Sebelum berinvestasi dan mendapatkan keuntungan: Bagaimana rumus perhitungan tingkat pengembalian membantu Anda menyaring aset dengan tingkat kemenangan tinggi
Menyebut tentang pengembalian investasi (ROI), banyak orang pertama kali berpikir tentang rumus matematika yang rumit dan istilah keuangan yang membosankan. Tapi sebenarnya, memahami logika inti dari rumus perhitungan ROI dapat membantu investor dengan cepat menilai mana aset yang layak diinvestasikan, mana yang harus dihindari.
ROI sebenarnya menghitung apa
Pengembalian investasi secara sederhana adalah: berapa persen keuntungan yang kamu dapatkan dari uang yang diinvestasikan. Definisi yang lebih akurat adalah, perbandingan antara laba bersih dari investasi dan total dana yang diinvestasikan, dinyatakan dalam persen, yang mencerminkan kemampuan pertumbuhan modal.
Indikator ini banyak digunakan karena cocok untuk hampir semua jenis investasi—baik itu saham, cryptocurrency, properti, maupun proyek bisnis—semuanya dapat diukur dengan logika ini.
Analisis rumus perhitungan ROI
Rumus dasar: ROI = (Laba Bersih / Dana Investasi) × 100%
Dimana laba bersih = pendapatan dari investasi - biaya investasi
Terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya mudah tersandung. Contohnya, dalam investasi saham, misalnya kamu membeli 1000 saham dengan harga $10 per saham, total $10.000, dan setahun kemudian dijual dengan harga $12.5 per saham, menerima dividen $500, tetapi biaya transaksi total $125.
Terlihat untung, tapi berapa sebenarnya ROI-nya?
Total pendapatan = Pendapatan dari penjualan saham + dividen = (12.5 × 1000) + 500 = $13.000
Namun, ada konsep yang sering membingungkan—ROAS (Return On Ad Spend). Banyak orang di industri ini menyebut ROI, padahal sebenarnya yang dimaksud adalah ROAS.
Perbedaan utama adalah: ROI mengukur profit, sedangkan ROAS mengukur pendapatan. ROAS hanya fokus pada efisiensi biaya iklan, sementara ROI mempertimbangkan semua biaya termasuk biaya produk dan iklan.
Perbandingan ROI dan indikator keuangan perusahaan
Kalau menggunakan ROI untuk menilai kinerja perusahaan, perlu membedakan antara ROI, ROA, dan ROE:
Indikator
Rumus
Makna
ROI
Laba bersih / Total investasi
Kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal yang diinvestasikan
ROA
Laba bersih / Total aset
Pengembalian dari seluruh aset (termasuk pinjaman) secara keseluruhan
ROE
Laba bersih / Ekuitas pemegang saham
Pengembalian dari modal yang diinvestasikan pemegang saham
Contohnya, sebuah perusahaan dengan aset Rp1.000.000.000, pinjaman Rp500.000.000, dan ekuitas Rp500.000.000. Investasi satu proyek Rp100.000.000, setelah 3 bulan kembali Rp200.000.000, dan laba bersih tahunan Rp1.500.000.000.
Pengembalian tahunan sebagai kunci pengambilan keputusan investasi
Ini adalah jebakan yang sering diabaikan banyak pemula. Dua skema investasi sama-sama menghasilkan return positif, tapi periode waktunya berbeda sehingga tidak bisa langsung dibandingkan.
Rumus ROI tahunan: ROI tahunan = [(Total Return + 1) ^ (1/Periode) - 1] × 100%
Misalnya, skema A membutuhkan 2 tahun untuk mencapai 100% total return, dan skema B membutuhkan 4 tahun untuk mencapai 200%.
Walaupun total return B lebih tinggi, ROI tahunan A lebih baik. Kalau hanya melihat total return, bisa membuat keputusan yang kurang optimal.
