Per Maret 2026, total nilai terkunci (Total Value Locked/TVL) dalam produk Treasury AS yang ditokenisasi secara on-chain telah melampaui USD 11 miliar, mencerminkan pertumbuhan lebih dari 60% sejak awal tahun. Pencapaian ini tidak hanya menandakan bahwa sektor Real World Assets (RWA) telah memasuki fase adopsi berskala besar, tetapi juga menyoroti tingginya permintaan pasar kripto terhadap imbal hasil yang stabil dan dapat diprediksi. Dengan imbal hasil dasar di DeFi yang terus menurun, Treasury yang ditokenisasi—yang menawarkan imbal hasil mendekati tingkat bebas risiko tradisional—muncul sebagai opsi alokasi baru bagi investor institusi maupun ritel yang mencari aset on-chain.
Mengapa Treasury yang Ditokenisasi Menjadi Magnet Utama Arus Masuk Modal?
Perubahan struktural ini diawali oleh perubahan lingkungan makro. Ketika Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama, imbal hasil bebas risiko stabil di kisaran 4,5%-5,5%, menjadikan Treasury sangat menarik di ranah keuangan tradisional. Sementara itu, di dunia kripto, imbal hasil dari pinjaman stablecoin, liquidity mining, dan produk DeFi utama lainnya terus menyusut, dengan protokol terkemuka kini hanya menawarkan imbal hasil tahunan sekitar 2%-4%. Kesenjangan imbal hasil ini menciptakan permintaan struktural untuk membawa aset bebas risiko dari off-chain ke on-chain.
Maturitas infrastruktur teknis juga menjadi faktor kunci. Raksasa manajemen aset Franklin Templeton menjadi pelopor penawaran on-chain yang patuh regulasi melalui Franklin OnChain U.S. Government Money Fund (FOBXX). Di sisi lain, Ondo Finance menciptakan produk dana yang ditokenisasi yang secara langsung memetakan imbal hasil Treasury AS jangka pendek ke dalam aset on-chain yang dapat diperdagangkan. Dengan mengombinasikan kustodian berlisensi dan smart contract, produk ini mengotomatisasi distribusi dan penebusan imbal hasil, secara signifikan menurunkan hambatan masuk investasi Treasury tradisional.
Apa Perbedaan Reksa Dana Pasar Uang Tradisional dengan Produk Treasury On-Chain?
Reksa dana pasar uang tradisional bergantung pada rekening bank dan jalur broker, dengan siklus penyelesaian biasanya T+1 atau T+2, serta seringkali mensyaratkan jumlah investasi minimum. Sebaliknya, produk Treasury yang ditokenisasi memungkinkan perdagangan 24/7 melalui blockchain, memungkinkan pengguna berlangganan dan menebus menggunakan stablecoin serta secara signifikan meningkatkan efisiensi modal.
Perbedaan paling krusial adalah pada komposabilitasnya. Aset Treasury on-chain hadir dalam bentuk token, sehingga dapat diintegrasikan secara mulus dengan ekosistem DeFi. Sebagai contoh, pemegang token USDY milik Ondo atau BENJI milik Franklin dapat menggunakannya sebagai agunan dalam protokol pinjaman atau menyediakan likuiditas di bursa terdesentralisasi, sehingga membuka peluang "imbal hasil bebas risiko + pendapatan tambahan dari DeFi". Efek pengganda ini membuat "real yield" dari Treasury yang ditokenisasi bisa jauh melampaui imbal hasil dari aset dasarnya saja.
Bagaimana Perbandingan Imbal Hasil dan Risiko Antar Produk Treasury yang Ditokenisasi?
Saat ini, pasar didominasi oleh dua kategori utama: versi tokenisasi dari dana yang diterbitkan oleh manajer aset, seperti BENJI milik Franklin Templeton, dan token imbal hasil dari proyek kripto asli, seperti USDY dan OUSG milik Ondo Finance.
Dari sisi imbal hasil, setelah dikurangi biaya manajemen, produk-produk ini umumnya menawarkan imbal hasil tahunan 4,2%-4,8%, sedikit di bawah tolok ukur Treasury AS namun jauh lebih tinggi dibandingkan sebagian besar protokol tabungan stablecoin. Profil risikonya berbeda: produk berbasis dana menyimpan aset dasar dengan kustodian tradisional, menawarkan kepatuhan yang lebih kuat namun berpotensi membuat proses penebusan mengikuti jam dan prosedur sistem keuangan tradisional. Proyek kripto asli menawarkan desain likuiditas on-chain yang lebih fleksibel, tetapi membawa risiko smart contract dan tata kelola protokol yang lebih tinggi.
