Menurut data pasar Gate, pada 13 Maret 2026, harga Bitcoin (BTC) melonjak hingga USD 71.209,4, mencatat kenaikan 2,72% dalam 24 jam dan mendorong kapitalisasi pasar ke USD 1,43 triliun. Pergerakan harga ini terjadi di tengah latar makro yang sangat unik: Pada 28 Februari, eskalasi ketegangan antara AS dan Iran menyebabkan blokade Selat Hormuz. Harga minyak Brent meroket dari USD 60 menjadi hampir USD 120 hanya dalam beberapa hari sebelum kembali merosot tajam, memicu volatilitas di pasar saham global. Sementara itu, pencarian Google untuk "Perang Dunia III" mencapai level tertinggi sejak Juni 2025.
Di tengah kepanikan geopolitik ekstrem ini, fenomena pasar yang tidak biasa menarik perhatian kami: Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, Bitcoin naik sekitar 7%, sementara emas turun 2% dan Nasdaq 100 melemah 0,5% pada periode yang sama. Divergensi ini membalikkan logika konvensional—secara tradisional, aset safe haven seperti emas seharusnya menguat saat perang, sementara aset berisiko biasanya turun. Artikel ini mengulas dari perspektif geopolitik, menggunakan analisis berbasis data dan pemaparan logis untuk mengeksplorasi bagaimana konflik ini mendorong perubahan kekuatan harga aset kripto.
Tinjauan Peristiwa: Efek Kupu-Kupu Selat Hormuz
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan militer bersama ke target Iran, mendorong Garda Revolusi Iran mengumumkan blokade Selat Hormuz. Titik sempit maritim ini, hanya 33 kilometer pada bagian terpendeknya, menangani sekitar 20% hingga 31% perdagangan minyak dunia melalui laut.
Dalam dua minggu berikutnya, pasar keuangan global mengalami roller coaster yang jarang terjadi:
- Minyak Mentah: Brent melonjak dari sekitar USD 62 per barel sebelum konflik menjadi hampir USD 120 pada 9 Maret, lalu kembali turun ke sekitar USD 80 setelah IEA mengumumkan pelepasan cadangan darurat dan Trump memberi sinyal kesiapan bernegosiasi.
- Saham AS: Dow Jones bergerak lebih dari 1.000 poin dalam satu hari saat investor bergantian antara ketakutan "perang keluar kendali" dan harapan "konflik tetap terkendali."
- Pasar Kripto: Pada 1 Maret, Bitcoin sempat turun di bawah USD 63.000, memicu lebih dari 150.000 likuidasi paksa posisi leverage di seluruh pasar, sebelum rebound tajam dan stabil di atas USD 71.000.
Rangkaian peristiwa ini menjadi inti pertanyaan diskusi kita: Ketika risiko geopolitik bergeser dari "topik tren" menjadi guncangan makro nyata, bagaimana logika penetapan harga aset kripto mengalami perubahan struktural?
Analisis Data dan Struktur: Narasi Safe Haven yang Berbeda
Untuk memahami keunikan guncangan geopolitik kali ini, pendekatan paling intuitif adalah membandingkan Bitcoin, emas, minyak mentah, dan saham AS dalam satu skala.
Tabel 1: Kinerja Aset Utama (28 Februari 2026—12 Maret 2026)
| Aset | Kinerja | Pola Volatilitas |
|---|---|---|
| Bitcoin (BTC) | +7% | Turun lalu rebound, pola V tajam |
| Emas (XAU) | -2% | Fluktuasi terus-menerus, safe haven gagal |
| Nasdaq 100 | -0,5% | Ayunan liar, berakhir sedikit lebih rendah |
| WTI Minyak | +~40% | Melejit lalu turun, amplitudo >50% |
Sumber data: Arthur Hayes
Analisis Struktur 1: Korelasi Bitcoin dengan Nasdaq
Pada awal krisis (1–2 Maret), Bitcoin dan Nasdaq sama-sama turun, menunjukkan perilaku aset berisiko klasik. Ini sesuai pola historis: Saat likuiditas tiba-tiba mengetat, investor menjual aset beta tinggi untuk memenuhi margin call. Namun, saat pasar memasuki fase "krisis berkepanjangan," jalur keduanya mulai berpisah—Nasdaq tetap lesu, sementara Bitcoin cepat pulih dan mencetak harga tertinggi lokal baru.
