Silver Falls ke Terendah Desember 2025 saat Inflasi AS Mencapai 4,2%

Harga perak turun mendekati $64 per ounce pada Rabu, menyentuh level terendah sejak Desember 2025 ketika investor menilai data inflasi AS yang terbaru. Penurunan itu terjadi setelah inflasi headline naik menjadi 4,2% pada Mei, sekaligus menjadi pembacaan tertinggi sejak April 2023. Kenaikan ini sebagian besar sesuai ekspektasi pasar dan menurunkan kemungkinan pelonggaran moneter dalam waktu dekat. Pertukaran latihan militer baru antara Amerika Serikat dan Iran menambah lapisan ketidakpastian lain bagi pasar global, namun para trader lebih berfokus pada ekspektasi suku bunga dan tren inflasi, meski perak secara tradisional dianggap sebagai safe-haven.

Inflasi AS Mencapai 4,2% di Mei

Inflasi headline naik menjadi 4,2% pada Mei, menandai level tertingginya sejak April 2023. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics), kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya biaya energi yang terkait konflik yang masih berlangsung yang melibatkan Iran. Harga energi naik 3,9% selama Mei setelah naik 3,8% pada April, dan menyumbang lebih dari 60% dari total kenaikan bulanan dalam harga konsumen.

Inflasi inti, yang mengecualikan pangan dan energi, naik menjadi 2,9%, mencapai level tertingginya dalam tujuh bulan. Data ini memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi masih berada di atas tingkat yang membuat pembuat kebijakan merasa nyaman meski ada tanda-tanda perlambatan pertumbuhan upah.

Pendapatan Riil Turun untuk Bulan Kedua Berturut-turut

Inflasi melampaui pertumbuhan upah untuk bulan kedua berturut-turut. Rata-rata pendapatan per jam naik dengan laju tahunan 3,4% pada laporan pekerjaan terbaru, tertinggal dari tingkat inflasi 4,2%. Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan bahwa pendapatan mingguan rata-rata riil turun 0,2% selama Mei dan turun 0,7% dibanding setahun sebelumnya, menandai penurunan tahunan terbesar pada pendapatan riil sejak Februari 2023.

Konsumen terus kehilangan daya beli karena rumah tangga menghadapi biaya yang lebih tinggi di berbagai kategori pengeluaran penting, termasuk bahan bakar, listrik, makanan, dan layanan kesehatan.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Menekan Permintaan Perak

Laporan inflasi mendorong para trader untuk sedikit mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan di akhir tahun ini. Pasar terus memperhitungkan kenaikan suku bunga seperempat poin hingga Desember setelah data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan yang dirilis pekan lalu.

Perak tidak menghasilkan pendapatan, dan suku bunga yang lebih tinggi sering meningkatkan daya tarik aset berbunga hasil seperti obligasi, sehingga menurunkan permintaan untuk logam mulia. Ekspektasi bahwa suku bunga bisa tetap tinggi lebih lama ikut berkontribusi pada penurunan logam tersebut.

Pertukaran Militer AS-Iran Berlanjut

Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan baru saat negosiasi untuk mengakhiri berbulan-bulan konflik kesulitan menghasilkan terobosan. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran harus “membayar harga” karena menunda kesepakatan. Dalam unggahan media sosial, Trump menuduh Iran memperpanjang negosiasi dan memperingatkan konsekuensi jika kesepakatan tidak kunjung tercapai. Ia kemudian menyarankan serangan baru yang menargetkan infrastruktur Iran bisa dipesan jika Teheran menolak menandatangani kesepakatan.

Laporan menunjukkan bahwa perunding Qatar melakukan perjalanan ke Teheran untuk menjaga pembahasan diplomatik tetap berjalan.

Perak Terjebak di Antara Kekuatan Pasar yang Saling Bertentangan

Perak kini terjebak di antara kekuatan pasar yang saling bertentangan. Inflasi yang persisten dan ketidakpastian geopolitik biasanya mendukung permintaan logam mulia, sementara ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan prospek yang lebih kuat untuk kebijakan moneter AS terus menjadi angin berlawanan.

Perosotan perak menuju $64,5 per ounce mencerminkan pasar yang berfokus pada inflasi, suku bunga, dan meningkatnya ketidakpastian seputar masa depan negosiasi AS-Iran.

FAQ

Apa penyebab harga perak turun pada Rabu?

Harga perak turun mendekati $64 per ounce pada Rabu setelah data inflasi AS menunjukkan inflasi headline naik menjadi 4,2% pada Mei, sebagian besar sesuai ekspektasi pasar dan menurunkan kemungkinan pelonggaran moneter dalam waktu dekat. Penurunan ini juga mencerminkan fokus trader pada ekspektasi suku bunga dibanding ketegangan geopolitik.

Bagaimana data inflasi Mei dibanding periode sebelumnya?

Inflasi headline mencapai 4,2% pada Mei, menandai level tertingginya sejak April 2023. Inflasi inti naik menjadi 2,9%, mencapai level tertingginya dalam tujuh bulan. Harga energi naik 3,9% selama Mei, menyumbang lebih dari 60% dari total kenaikan bulanan dalam harga konsumen.

Mengapa inflasi yang lebih tinggi menurunkan permintaan perak?

Inflasi yang lebih tinggi membuat pasar memperhitungkan kenaikan suku bunga seperempat poin pada Desember. Perak tidak menghasilkan pendapatan, dan suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berbunga hasil seperti obligasi, sehingga menurunkan permintaan untuk logam mulia seperti perak.

Penafian: Informasi di halaman ini mungkin berasal dari sumber pihak ketiga dan hanya untuk referensi. Ini tidak mewakili pandangan atau pendapat Gate dan bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau hukum. Perdagangan aset virtual melibatkan risiko tinggi. Mohon jangan hanya mengandalkan informasi di halaman ini saat membuat keputusan. Untuk detailnya, lihat Penafian.
Komentar
0/400
Tidak ada komentar