Menurut Barron's, emas telah turun lebih dari 13% dari level tertinggi terbarunya sebesar $5.247 per ounce menjadi di atas $4.500, sementara VanEck Vectors Gold Miners ETF (GDX-US) turun 24% sejak akhir Februari. Analis memandang saham pertambangan emas sebagai permainan dengan leverage atas bullion, yang berpotensi memberikan imbal hasil melebihi 15% saat harga emas pulih. Empat perusahaan pertambangan menonjol: Angulo Gold (AU-US), Kinross Gold (KGC-US), Equinox Gold (EQX-US), dan Orla Mining (ORLA-US)—semuanya membukukan kenaikan di atas 70% dalam setahun terakhir, jauh mengungguli imbal hasil ETF sebesar 61%.
Data World Gold Council menunjukkan bank sentral meningkatkan pembelian emas sebesar 17% per tahun dari 2021 hingga 2025, mendukung kekuatan harga jangka panjang. Strategis JP Morgan memproyeksikan emas bisa mencapai $5.245 per ounce pada 2027, yang setara dengan kenaikan 16% dari level saat ini.