Analisis Struktur 2: Korelasi Volume Pengiriman Selat Hormuz dengan Harga Bitcoin
Berdasarkan data dari Kpler, sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada 2025. Pemodelan korelasi antara "volume pengiriman selat" dan "harga Bitcoin" menunjukkan:
- Jangka pendek (1–3 hari): Korelasi negatif lemah (-0,2 hingga -0,3). Berita blokade membuat harga minyak melonjak, namun Bitcoin justru turun dalam waktu singkat.
- Jangka menengah (1–2 minggu): Korelasi berbalik menjadi positif sedang (+0,4 hingga +0,5). Saat blokade berlanjut, pasar mulai memperhitungkan logika jangka panjang "harga minyak naik → inflasi → depresiasi fiat," mengaktifkan narasi Bitcoin sebagai "penyimpan nilai non-sovereign."
Analisis Struktur 3: Rantai Transmisi Harga dari Minyak ke Bitcoin
Krisis minyak tidak memengaruhi Bitcoin secara langsung, melainkan melalui rantai makro "minyak → inflasi → imbal hasil → likuiditas." Secara spesifik:
- Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya transportasi dan manufaktur, menambah tekanan CPI.
- Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi menghambat prospek penurunan suku bunga bank sentral, mendorong imbal hasil US Treasury naik.
- Imbal hasil riil yang meningkat menguras likuiditas dari sistem keuangan global.
- Aset beta tinggi tertekan saat modal leverage keluar dari pasar kripto.
Rantai ini menjelaskan mengapa Bitcoin awalnya turun bersama aset berisiko—bukan karena konflik geopolitik semata, melainkan karena konflik memicu ekspektasi likuiditas yang lebih ketat.
Membongkar Sentimen Pasar: Tiga Pandangan yang Berbeda
Pendapat pasar tentang hubungan konflik geopolitik ini dengan pasar kripto kini terbagi dalam tiga kubu utama:
Kubu Transmisi Bearish
Diwakili oleh beberapa analis on-chain, kelompok ini melihat insiden Selat Hormuz sebagai "titik balik" makro. Logikanya sederhana: Harga minyak naik → inflasi memburuk → tidak ada penurunan suku bunga → imbal hasil naik → likuiditas mengetat. Mereka berpendapat penurunan pasar kripto tidak perlu bencana geopolitik—cukup dengan kondisi likuiditas yang ketat. Data mendukung: Pada 1 Maret, lebih dari USD 1,8 miliar posisi long dilikuidasi di seluruh pasar, mengonfirmasi reaksi berantai ini.
Kubu Kebangkitan Narasi Safe Haven
Dipimpin oleh Arthur Hayes, salah satu pendiri BitMEX, kubu ini menyoroti bahwa sejak perang meletus, Bitcoin mengungguli emas dan Nasdaq. Mereka berargumen bahwa meski Bitcoin awalnya turun bersama aset berisiko, jika konflik berlanjut dan merusak sistem fiat sovereign, narasi Bitcoin sebagai "aset non-sovereign" akan kembali. Rebound V tajam pada 1 Maret dan stabilisasi di atas USD 71.000 dianggap sebagai pratinjau logika ini.
Kubu Pengamat Tenang
Platform seperti CryptoQuant mewakili pandangan ini, mencatat bahwa pasar belum benar-benar panik. Data mereka menunjukkan pemegang Bitcoin jangka pendek—biasanya kelompok paling reaktif—tidak membuang koinnya saat harga turun. Setelah sekitar 89.000 BTC mengalir ke bursa dalam keadaan rugi pada 5–6 Februari, arus masuk berbasis kerugian terus menurun. Ini diartikan sebagai: "Tidak ada aksi ambil untung panik, tidak ada kapitulasi dari kerugian."
