Nouriel Roubini memasuki pasar aset digital dengan meluncurkan token yang didukung oleh exchange-traded fund (ETF) sebagai aset dasarnya, menurut Business Insider pada 11 Mei (waktu setempat). Token tersebut, berbasis Atlas Americas Fund milik Roubini, baru-baru ini mendapat persetujuan dari otoritas Uni Emirat Arab (UEA) dan direncanakan diluncurkan dalam beberapa minggu. Roubini memposisikan token itu sebagai alternatif bagi stablecoin yang saat ini dipatok ke mata uang fiat, sambil tetap mempertahankan sikap kritisnya bahwa "lebih dari 90% aset kripto tetap tidak bernilai." Atlas Americas Fund berinvestasi pada US Treasuries jangka pendek, emas, real estate investment trusts (REITs), komoditas, dan saham industri pertahanan, dengan tujuan operasional untuk melakukan lindung nilai terhadap risiko inflasi jangka panjang. Roubini menjelaskan bahwa stablecoin membawa masalah yang sama seperti mata uang fiat, mencatat bahwa ketika inflasi tinggi dan tidak ada bunga yang dibayarkan, nilai riilnya terus menurun.
Struktur Token Atlas Americas Fund dan Komposisi Aset
Nilai token ditentukan berdasarkan aset riil yang dimiliki ETF dan kinerja operasionalnya. Investor yang memegang token secara tidak langsung memperoleh nilai ekonomi yang terkait dengan net asset value (NAV) ETF serta kinerja manajemen aset. Menurut perusahaan, pendapatan yang dihasilkan dari ETF, termasuk bunga dan dividen, menjadi dasar untuk mempertahankan nilai token.
Atlas Americas Fund berinvestasi pada US Treasuries jangka pendek, emas, real estate investment trusts (REITs), komoditas, dan saham industri pertahanan. Roubini menyatakan, "Stablecoin dapat digunakan untuk transaksi, tetapi aset yang disimpan perlu dikonversi menjadi aset cadangan yang menghasilkan imbal hasil. Kita perlu aset berbasis dolar yang membayar bunga."
Reza Bundy, CEO Atlas Capital Management, menekankan bahwa meskipun penggunaan stablecoin diperkirakan akan meluas karena meningkatnya ketegangan geopolitik dan tren de-dolarisasi, dibutuhkan struktur yang dapat mempertahankan nilai riil, bukan sekadar aset yang dipatok dolar.
Roubini Mempertahankan Sikap Kritis terhadap Pasar Kripto
Roubini menyatakan bahwa pandangan negatifnya terhadap pasar aset kripto tetap tidak berubah, terlepas dari peluncuran token. Ia menyoroti, "Lebih dari 90% aset kripto masih sampah. Menyebutnya mata uang itu konyol, dan itu bukan penyimpan nilai yang stabil maupun metode pembayaran yang dapat diskalakan."
Terkait Bitcoin, ia menyebut kemungkinan tekanan turun yang berlanjut dalam jangka panjang. Meskipun ia tidak memberikan perkiraan harga spesifik, ia menilai bahwa faktor-faktor struktural, termasuk penjualan Bitcoin baru-baru ini oleh Michael Saylor, dapat menjadi beban bagi harga.
Roubini menambahkan, "Saya sejak lama mempertahankan bahwa teknologi blockchain itu sendiri bisa berguna jika dimanfaatkan dengan benar. Masalahnya adalah kebanyakan kriptokurensi, bukan teknologi yang mendasarinya."
Atlas Americas Fund Mencatat Imbal Hasil 9% Sejak Peluncuran November 2024
Atlas Americas Fund telah mencatat sekitar 9% imbal hasil sejak peluncurannya pada November 2024. Imbal hasil dividen tahunan berada di kisaran sekitar 2,45%.
FAQ
Apa yang diluncurkan Nouriel Roubini dan kapan akan tersedia?
Nouriel Roubini meluncurkan token yang didukung oleh ETF Atlas Americas Fund miliknya. Token tersebut mendapat persetujuan dari otoritas UEA dan direncanakan diluncurkan dalam beberapa minggu, menurut Business Insider pada 11 Mei (waktu setempat).
Mengapa Roubini memposisikan tokennya berbeda dari stablecoin?
Roubini menyatakan bahwa stablecoin membawa masalah yang sama seperti mata uang fiat, menjelaskan bahwa ketika inflasi tinggi dan tidak ada bunga yang dibayarkan, nilai riilnya terus menurun. Ia menekankan perlunya aset berbasis dolar yang membayar bunga, dengan tokennya didukung oleh aset termasuk US Treasuries, emas, REITs, komoditas, dan saham pertahanan yang menghasilkan imbal hasil.
Bagaimana pandangan Roubini saat ini tentang kriptokurensi?
Roubini mempertahankan bahwa "lebih dari 90% aset kripto masih sampah." Ia menyatakan bahwa menyebutnya mata uang itu konyol dan itu bukan penyimpan nilai yang stabil maupun metode pembayaran yang dapat diskalakan. Namun, ia membedakan kritik ini dari teknologi blockchain itu sendiri, yang menurutnya bisa berguna jika dimanfaatkan dengan benar.