Aplikasi praktis rumus ROI dalam pengambilan keputusan investasi
Bagaimana cara cepat menyaring aset dengan ROI tinggi
Dari rumus yang sudah dipelajari, dapat disimpulkan bahwa, untuk meningkatkan ROI, harus meningkatkan profit atau mengurangi biaya. Tapi dalam praktik, optimisasi biaya saja terbatas pengaruhnya. Cara paling langsung adalah memilih kategori aset dengan ROI tinggi.
Secara umum, urutan ROI dari tinggi ke rendah: Cryptocurrency & Forex > Saham > Indeks & Reksa Dana > Obligasi
Namun, ROI tinggi biasanya disertai volatilitas tinggi. Contohnya, cryptocurrency bisa naik 500% dalam satu tahun, tapi juga bisa turun 50% dalam beberapa minggu. Sedangkan pasar saham AS rata-rata tahunan sekitar 12%, dengan volatilitas yang lebih stabil.
CFD: Menggandakan ROI dengan leverage
Kontrak Perbedaan Harga (CFD) menarik trader jangka pendek karena persyaratan margin yang rendah.
Misalnya, CFD hanya membutuhkan margin 20%. Kalau kamu punya $10.000, investasi saham konvensional hanya bisa membeli saham senilai $10.000, tapi CFD bisa mengontrol posisi senilai $50.000.
Kalau posisi naik 5%, keuntungan tradisional adalah $500, ROI = 5%. Tapi dengan CFD, keuntungan bisa $2.500, ROI = 25%.
Tentu saja, kerugian juga diperbesar. Inilah mengapa CFD dianggap berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil tinggi.
Potensi pengembalian pasar forex
Volume transaksi harian di pasar forex lebih dari $6 triliun, likuiditas sangat tinggi, dan potensi pengembalian bisa mencapai lebih dari 30%. Dengan transaksi dua arah dan leverage, pasar ini bisa aktif 24 jam nonstop.
Tapi risiko utama adalah, pasangan mata uang sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi global. Jika tidak mampu mengikuti berita dan kebijakan bank sentral secara cepat, bisa terjebak kerugian besar. Disarankan untuk selalu menggunakan stop loss dan take profit untuk mengendalikan risiko.
Emas: Aset lindung nilai tradisional dan ROI-nya
Harga emas internasional melonjak 18.4% pada 2019, mencapai level tertinggi dalam 8 tahun. Keunggulan emas adalah menjaga nilai dan pertumbuhan, serta korelasi rendah dengan saham. Dalam masa ketidakpastian ekonomi, emas sering menjadi tempat berlindung investor.
Perangkap umum dalam perhitungan ROI
Mengabaikan dimensi waktu
Proyek X dengan ROI 25%, dan proyek Y dengan ROI 15%. Terlihat X lebih baik, tapi jika X membutuhkan 5 tahun untuk mencapai 25%, dan Y hanya 1 tahun untuk 15%, mana yang lebih layak diinvestasikan?
Jawabannya adalah Y. Hanya dengan mengukur ROI tahunan kita bisa melihat kenyataan sebenarnya.
Risiko yang sering diabaikan
Fokus pada angka ROI tanpa memperhatikan volatilitas adalah penyebab umum kerugian.
ROI tinggi sering disertai volatilitas tinggi. Misalnya, investasi A dengan ROI tahunan 40% dan volatilitas 70%, tahun pertama bisa mengalami kerugian 40%, sehingga investor panik dan menjual. Sebaliknya, investasi B dengan ROI 15% dan volatilitas 10% cenderung stabil.
Dalam jangka panjang, hasil compounding dari B bisa jauh lebih baik daripada A.
Statistik biaya yang tidak lengkap
Investasi properti sangat rentan terhadap kesalahan ini. Membeli properti tidak hanya biaya pembelian, tapi juga harus memperhitungkan bunga KPR, pajak properti, asuransi, biaya perawatan, dan lain-lain. Jika hanya menghitung kenaikan harga properti, ROI akan sangat tinggi dan menyesatkan.
Hanya fokus pada keuntungan finansial
ROI tradisional hanya mengukur pengembalian uang, tapi mengabaikan manfaat sosial atau lingkungan. Misalnya, investasi di energi bersih mungkin ROI keuangannya biasa saja, tapi nilai sosialnya sangat besar. Untuk investasi semacam ini, muncul indikator baru yaitu “Social Return on Investment” (SROI).