Menguji Narasi: Apakah Bitcoin Benar-Benar "Emas Digital"?
Konflik geopolitik kali ini mengungkap keterbatasan narasi "Bitcoin adalah emas digital."
Fakta 1: Di tahap awal krisis, Bitcoin bergerak sejalan dengan Nasdaq, bukan emas.
Pada 1 Maret, saat emas bertahan di atas USD 2.000, Bitcoin turun di bawah USD 63.000. Ini menunjukkan bahwa dalam kepanikan mendadak, Bitcoin masih dipandang sebagai "aset berisiko beta tinggi," bukan "safe haven."
Fakta 2: Dalam jangka menengah, Bitcoin memang menarik aliran safe haven.
Saat konflik berlangsung lebih dari seminggu, perilaku pasar mulai berbeda. Dari 28 Februari hingga 12 Maret, Bitcoin naik 7% sementara emas turun 2%. Setidaknya, data ini menunjukkan peran "safe haven" Bitcoin sebagian menggantikan status "safe haven tradisional" emas selama konflik ini.
Fakta 3: Ambang utama pergeseran narasi adalah "durasi krisis."
Merangkum pandangan analis, narasi safe haven Bitcoin membutuhkan satu prasyarat: krisis harus berubah dari guncangan jangka pendek menjadi peristiwa struktural jangka panjang. Hanya ketika jalur "harga minyak tinggi → stagflasi → pelonggaran bank sentral" benar-benar terjadi, atribut anti-inflasi dan desentralisasi Bitcoin dapat sepenuhnya dihargai. Pasar kini berada di fase liminal—narasi lama (bull market berbasis penurunan suku bunga) terganggu, namun narasi baru (penyimpanan nilai di tengah fragmentasi geopolitik) belum benar-benar terbentuk.
Analisis Dampak Industri: Perombakan Struktural di Tiga Front
Kerapuhan Struktur Pasar Derivatif Terungkap
Selama volatilitas ini, lebih dari 150.000 posisi BTC dilikuidasi dalam satu hari, kembali menyoroti risiko reaksi berantai posisi leverage tinggi saat guncangan makro. Baik bursa maupun trader perlu memikirkan ulang mekanisme manajemen risiko untuk peristiwa makro di akhir pekan dalam pasar kripto 24/7. Lonjakan volume kontrak komoditas perpetual di platform on-chain seperti Hyperliquid menunjukkan nilai unik infrastruktur kripto untuk penemuan harga sepanjang waktu.
Ekonomi Penambangan Tertekan
Jika harga minyak tetap tinggi, biaya listrik global akan naik, langsung menekan margin keuntungan penambang Bitcoin. Hal ini bisa memaksa penambang berbiaya tinggi keluar, menyebabkan fluktuasi hashrate jangka pendek. Iran, sebagai pusat penambangan berbiaya rendah, bisa mengalami gangguan infrastruktur energi, menjadi guncangan sisi pasokan bagi hashrate jaringan.
Regulasi dan Adopsi: Pedang Bermata Dua
Di satu sisi, inflasi akibat krisis energi dapat mendorong lebih banyak masyarakat di pasar negara berkembang mengadopsi Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Di sisi lain, negara-negara sovereign bisa memperketat regulasi penambangan karena kekhawatiran konsumsi energi. Kasus warga Iran yang meningkatkan kepemilikan Bitcoin selama krisis bisa menjadi referensi bagi kawasan berisiko geopolitik lainnya.
Analisis Skenario: Beragam Jalur Evolusi
Melihat situasi saat ini, tiga skenario dapat diproyeksikan:
Skenario 1: Guncangan Jangka Pendek
- Fakta: Selat Hormuz dibuka kembali dalam satu hingga dua minggu, mengurangi risiko gangguan pasokan.
