

Platform perdagangan kripto umumnya menyediakan dua mode utama margin trading: Isolated Margin dan Cross Margin. Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan yang dirancang sesuai profil risiko dan strategi investasi yang beragam. Memahami perbedaan mendasar antara kedua sistem ini sangat penting untuk mengoptimalkan strategi trading dan mengelola modal secara efektif. Pengetahuan tentang cross margin membantu Anda memilih strategi yang paling sesuai dengan tujuan investasi Anda.
Isolated Margin Mode merupakan konfigurasi trading di mana margin yang dialokasikan pada setiap posisi bersifat terpisah dan spesifik untuk setiap pasangan trading. Anda dapat membuka beberapa akun isolated margin untuk berbagai pasangan kripto, sehingga memudahkan pemisahan transaksi secara jelas.
Salah satu ciri utama Isolated Margin adalah modal dan transaksi hanya terbatas pada aset kripto yang telah ditetapkan di masing-masing akun. Misalnya, untuk akun isolated margin pasangan BTCUSDC, Anda hanya bisa mentransfer, menyimpan, dan meminjam Bitcoin (BTC) dan USDC. Pola ini memberi Anda kendali penuh atas setiap posisi secara terpisah.
Setiap posisi dikelola secara mandiri dari sisi risiko. Jika Anda perlu menambah margin pada suatu posisi, penambahan harus dilakukan langsung ke akun isolated margin terkait. Sistem tidak akan mengalokasikan margin secara otomatis dari akun isolated lainnya. Dengan demikian, jika suatu posisi terkena likuidasi, hal tersebut tidak akan memengaruhi posisi isolated margin lainnya; masing-masing tetap memiliki level margin dan protokol manajemen risiko tersendiri.
Cross Margin Mode membagi margin ke seluruh posisi cross margin Anda. Berbeda dengan isolated margin, Anda hanya memiliki satu akun cross margin yang dapat digunakan untuk semua pasangan trading di platform. Pemahaman mendalam tentang cross margin sangat penting untuk memaksimalkan efisiensi modal Anda.
Pada Cross Margin, seluruh saldo akun Anda berfungsi sebagai agunan untuk semua posisi terbuka. Level margin dihitung berdasarkan total nilai aset dan total kewajiban dalam akun cross margin. Sistem secara berkala memantau level margin konsolidasi ini dan akan memberi notifikasi jika Anda perlu menambah margin atau menutup posisi agar risiko tetap terkendali.
Mode ini memberikan fleksibilitas lebih dan kebutuhan margin awal yang lebih rendah, karena keuntungan dari satu posisi dapat mengimbangi kerugian dari posisi lain, sehingga manajemen portofolio menjadi lebih dinamis.
Untuk memperjelas perbedaan operasionalnya, berikut contoh dua trader: User A menggunakan Cross Margin dan User B memakai Isolated Margin.
Kondisi Awal:
Keduanya menyetor 4.000 USDC sebagai margin awal. Pada saat itu, ETH diperdagangkan di kisaran 2.300 USDC dan BCH di 1.600 USDC. Masing-masing membeli 3 ETH dan 3 BCH dengan leverage rata-rata 3X.
User A membuka posisi cross margin dengan level margin 1,5 (nilai total aset dibagi total kewajiban). User B membagi 4.000 USDC menjadi dua akun isolated masing-masing 2.000 USDC, sehingga setiap akun memiliki level margin 1,5. Keduanya memulai dalam kondisi normal.
Pergerakan Pasar Selama Perdagangan:
ETH mengalami kenaikan nilai, sedangkan BCH turun. Level margin User A akan menyesuaikan secara dinamis, tetap aman karena keuntungan ETH membantu menutupi kerugian BCH. User B mendapatkan hasil berbeda: posisi ETH semakin kuat, tetapi posisi BCH menurun hingga memicu margin call.
Likuidasi dalam Kondisi Kritis:
Pada volatilitas pasar yang tinggi, perbedaannya menjadi tampak jelas. User A menghadapi margin call pada akun konsolidasinya, tetapi posisinya tetap terbuka. Sementara itu, posisi BCH milik User B akan dilikuidasi saat margin turun di bawah batas minimum, sedangkan posisi ETH tetap aman berkat isolasi margin.
Kedua mode margin memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus dipertimbangkan sesuai toleransi risiko dan strategi trading Anda. Isolated Margin memberikan perlindungan khusus untuk setiap posisi, sehingga kerugian pada satu pasangan tidak langsung berdampak pada pasangan lain. Mode ini ideal bagi trader konservatif atau mereka yang ingin mencoba strategi baru dalam kontrol risiko yang ketat.
Sebaliknya, pemahaman tentang cross margin menegaskan bahwa mode ini menawarkan fleksibilitas lebih tinggi dan kebutuhan margin yang lebih rendah, memungkinkan keuntungan menutupi kerugian secara lebih efisien. Sistem ini cocok bagi trader berpengalaman yang mengelola banyak posisi berkorelasi dan ingin mengoptimalkan penggunaan modal.
Pilihan akhir sebaiknya didasarkan pada pengalaman trading, toleransi risiko, dan tujuan investasi spesifik. Keduanya adalah instrumen penting bagi trader profesional.
Cross-Chain Exchange adalah platform trading kripto terdesentralisasi yang memungkinkan pengguna memperdagangkan aset secara langsung antar blockchain berbeda tanpa perantara. Platform ini memudahkan transfer dan pertukaran aset digital lintas blockchain yang berbeda, serta meningkatkan likuiditas dan aksesibilitas pasar.