Pertimbangan ROI dalam investasi cryptocurrency
Untuk aset kripto, logika perhitungan ROI sama, tapi aplikasinya lebih kompleks.
Bitcoin, Ethereum, dan aset utama lainnya memiliki variasi pengembalian tahunan yang ekstrem, dari angka negatif sampai lima digit. Cryptocurrency baru karena basisnya kecil, jika tiba-tiba populer, ROI bisa mencapai lebih dari 1000%, tapi juga berisiko kehilangan seluruh modal.
Dalam investasi kripto, menggunakan ROI tahunan untuk menilai performa jauh lebih ilmiah daripada hanya melihat total return. Selain itu, harus mempertimbangkan volatilitas, fundamental proyek, siklus pasar, dan faktor multidimensi lainnya agar bisa membuat keputusan yang rasional.
Ringkasan: penggunaan rumus ROI yang benar
ROI adalah indikator penting dalam pengambilan keputusan investasi, tapi bukan satu-satunya.
Poin utama yang harus diingat:
Menguasai rumus dasar adalah langkah awal, tapi harus menghitung semua biaya
Definisi ROI berbeda di tiap industri, berhati-hatilah agar tidak tercampur
ROI tahunan lebih akurat mencerminkan efisiensi nyata
Selalu pertimbangkan risiko dan dimensi waktu
ROI tinggi memang menarik, tapi sesuaikan dengan toleransi risiko pribadi
Sebelum berinvestasi, luangkan waktu untuk menghitung angka-angka ini secara lengkap, jauh lebih baik daripada sekadar mengikuti tren dan mengejar return yang tidak pasti.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Sebelum berinvestasi dan mendapatkan keuntungan: Bagaimana rumus perhitungan tingkat pengembalian membantu Anda menyaring aset dengan tingkat kemenangan tinggi
Menyebut tentang pengembalian investasi (ROI), banyak orang pertama kali berpikir tentang rumus matematika yang rumit dan istilah keuangan yang membosankan. Tapi sebenarnya, memahami logika inti dari rumus perhitungan ROI dapat membantu investor dengan cepat menilai mana aset yang layak diinvestasikan, mana yang harus dihindari.
ROI sebenarnya menghitung apa
Pengembalian investasi secara sederhana adalah: berapa persen keuntungan yang kamu dapatkan dari uang yang diinvestasikan. Definisi yang lebih akurat adalah, perbandingan antara laba bersih dari investasi dan total dana yang diinvestasikan, dinyatakan dalam persen, yang mencerminkan kemampuan pertumbuhan modal.
Indikator ini banyak digunakan karena cocok untuk hampir semua jenis investasi—baik itu saham, cryptocurrency, properti, maupun proyek bisnis—semuanya dapat diukur dengan logika ini.
Analisis rumus perhitungan ROI
Rumus dasar: ROI = (Laba Bersih / Dana Investasi) × 100%
Dimana laba bersih = pendapatan dari investasi - biaya investasi
Terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya mudah tersandung. Contohnya, dalam investasi saham, misalnya kamu membeli 1000 saham dengan harga $10 per saham, total $10.000, dan setahun kemudian dijual dengan harga $12.5 per saham, menerima dividen $500, tetapi biaya transaksi total $125.
Terlihat untung, tapi berapa sebenarnya ROI-nya?
Total pendapatan = Pendapatan dari penjualan saham + dividen = (12.5 × 1000) + 500 = $13.000
Total biaya = Biaya pembelian + biaya transaksi = (10 × 1000) + 125 = $10.125
Laba bersih = $13.000 - $10.125 = $2.875
ROI = (2.875 / 10.000) × 100% = 28.75%
Terlihat tinggi, tapi jangan lupa harus mempertimbangkan pajak, waktu holding, dan faktor lain.
Perbedaan perhitungan ROI di berbagai bidang
ROI di e-commerce dan periklanan
Orang yang pernah menjalankan bisnis online tahu bahwa cara menghitung ROI di sini sedikit berbeda.
