Pada April 2026, data on-chain dari Arkham Intelligence dan The Information menarik perhatian luas di pasar kripto: SpaceX saat ini memegang 8.285 Bitcoin, dengan nilai sekitar USD 603 juta, yang disimpan melalui platform institusional Coinbase Prime. Bersamaan dengan pengungkapan ini, terungkap pula bahwa perusahaan membukukan kerugian bersih hampir USD 5 miliar untuk tahun fiskal 2025. Meski pendapatan meningkat menjadi USD 18,5 miliar, tingginya biaya akuisisi dan integrasi xAI menghapus seluruh laba. Menariknya, kepemilikan Bitcoin SpaceX tidak mengalami perubahan sejak pertengahan 2024. Satu-satunya pergerakan on-chain terbaru hanyalah penyeimbangan internal dompet sebesar 614 dan 1.021 BTC sekitar empat bulan lalu—tanpa ada aksi jual.
Bagi perusahaan swasta yang tengah bersiap melakukan IPO terbesar dalam sejarah dan menghadapi tekanan arus kas pada bisnis intinya, memegang hampir USD 603 juta dalam aset berisiko tinggi—tanpa melakukan likuidasi untuk memperkuat neraca—menjadi paradoks finansial yang menarik untuk dikaji. Untuk memahami logika di balik keputusan ini, kita perlu menganalisis bagaimana SpaceX memandang karakteristik aset Bitcoin, strategi jangka panjangnya, serta sinergi yang lebih luas dalam ekosistem Musk.
Bagaimana Cadangan Bitcoin Korporasi Mengalami Perubahan Struktural?
Kepemilikan SpaceX bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Per April 2026, sekitar 204 perusahaan publik di seluruh dunia secara kolektif memegang sekitar 1,23 juta BTC, setara dengan sekitar 6,2% dari total suplai Bitcoin. Ini merupakan peningkatan signifikan dibanding akhir 2024, menandakan bahwa cadangan Bitcoin korporasi telah beralih dari eksperimen pinggiran menjadi alokasi aset arus utama. Di antara perusahaan-perusahaan tersebut, Strategy (sebelumnya MicroStrategy) mendominasi dengan sekitar 762.099 BTC, atau 61,8% dari seluruh kepemilikan perusahaan publik. Berdasarkan jumlah kepemilikan, SpaceX saat ini menempati posisi keempat terbesar, di bawah Strategy, Marathon Digital, dan Riot Platforms.
Namun, struktur cadangan Bitcoin korporasi mulai menunjukkan perbedaan halus. Satu kelompok perusahaan menerapkan strategi "akumulasi aktif"—seperti yang dilakukan Strategy—dengan terus memperbesar posisi Bitcoin melalui pembiayaan pasar modal. Kelompok lain, yang diwakili oleh SpaceX, lebih memilih pendekatan "tahan dan pertahankan", memperlakukan Bitcoin sebagai aset cadangan jangka panjang di neraca, bukan sebagai instrumen perdagangan. Perbedaan strategi ini secara langsung memengaruhi toleransi masing-masing perusahaan terhadap volatilitas harga dan potensi aksi pasar di masa depan.
SpaceX vs. Strategy: Apa Perbedaan Fundamental dalam Pendekatan Treasury BTC Korporasi?
Perbandingan antara SpaceX dan Strategy memperlihatkan dua jalur berbeda dalam alokasi Bitcoin korporasi.
Pendekatan Strategy pada dasarnya adalah "alokasi Bitcoin dengan leverage". Per awal April 2026, Strategy memegang sekitar 766.970 BTC dengan total biaya USD 58,02 miliar, atau rata-rata USD 75.644 per Bitcoin. Perusahaan ini terus mendanai pembelian Bitcoin dengan menerbitkan saham, obligasi konversi, dan saham preferen, membentuk siklus "himpun dana—beli Bitcoin—tahan—himpun lagi". Bahkan setelah harga Bitcoin turun lebih dari 20% pada kuartal I 2026, Strategy mencatat kerugian belum terealisasi sekitar USD 14,46 miliar namun tetap menambah 4.871 BTC pada pekan pertama April senilai sekitar USD 330 juta. Inti dari strategi ini: Bitcoin bukan sekadar alokasi aset—melainkan menjadi narasi utama struktur permodalan perusahaan.