Terkait transparansi aset, kedua jenis produk mengungkapkan kepemilikan melalui alamat on-chain. Namun, produk berbasis dana menjalani audit rutin dan pengungkapan regulasi, sedangkan proyek asli lebih mengandalkan laporan audit pihak ketiga dan verifikasi on-chain.
Bagaimana Treasury yang Ditokenisasi Mengubah Struktur Imbal Hasil DeFi?
Meningkatnya produk Treasury on-chain sedang mendefinisikan ulang tolok ukur "risk-free rate" di DeFi. Sebelumnya, DeFi tidak memiliki aset bebas risiko yang sesungguhnya; tingkat pinjaman stablecoin dan imbal hasil staking sering terdistorsi oleh insentif liquidity mining dan inflasi token. Treasury yang ditokenisasi kini menyediakan jangkar imbal hasil on-chain yang terhubung dengan tingkat Treasury AS.
Perubahan ini mendorong stratifikasi likuiditas yang jelas. Sebagian modal yang mencari imbal hasil stabil mulai keluar dari strategi DeFi berisiko tinggi dan masuk ke aset RWA dengan imbal hasil yang dapat diprediksi dan risiko yang terukur. Di saat yang sama, penerbit stablecoin mulai mengalokasikan sebagian cadangannya ke Treasury yang ditokenisasi, sehingga meningkatkan potensi imbal hasil neraca mereka. Perubahan struktural ini mendorong DeFi bertransformasi dari pasar yang "berbasis spekulasi" menjadi "berbasis imbal hasil".
Apa Langkah Selanjutnya untuk Pasar Treasury On-Chain?
Dalam jangka pendek, ekspansi pasar akan bergantung pada dua faktor utama: pertama, keberlanjutan kebijakan suku bunga Federal Reserve—jika suku bunga tinggi bertahan, aset Treasury akan tetap menarik; kedua, kejelasan regulasi lebih lanjut—meskipun sikap regulator AS terhadap produk RWA masih belum pasti, institusi terdepan mulai merintis jalur yang memungkinkan melalui agen transfer berlisensi dan pengecualian token sekuritas.
Dalam jangka menengah, use case Treasury yang ditokenisasi akan berkembang pesat. Selain sebagai aset cadangan stablecoin, mereka berpotensi menjadi jenis agunan terpenting dalam protokol pinjaman DeFi, serta dapat menjadi dasar instrumen DeFi yang lebih kompleks seperti interest rate swap dan produk terstruktur berbasis imbal hasil Treasury. Selain itu, Treasury dari lebih banyak negara diperkirakan akan ikut ditokenisasi, menciptakan portofolio aset bebas risiko yang lebih terdiversifikasi.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu transformasi fundamental pada struktur pasar. Ketika tingkat bebas risiko on-chain sepenuhnya terintegrasi dengan pasar off-chain, penetapan harga aset kripto akan semakin terkait erat dengan keuangan tradisional, dan DeFi akan berevolusi dari "sistem keuangan paralel" menjadi "lapisan terprogram dalam sistem keuangan global".
Risiko Utama dan Keterbatasan Pasar
Meski tumbuh pesat, pasar Treasury yang ditokenisasi menghadapi berbagai risiko. Risiko kepatuhan menjadi yang paling utama. Securities and Exchange Commission (SEC) AS masih terus menyempurnakan batasan regulasi untuk token sekuritas. Beberapa produk dapat dikategorikan sebagai sekuritas yang tidak terdaftar, sehingga berpotensi menghadapi tantangan hukum dan pembatasan akses.
Risiko teknologi juga signifikan. Kerentanan smart contract, serangan pada cross-chain bridge, dan isu pengelolaan private key tetap menjadi ancaman universal bagi seluruh aset on-chain. Selain itu, mekanisme penebusan Treasury yang ditokenisasi bergantung pada kerja sama institusi keuangan off-chain. Dalam kondisi pasar ekstrem, hal ini dapat menyebabkan kombinasi kekurangan likuiditas on-chain dan keterlambatan penebusan off-chain.
