Menurut BlockBeats, hari ini (22 Juli), ketegangan di Timur Tengah meningkat seiring gangguan pasokan energi. Lalu lintas komersial di Selat Hormuz telah turun menjadi sekitar 15% dari level sebelum konflik, saat operator kapal internasional mengevakuasi kawasan tersebut. Jalur alternatif melalui Laut Merah kini menghadapi ketidakpastian akibat ancaman Houthi, sementara Kazakhstan menghentikan ekspor minyak Laut Hitam, sehingga menciptakan situasi tekanan pasokan dari dua jalur.
Di pasar valuta, USD/JPY sempat menembus di atas 163, menandai level terkuatnya sejak 1986, seiring kenaikan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil U.S. Treasury yang memperkuat tekanan. Para pengamat pasar memantau 165 sebagai level kunci berikutnya. Kombinasi gangguan pasokan energi, kekhawatiran inflasi, dan risiko geopolitik mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan sikap kebijakan hawkish meski data ketenagakerjaan melunak, sementara investor institusional menurunkan eksposur durasi di pasar uang untuk menjaga fleksibilitas penyesuaian harga kembali.