CEO BlackRock, Larry Fink, memicu perdebatan tentang masa depan dolar AS setelah memperingatkan bahwa kenaikan pembayaran bunga utang dapat melemahkan kepercayaan terhadap mata uang tersebut. Berbicara pada 10 Februari 2026, Fink mengatakan bahwa jika AS gagal mengendalikan biaya utangnya, dolar bisa akhirnya menyerupai “uang monopoli.”
Komentar https://twitter.com/cryptorover/status/2021458804194652382?s=46His muncul di saat yang krusial bagi ekonomi AS. Utang federal telah meningkat menjadi sekitar $38 triliun, berdasarkan data terbaru dari Departemen Keuangan AS. Pada saat yang sama, pemerintah kini menghabiskan sekitar 20% dari anggaran federalnya hanya untuk pembayaran bunga. Angka ini telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pinjaman.
Pemerintah AS terus meminjam secara besar-besaran untuk membiayai operasinya. Namun, kenaikan suku bunga membuat pinjaman tersebut menjadi lebih mahal. Akibatnya, pembayaran utang kini mengambil porsi besar dari pengeluaran tahunan.
Ketika pemerintah mengarahkan seperlima dari anggarannya untuk pembayaran bunga, hal ini menyisakan lebih sedikit dana untuk infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan keamanan nasional. Seiring waktu, ketidakseimbangan ini dapat membebani keuangan publik dan melemahkan fleksibilitas ekonomi. Fink menekankan bahwa pembuat kebijakan harus menangani tren ini sebelum merusak kepercayaan global terhadap dolar.
Dia memperingatkan bahwa jika para pemimpin membiarkan pembayaran utang membengkak, para investor mungkin mempertanyakan stabilitas jangka panjang kebijakan fiskal AS. Hilangnya kepercayaan tersebut dapat mengurangi permintaan terhadap dolar di pasar global.
Fink juga menunjuk ke “aset jangka panjang” sebagai perlindungan potensial jika mata uang fiat menghadapi tekanan. Secara historis, investor beralih ke emas dan logam mulia lainnya selama masa ketidakpastian ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak yang juga menerima Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.
Pendukung aset digital berargumen bahwa pasokan Bitcoin yang tetap membuatnya tahan terhadap jenis ekspansi moneter yang dapat melemahkan mata uang tradisional. Pernyataan Fink tersebut telah memicu diskusi di komunitas kripto, yang sering memandang Bitcoin sebagai perlindungan terhadap risiko utang negara.
Meskipun ada kekhawatiran ini, dolar AS tetap mendominasi perdagangan dan keuangan global. Bank sentral memegangnya sebagai mata uang cadangan utama, dan pasar internasional bergantung padanya untuk penetapan harga komoditas dan penyelesaian transaksi.
Namun, peringatan Larry Fink menambah urgensi dalam perdebatan yang lebih luas tentang disiplin fiskal dan keberlanjutan jangka panjang. Meski posisi dolar tetap aman untuk saat ini, peningkatan utang terus menguji ketahanan mata uang cadangan utama dunia.