Rumus: ROI = (Pendapatan Penjualan - Biaya Barang) / Biaya Barang × 100%
Misalnya biaya barang $100, harga jual $300, dan melalui iklan terjual 10 unit, dengan pengeluaran iklan $500.
ROI = [300 × 10 - (100 × 10 + 500)] / (100 × 10 + 500) × 100% = 1.000 / 1.500 × 100% = 66.67%
Namun, ada konsep yang sering membingungkan—ROAS (Return On Ad Spend). Banyak orang di industri ini menyebut ROI, padahal sebenarnya yang dimaksud adalah ROAS.
ROAS = Pendapatan dari iklan / Biaya iklan = (300 × 10) / 500 = 600%
Perbedaan utama adalah: ROI mengukur profit, sedangkan ROAS mengukur pendapatan. ROAS hanya fokus pada efisiensi biaya iklan, sementara ROI mempertimbangkan semua biaya termasuk biaya produk dan iklan.
Perbandingan ROI dan indikator keuangan perusahaan
Kalau menggunakan ROI untuk menilai kinerja perusahaan, perlu membedakan antara ROI, ROA, dan ROE:
Contohnya, sebuah perusahaan dengan aset Rp1.000.000.000, pinjaman Rp500.000.000, dan ekuitas Rp500.000.000. Investasi satu proyek Rp100.000.000, setelah 3 bulan kembali Rp200.000.000, dan laba bersih tahunan Rp1.500.000.000.
Maka ROI proyek = ((20-10)/10) = 100%, ROA = 150 / 1000 = 15%, ROE = 150 / 500 = 30%.
Pengembalian tahunan sebagai kunci pengambilan keputusan investasi
Ini adalah jebakan yang sering diabaikan banyak pemula. Dua skema investasi sama-sama menghasilkan return positif, tapi periode waktunya berbeda sehingga tidak bisa langsung dibandingkan.
Rumus ROI tahunan: ROI tahunan = [(Total Return + 1) ^ (1/Periode) - 1] × 100%
Misalnya, skema A membutuhkan 2 tahun untuk mencapai 100% total return, dan skema B membutuhkan 4 tahun untuk mencapai 200%.
A: ROI tahunan = [(1+1)^ (1/2) - 1] × 100% = 41.4%
B: ROI tahunan = [(2+1)^ (1/4) - 1] × 100% = 31.6%
Walaupun total return B lebih tinggi, ROI tahunan A lebih baik. Kalau hanya melihat total return, bisa membuat keputusan yang kurang optimal.
Aplikasi praktis rumus ROI dalam pengambilan keputusan investasi
Bagaimana cara cepat menyaring aset dengan ROI tinggi
Dari rumus yang sudah dipelajari, dapat disimpulkan bahwa, untuk meningkatkan ROI, harus meningkatkan profit atau mengurangi biaya. Tapi dalam praktik, optimisasi biaya saja terbatas pengaruhnya. Cara paling langsung adalah memilih kategori aset dengan ROI tinggi.
Secara umum, urutan ROI dari tinggi ke rendah: Cryptocurrency & Forex > Saham > Indeks & Reksa Dana > Obligasi
Namun, ROI tinggi biasanya disertai volatilitas tinggi. Contohnya, cryptocurrency bisa naik 500% dalam satu tahun, tapi juga bisa turun 50% dalam beberapa minggu. Sedangkan pasar saham AS rata-rata tahunan sekitar 12%, dengan volatilitas yang lebih stabil.
CFD: Menggandakan ROI dengan leverage
Kontrak Perbedaan Harga (CFD) menarik trader jangka pendek karena persyaratan margin yang rendah.
Misalnya, CFD hanya membutuhkan margin 20%. Kalau kamu punya $10.000, investasi saham konvensional hanya bisa membeli saham senilai $10.000, tapi CFD bisa mengontrol posisi senilai $50.000.
Kalau posisi naik 5%, keuntungan tradisional adalah $500, ROI = 5%. Tapi dengan CFD, keuntungan bisa $2.500, ROI = 25%.
