Saham Bank of China (Hong Kong) (02388) naik tajam, menembus HK$50 dan mencapai rekor tertinggi baru di HK$50,55, naik hingga 4,5%. Pada pukul 9:50, saham diperdagangkan pada HK$50,15, naik 3,7%, dengan nilai transaksi melebihi HK$330 juta. Goldman Sachs merilis laporan pekan lalu yang memperkirakan laba kuartal kedua bank sebesar HK$10,51 miliar, yang mencerminkan kenaikan 2% year-on-year, tetapi turun 16% quarter-on-quarter, dipicu oleh biaya kredit yang dinormalisasi serta penurunan pendapatan non-bunga lainnya.
Goldman Sachs Memproyeksikan Laba Q2 dan Pertemuan Analis Berfokus pada Ini
Goldman Sachs mengaitkan penurunan laba kuartal ke kuartal yang diperkirakan masih dua digit pada kuartal kedua dengan dua faktor utama: normalisasi biaya kredit dan normalisasi penurunan pada pendapatan non-bunga lainnya. Bank investasi menyatakan bahwa pertemuan analis mendatang diperkirakan berfokus pada tiga area kunci: pembaruan rencana pengembalian modal 2026–2028, prospek eksposur real estat komersial di Hong Kong dan Tiongkok daratan, serta potensi dampak dari peraturan pelaporan lintas batas baru di Tiongkok.
Goldman Sachs Mempertahankan Rekomendasi Buy dan Harga Target HK$53,3
Goldman Sachs mempertahankan harga target 12 bulan untuk Bank of China (Hong Kong) di HK$53,3 dan mengulang rekomendasi “Buy” untuk saham tersebut.
FAQ
Apa yang menyebabkan saham Bank of China Hong Kong mencapai rekor tertinggi baru?
Saham Bank of China (Hong Kong) (02388) mencapai rekor tertinggi baru di HK$50,55 pada hari perdagangan, naik hingga 4,5% dan menembus level HK$50. Pada pukul 9:50, saham diperdagangkan pada HK$50,15, naik 3,7%, dengan nilai transaksi melebihi HK$330 juta.
Bagaimana prospek Goldman Sachs terhadap saham Bank of China Hong Kong?
Goldman Sachs memproyeksikan laba kuartal kedua Bank of China (Hong Kong) sebesar HK$10,51 miliar, naik 2% year-on-year namun turun 16% quarter-on-quarter. Perusahaan mempertahankan harga target 12 bulan sebesar HK$53,3 dan mengulang rekomendasi “Buy”, dengan menyebut biaya kredit yang dinormalisasi serta pendapatan non-bunga sebagai faktor yang mendorong penurunan berurutan.