Menurut The Economist pada 24 Juli, penerbit tersebut memperingatkan bahwa investor ritel Korea telah terjebak dalam reksa dana terbuka berbasis indeks (ETF) berleveraj, dengan membandingkan pasar tersebut seperti kasino karena spekulasi ekstrem yang memperkuat volatilitas. Warga Korea Selatan telah menuangkan sekitar $10 miliar ke ETF berleveraj tahun ini, dengan mekanisme rebalancing harian yang memaksa pembelian tambahan saat harga naik dan penjualan paksa saat harga turun, sehingga makin membuat pasar tidak stabil.
Majalah mingguan itu mencatat bahwa ETF berleveraj berbasis satu saham—seperti yang melacak Samsung Electronics dan SK Hynix—memiliki risiko jauh lebih tinggi daripada ETF terdiversifikasi, karena mereka melipatgandakan pergerakan harga saham individual berkali-kali lipat. The Economist memperingatkan bahwa bahkan jika regulator keuangan saat ini menyesal mengizinkan produk-produk ini, menarik investor Korea dari “investasi baru yang menarik” tersebut akan terbukti sulit. Indeks KOSPI telah melonjak hampir tiga kali lipat sejak awal 2025, tetapi turun sekitar 25 persen sejak Juni.