Sebaliknya, SpaceX menerapkan strategi "tahan pasif". Data on-chain menunjukkan kepemilikan Bitcoin SpaceX mencapai puncaknya pada akhir 2021, saat itu bernilai hampir USD 2 miliar. Pada pasar bearish 2022, nilai ini turun drastis, berfluktuasi antara USD 400 juta hingga USD 800 juta selama dua tahun berikutnya. Yang penting, SpaceX tidak pernah secara aktif mengurangi posisi berdasarkan waktu pasar—bahkan saat terjadi krisis Terra-Luna atau FTX pada 2022. Berbeda dengan Tesla yang aktif membeli dan menjual Bitcoin, SpaceX konsisten menahan kepemilikan di setiap siklus pasar. Analisis on-chain mengindikasikan perusahaan ini pernah memegang sekitar 28.000 BTC (sekitar USD 1,8 miliar), namun menjual sekitar 70% pada masa bearish 2022. Sisa posisi tersebut dipertahankan secara stabil hingga kini.
Perbedaan mendasar: Strategy memperlakukan alokasi Bitcoin sebagai logika operasional inti, sehingga valuasinya sangat terkait dengan harga Bitcoin. SpaceX, sebaliknya, memandang Bitcoin sebagai "aset cadangan tambahan" di luar bisnis utama kedirgantaraan dan internet satelit. Valuasi IPO-nya tetap terutama didorong oleh pendapatan Starlink dan operasi peluncuran roket.
Sinyal Apa yang Dikirimkan oleh Keputusan SpaceX untuk Menahan Bitcoin?
Keputusan SpaceX untuk mempertahankan posisi Bitcoin meski mengalami kerugian bersih USD 5 miliar mengirimkan dua sinyal utama.
Pertama, hal ini mencerminkan redefinisi peran aset Bitcoin dalam perusahaan. Sejak pertengahan 2024, kepemilikan Bitcoin SpaceX tetap statis, artinya perusahaan tidak melakukan aksi apapun saat harga Bitcoin mencapai rekor tertinggi pada 2025 (saat posisi tersebut bernilai lebih dari USD 1,6 miliar) maupun saat terjadi koreksi setelahnya. Perilaku ini mengindikasikan SpaceX memandang Bitcoin lebih sebagai "cadangan modal permanen" daripada "aset perdagangan likuid". Bagi perusahaan yang bersiap IPO dan menghadapi tekanan keuangan, keputusan untuk menahan alih-alih melikuidasi aset volatil ini menunjukkan keyakinan manajemen bahwa nilai strategis jangka panjang Bitcoin lebih besar daripada potensi keuntungan jangka pendek dari penjualan.
Kedua, hal ini menyoroti potensi risiko tekanan jual di pasar. Hingga Maret 2026, penurunan harga Bitcoin telah memangkas nilai kepemilikan BTC SpaceX dari sekitar USD 780 juta pada Desember 2025 menjadi sekitar USD 545 juta—penurunan USD 235 juta hanya dalam tiga bulan. Meski sejauh ini perusahaan tidak menunjukkan niat untuk menjual, pengawasan likuiditas yang lebih ketat selama proses IPO atau pembakaran kas berkelanjutan dari xAI bisa menjadikan penjualan aset kripto sebagai variabel pasar yang signifikan di masa mendatang.
Bagaimana IPO Mendatang Bisa Mempengaruhi Kepemilikan Bitcoin SpaceX?
IPO SpaceX membawa dimensi regulasi baru terhadap kepemilikan Bitcoinnya. Menurut Reuters, SpaceX telah secara diam-diam mengajukan IPO ke SEC, dengan target memulai roadshow pada Juni 2026 dan valuasi antara USD 1,75 triliun hingga USD 2 triliun. IPO ini akan mengharuskan SpaceX untuk pertama kalinya mengungkapkan secara penuh kepemilikan Bitcoinnya dalam dokumen S-1, termasuk jumlah koin, biaya historis, dan nilai wajar pada akhir periode pelaporan.
Perubahan inti yang dibawa IPO adalah institusionalisasi dan transparansi pengungkapan informasi. Setelah go public, posisi Bitcoin SpaceX akan tunduk pada standar akuntansi mark-to-market, dengan laporan keuangan kuartalan yang mencerminkan laba dan rugi akibat fluktuasi harga Bitcoin. Tesla menjadi contoh paralel yang dekat: meski tidak mengubah sikap kepemilikan, kerugian di atas kertas selama penurunan harga berulang kali memicu pemberitaan negatif, kadang menutupi kinerja bisnis sebenarnya. Meski nilai pasar kepemilikan SpaceX relatif kecil dibanding valuasi IPO-nya (sekitar USD 545 juta vs. USD 1,75 triliun), volatilitas Bitcoin dapat menghadirkan pos non-kas tak terduga dalam laporan kuartalan, sehingga memperumit proyeksi keuangan.
Masa Depan Cadangan BTC Korporasi
Kasus SpaceX menawarkan perspektif baru atas pertanyaan, "Mengapa perusahaan memegang Bitcoin?" Berbeda dengan Strategy yang menjadikan Bitcoin sebagai inti narasi bisnis, SpaceX menunjukkan logika "tahan pasif namun teguh": Bitcoin berfungsi sebagai penyimpan nilai jangka panjang, dengan posisi yang relatif tidak berubah sepanjang siklus pasar, tak terpengaruh fluktuasi harga atau tekanan keuangan jangka pendek.