- Pandangan: Harga minyak melonjak lalu cepat turun, premi risiko menghilang dengan cepat.
- Proyeksi: Ekspektasi inflasi mendingin, jalur kebijakan moneter The Fed kembali normal, dan pasar kripto mengalami "pullback singkat akibat noise makro" sebelum perlahan pulih. Posisi leverage yang dilikuidasi sebelumnya digantikan oleh modal yang lebih kuat.
Skenario 2: Dampak Sedang
- Fakta: Selat tetap tertutup selama beberapa minggu atau bulan, ekspor minyak Iran terhenti total, memangkas pasokan harian global sekitar 4%.
- Pandangan: Harga minyak stabil di kisaran USD 90–100, inflasi global melonjak tajam.
- Proyeksi: Bank sentral utama membatalkan penurunan suku bunga tahun ini, bahkan mempertimbangkan pengetatan. Imbal hasil bebas risiko global tetap tinggi, pasar kripto menghadapi arus keluar likuiditas berkelanjutan. Bitcoin kemungkinan tetap berkorelasi tinggi dengan saham teknologi dalam periode penyesuaian struktural.
Skenario 3: Kasus Ekstrem
- Fakta: Konflik berubah menjadi perang regional, Selat Hormuz menjadi medan perang jangka panjang. Ekspor dari Arab Saudi, UEA, dan negara lain juga terganggu, menyebabkan gangguan pasokan global jauh di atas level saat ini.
- Pandangan: Harga minyak melonjak ke USD 120–150 atau lebih tinggi, dunia masuk ke era stagflasi.
- Proyeksi: Awalnya, semua aset berisiko dijual tanpa pandang bulu—cash is king. Namun jika bank sentral terpaksa meluncurkan pelonggaran moneter tak konvensional baru untuk membiayai defisit fiskal, kredibilitas fiat terkikis. Dalam skenario ini, Bitcoin bisa menghadapi ujian "crash lalu surge" dan sebagai aset non-sovereign, fixed supply, serta sepenuhnya terdesentralisasi, ia berpeluang merebut momentum historis dalam restrukturisasi sistem moneter.
Kesimpulan
Gejolak di Selat Hormuz memaksa pasar kripto melewati ujian yang sudah lama dinantikan. Satu hal menjadi jelas: Bitcoin bukanlah safe haven murni maupun utopia digital yang terisolasi. Sebaliknya, ia adalah kelas aset baru yang sangat terintegrasi dalam sistem likuiditas makro global, sangat sensitif terhadap perubahan marginal.
Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, kenaikan Bitcoin 7% memang mengungguli emas (-2%) dan Nasdaq (-0,5%). Namun makna sebenarnya dari angka ini bukanlah "membuktikan Bitcoin mengalahkan emas." Melainkan, angka tersebut menunjukkan pergeseran struktural yang sedang berlangsung: Ketika aset safe haven tradisional (emas) dan aset berisiko (saham AS) sama-sama gagal menghadapi guncangan geopolitik, pasar mencari opsi ketiga—penyimpan nilai non-sovereign, terdesentralisasi, dan fixed supply.
Bagi investor, memahami rantai transmisi "minyak—imbal hasil—Bitcoin" jauh lebih praktis daripada memperdebatkan narasi "emas digital." Pasar selalu mengajarkan lewat harga: Hanya saat likuiditas surut, kita tahu siapa yang berenang tanpa busana. Dan hanya melalui pressure test positif seperti ini, pasar kripto bisa benar-benar berevolusi dari permainan spekulatif berbasis leverage menjadi arena penyimpanan nilai yang matang.
Hari dan minggu perdagangan ke depan akan menentukan apakah bara api yang dipicu oleh Selat Hormuz menjadi retakan dalam sistem penilaian aset kripto—atau gerbang menuju paradigma baru.


