Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran, menyebabkan gejolak hebat di pasar mata uang virtual. Saat harga mata uang utama seperti Bitcoin turun, pasar menunjukkan langkah-langkah untuk mengatasi ketidakstabilan geopolitik.
Setelah kabar serangan terhadap Iran muncul pada tanggal 28 waktu setempat, harga Bitcoin turun ke $63,038 pada pukul 6 pagi waktu New York, kemudian diperdagangkan di sekitar garis $64,000. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi situasi tidak stabil, pasar tetap melakukan penyesuaian yang tepat. Ethereum juga mengalami dampak serupa, sempat anjlok 4,5% ke $1,836.
Penurunan harga ini meskipun dipicu oleh aksi militer AS dan Israel, pasar mata uang virtual sebelumnya sudah menunjukkan tren melemah. Sejak Oktober tahun lalu, setelah kerugian besar akibat penyelesaian kontrak berjangka Bitcoin, pasar terus mengalami penurunan. Dalam konteks ini, situasi Iran menjadi faktor gangguan tambahan.
Menurut data dari platform analisis pasar CoinGecko, setelah berita terkait Iran muncul, nilai pasar aset digital sekitar $128 miliar menguap. Hal ini dipandang sebagai hasil dari investor global yang mencari instrumen investasi aman di tengah ketidakpastian. Senior strategi investasi di Wells Bank, Susanna Stritt, memperkirakan bahwa dalam situasi tidak pasti ini, dana akan semakin mengalir ke aset aman seperti emas.
Tren ini memicu perhatian terhadap bagaimana masa depan mata uang virtual akan merespons guncangan eksternal. Meskipun terjadi fluktuasi jangka pendek, arah tren jangka panjang pasar masih sulit diprediksi. Para ahli ekonomi menyatakan bahwa volatilitas yang telah sebagian dicerna mungkin akan membantu stabilitas pasar di masa depan.