Tentu saja, kerugian juga diperbesar. Inilah mengapa CFD dianggap berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil tinggi.
Potensi pengembalian pasar forex
Volume transaksi harian di pasar forex lebih dari $6 triliun, likuiditas sangat tinggi, dan potensi pengembalian bisa mencapai lebih dari 30%. Dengan transaksi dua arah dan leverage, pasar ini bisa aktif 24 jam nonstop.
Tapi risiko utama adalah, pasangan mata uang sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi global. Jika tidak mampu mengikuti berita dan kebijakan bank sentral secara cepat, bisa terjebak kerugian besar. Disarankan untuk selalu menggunakan stop loss dan take profit untuk mengendalikan risiko.
Emas: Aset lindung nilai tradisional dan ROI-nya
Harga emas internasional melonjak 18.4% pada 2019, mencapai level tertinggi dalam 8 tahun. Keunggulan emas adalah menjaga nilai dan pertumbuhan, serta korelasi rendah dengan saham. Dalam masa ketidakpastian ekonomi, emas sering menjadi tempat berlindung investor.
Perangkap umum dalam perhitungan ROI
Mengabaikan dimensi waktu
Proyek X dengan ROI 25%, dan proyek Y dengan ROI 15%. Terlihat X lebih baik, tapi jika X membutuhkan 5 tahun untuk mencapai 25%, dan Y hanya 1 tahun untuk 15%, mana yang lebih layak diinvestasikan?
Jawabannya adalah Y. Hanya dengan mengukur ROI tahunan kita bisa melihat kenyataan sebenarnya.
Risiko yang sering diabaikan
Fokus pada angka ROI tanpa memperhatikan volatilitas adalah penyebab umum kerugian.
ROI tinggi sering disertai volatilitas tinggi. Misalnya, investasi A dengan ROI tahunan 40% dan volatilitas 70%, tahun pertama bisa mengalami kerugian 40%, sehingga investor panik dan menjual. Sebaliknya, investasi B dengan ROI 15% dan volatilitas 10% cenderung stabil.
Dalam jangka panjang, hasil compounding dari B bisa jauh lebih baik daripada A.
Statistik biaya yang tidak lengkap
Investasi properti sangat rentan terhadap kesalahan ini. Membeli properti tidak hanya biaya pembelian, tapi juga harus memperhitungkan bunga KPR, pajak properti, asuransi, biaya perawatan, dan lain-lain. Jika hanya menghitung kenaikan harga properti, ROI akan sangat tinggi dan menyesatkan.
Hanya fokus pada keuntungan finansial
ROI tradisional hanya mengukur pengembalian uang, tapi mengabaikan manfaat sosial atau lingkungan. Misalnya, investasi di energi bersih mungkin ROI keuangannya biasa saja, tapi nilai sosialnya sangat besar. Untuk investasi semacam ini, muncul indikator baru yaitu “Social Return on Investment” (SROI).
Pertimbangan ROI dalam investasi cryptocurrency
Untuk aset kripto, logika perhitungan ROI sama, tapi aplikasinya lebih kompleks.
Bitcoin, Ethereum, dan aset utama lainnya memiliki variasi pengembalian tahunan yang ekstrem, dari angka negatif sampai lima digit. Cryptocurrency baru karena basisnya kecil, jika tiba-tiba populer, ROI bisa mencapai lebih dari 1000%, tapi juga berisiko kehilangan seluruh modal.
Dalam investasi kripto, menggunakan ROI tahunan untuk menilai performa jauh lebih ilmiah daripada hanya melihat total return. Selain itu, harus mempertimbangkan volatilitas, fundamental proyek, siklus pasar, dan faktor multidimensi lainnya agar bisa membuat keputusan yang rasional.
Ringkasan: penggunaan rumus ROI yang benar
ROI adalah indikator penting dalam pengambilan keputusan investasi, tapi bukan satu-satunya.
Poin utama yang harus diingat:
Sebelum berinvestasi, luangkan waktu untuk menghitung angka-angka ini secara lengkap, jauh lebih baik daripada sekadar mengikuti tren dan mengejar return yang tidak pasti.