangan aset secara bertahap, bukan karena kepanikan massal.
Data on-chain mendukung perubahan sentimen ini. Indikator utama seperti skor MVRV-Z dan rasio laba/rugi bersih yang belum terealisasi telah keluar dari zona "undervalued" atau "panic" dan kini berada di wilayah "netral". Hal ini mengindikasikan bahwa pasar telah pulih dari penurunan tajam, dan kenaikan berikutnya membutuhkan narasi fundamental baru (seperti terobosan regulasi) atau penggerak makro.
Namun, meski investor tertarik pada target $185.500 yang menggiurkan, mereka juga harus memperhatikan potensi risiko berikut:
- Ketidakpastian kebijakan Federal Reserve: Masa jabatan Ketua Fed Powell berakhir pada Mei 2026, dan arah kebijakan penerusnya bisa menghadirkan variabel baru.
- Risiko geopolitik: Ketegangan global yang meningkat dapat memicu sentimen risk-off secara luas, berdampak pada semua aset berisiko—termasuk kripto.
- Resistance teknikal: Bitcoin harus mampu menembus dan bertahan di atas level resistance krusial $98.000 untuk membuka jalan menuju target yang lebih tinggi.
Bagi investor yang mencari peluang di platform seperti Gate, memahami sinyal yang berlapis—dan kadang kontradiktif—ini sangat penting. Strategi investasi harus melampaui model siklus historis, dengan memasukkan linimasa kebijakan makro, perkembangan regulasi, dan arus modal on-chain ke dalam kerangka analisis yang komprehensif.
Prospek
Saat harga Bitcoin di Gate bertahan di kisaran $91.000, para analis pasar sudah mulai mengarahkan pandangan melampaui resistance $98.000, menuju baseline $145.000.
Gelombang suplai uang global M2 terus meningkat, sementara CLARITY Act berpotensi menjadi kunci pembuka gerbang antara keuangan tradisional dan dunia kripto.
Setiap pergerakan harga Bitcoin di chart bukan sekadar cerminan sentimen trader—melainkan sebuah nada dalam simfoni kompleks yang digubah oleh tingkat suku bunga makro, agenda legislatif kongres, dan arus modal global.