Risiko pasar tercermin pada volatilitas suku bunga dan penyimpangan harga aset. Jika The Fed memasuki siklus penurunan suku bunga, imbal hasil produk Treasury yang ada akan turun, yang berpotensi memicu penebusan besar-besaran. Sementara itu, perbedaan antara harga pasar dan nilai aktiva bersih (NAV) Treasury yang ditokenisasi di pasar sekunder dapat menimbulkan kerugian tambahan bagi investor yang fokus pada perdagangan.
Bagaimana Investor Ritel Dapat Berpartisipasi dalam Investasi Treasury On-Chain?
Bagi investor individu, terdapat tiga cara utama untuk mengakses Treasury on-chain. Pertama, melalui platform terpusat yang patuh regulasi—beberapa bursa berlisensi menawarkan segmen RWA di mana pengguna dapat membeli unit dana yang ditokenisasi dengan stablecoin dan menerima distribusi imbal hasil secara otomatis. Kedua, melalui protokol terdesentralisasi seperti Ondo Finance, di mana pengguna berinteraksi langsung dengan smart contract untuk berlangganan dan menebus, serta dapat memanfaatkan token imbal hasil dalam strategi DeFi. Ketiga, melalui platform agregator yang mengumpulkan token Treasury dari berbagai penerbit, memungkinkan pengguna membandingkan imbal hasil, biaya manajemen, dan likuiditas, serta melakukan alokasi dengan satu kali klik.
Saat memilih produk, investor perlu memperhatikan tiga aspek utama: transparansi dan pengelolaan kustodian aset dasar, ketepatan waktu dan struktur biaya mekanisme penebusan, serta kredensial kepatuhan dan rekam jejak audit tim proyek. Bagi peserta pemula, disarankan untuk memprioritaskan produk yang diterbitkan oleh institusi terkemuka dengan laporan audit publik dan rekam jejak operasional yang solid.
Kesimpulan
Dengan nilai Treasury yang ditokenisasi melampaui USD 11 miliar, sektor RWA telah beralih dari tahap proof-of-concept ke adopsi berskala besar. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan global terhadap imbal hasil bebas risiko di tengah lingkungan suku bunga tinggi dan kebutuhan mendesak DeFi akan aset berimbal hasil stabil. Pelopor seperti Franklin Templeton dan Ondo Finance menghadirkan solusi berbeda dengan mengintegrasikan jalur kepatuhan dan teknologi on-chain. Ke depan, seiring semakin banyak aset yang ditokenisasi dan use case DeFi berkembang, tingkat bebas risiko on-chain siap menjadi tolok ukur utama penetapan harga di pasar kripto. Namun, risiko kepatuhan, teknis, dan pasar tetap ada. Investor perlu memanfaatkan peluang sambil tetap memahami lanskap risiko yang terus berkembang.
FAQ
T: Apa perbedaan Treasury yang ditokenisasi dengan membeli langsung Treasury AS?
J: Treasury yang ditokenisasi memetakan hak imbal hasil Treasury tradisional ke dalam token on-chain, sehingga investor dapat berpartisipasi menggunakan stablecoin, berdagang 24/7, dan mengintegrasikannya dengan strategi DeFi. Pembelian Treasury secara langsung umumnya memerlukan akun broker tradisional, arus modal yang terbatas, dan tidak dapat digunakan dalam DeFi.
T: Apakah imbal hasil Treasury yang ditokenisasi stabil?
J: Imbal hasilnya berfluktuasi mengikuti tingkat Treasury AS yang mendasarinya, yang saat ini berada di kisaran 4,2%-4,8%. Jika Federal Reserve mengubah suku bunga, imbal hasil produk akan menyesuaikan.
T: Apakah ada risiko kehilangan pokok investasi pada Treasury yang ditokenisasi?
J: Aset dasar berupa Treasury AS yang memiliki risiko kredit sangat rendah. Namun, investor tetap menghadapi risiko smart contract, risiko operasional platform, dan risiko harga pasar sekunder yang menyimpang dari NAV.
T: Berapa jumlah investasi minimum?
J: Minimum bervariasi sesuai produk. Beberapa protokol memungkinkan investasi mulai dari USD 1, sementara yang lain menetapkan ambang minimum berlangganan USD 5.000 atau lebih. Silakan merujuk pada ketentuan masing-masing platform untuk detailnya.
T: Bagaimana distribusi imbal hasil dilakukan?
J: Sebagian besar produk mendistribusikan imbal hasil secara otomatis melalui smart contract, baik dengan mencetak token tambahan maupun membayar langsung dalam stablecoin, tanpa memerlukan tindakan manual dari pengguna.