Secara lebih luas, cadangan Bitcoin korporasi kini bergerak dari "eksperimen pinggiran" menuju "alokasi arus utama". Per April 2026, kepemilikan institusional Bitcoin telah mencapai sekitar 4,11 juta BTC di 344 entitas. Semakin banyak perusahaan publik menambah Bitcoin ke neraca mereka—Metaplanet yang berbasis di Tokyo dan American Bitcoin Corporation yang terdaftar di Nasdaq sama-sama menyelesaikan putaran akumulasi baru pada kuartal ini. Sebagai pemegang korporasi terbesar keempat, apakah strategi "diamond hands" SpaceX akan diikuti, bergantung pada dua faktor utama: penerimaan korporasi terhadap narasi nilai jangka panjang Bitcoin, serta kejelasan standar akuntansi dan kerangka regulasi untuk kelas aset ini.
Perlu dicatat bahwa data kepemilikan di atas berasal dari platform pelacakan on-chain pihak ketiga; SpaceX belum secara resmi mengungkapkan angka-angka ini dalam dokumen resmi. Per 13 April 2026, data pasar Gate menunjukkan Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 71.000, dan seluruh estimasi nilai kepemilikan di atas didasarkan pada harga tersebut.
Ringkasan
Meski mencatat kerugian USD 5 miliar, SpaceX tetap memegang 8.285 Bitcoin (sekitar USD 603 juta) dan tidak mengurangi posisinya sejak pertengahan 2024. Hal ini mencerminkan pengakuan perusahaan terhadap Bitcoin sebagai aset cadangan jangka panjang. Berbeda dengan akumulasi leverage ala Strategy, SpaceX menerapkan pendekatan "tahan pasif, siklus tidak berubah", memperlakukan Bitcoin sebagai cadangan tambahan, bukan alat perdagangan. Seiring proses IPO berjalan, kepemilikan kripto SpaceX akan masuk dalam pengungkapan publik untuk pertama kalinya, dan fluktuasi mark-to-market kuartalan berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara struktural. Ketika cadangan Bitcoin korporasi beralih dari eksperimen menuju alokasi arus utama, strategi "diamond hands" SpaceX menjadi studi kasus menarik untuk diamati ke depan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
T: Berapa jumlah Bitcoin yang saat ini dimiliki SpaceX?
Per 13 April 2026, data on-chain Arkham Intelligence menunjukkan SpaceX memegang 8.285 Bitcoin di akun kustodian Coinbase Prime, dengan nilai sekitar USD 603 juta pada harga pasar saat ini. Posisi ini pada dasarnya stabil sejak pertengahan 2024.
T: Apa penyebab kerugian USD 5 miliar SpaceX pada 2025?
Kerugian ini terutama berasal dari akuisisi dan integrasi xAI pada Februari 2025. Bisnis inti SpaceX (peluncuran roket Falcon dan internet satelit Starlink) menghasilkan hampir USD 8 miliar laba sebelum pajak pada 2025, namun belanja modal xAI untuk chip dan pusat data mencapai sekitar USD 13 miliar, sehingga secara keseluruhan terjadi kerugian bersih hampir USD 5 miliar.
T: Di peringkat berapa SpaceX secara global dalam hal kepemilikan Bitcoin korporasi?
Berdasarkan kepemilikan yang diketahui, SpaceX menempati posisi keempat, di bawah Strategy, Marathon Digital, dan Riot Platforms. Meski jumlahnya jauh di bawah 762.099 BTC milik Strategy, SpaceX tetap menjadi salah satu perusahaan swasta terbesar dalam hal ini.
T: Bagaimana strategi kepemilikan Bitcoin SpaceX berbeda dengan Tesla?
Tesla secara historis mengambil pendekatan lebih aktif, sering membeli dan menjual Bitcoin. Sebaliknya, data on-chain menunjukkan SpaceX konsisten menahan posisi di setiap siklus pasar, tidak pernah menjual, dan menunjukkan pola penahanan jangka panjang yang khas.
T: Bagaimana IPO SpaceX dapat mempengaruhi kepemilikan Bitcoinnya?
SpaceX berencana meluncurkan IPO pada Juni 2026. Setelah menjadi perusahaan publik, SpaceX wajib mengungkapkan kepemilikan Bitcoinnya secara penuh dalam dokumen S-1. Setelah tercatat, perusahaan harus melakukan penilaian mark-to-market atas Bitcoin dalam laporan keuangan, sehingga volatilitas harga bisa berdampak pada pos non-kas dalam laba kuartalan.


