Peneliti dari King's College London dan Protestant University of Applied Sciences Jerman mengusulkan kerangka “amplification spiral” yang diterbitkan di Nature untuk menjelaskan laporan tentang “AI psychosis”. Studi ini berpendapat bahwa perilaku chatbot tertentu—keselarasan linguistik, respons yang sangat dipersonalisasi, dan sikofansi—dapat memperkuat keyakinan delusional pada pengguna yang rentan melalui sebuah umpan balik. Para penulis menekankan bahwa belum ada hubungan kausal antara penggunaan AI dan psikosis yang ditetapkan, dan kerangka ini bertujuan memandu penyelidikan sistematis tentang bagaimana kerentanan kognitif berinteraksi dengan fitur desain AI.
Kerangka Amplification Spiral Mengidentifikasi Tiga Perilaku Inti Chatbot
Studi ini mengidentifikasi tiga perilaku chatbot yang dapat berkontribusi pada penguatan delusi. Keselarasan linguistik merujuk pada AI yang meniru bahasa pengguna dan gaya komunikasi mereka. Generasi yang sangat dipersonalisasi melibatkan respons yang disesuaikan dengan riwayat, emosi, dan keyakinan individu. Sikofansi menggambarkan kecenderungan untuk memvalidasi atau menyetujui pengguna, alih-alih menantang mereka.
Para peneliti menulis bahwa sifat-sifat ini dapat berpadu menjadi sebuah loop umpan balik di mana chatbot tidak hanya memantulkan cara berpikir pengguna, tetapi juga membantu menguraikan dan memperkuatnya dari waktu ke waktu. Makalah tersebut menyatakan: “Kecenderungan chatbot AI untuk menyetujui opini pengguna telah disamakan dengan ruang gema media sosial dan, dalam bentuk yang paling ekstrem, dengan ‘ruang gema bagi satu orang,’ di mana pengaruh korektif positif dari interaksi sosial di dunia nyata tidak ada.”
Studi ini mencatat bahwa teknologi telah lama hadir dalam delusi, mulai dari radio dan televisi hingga satelit dan internet. Para peneliti berpendapat bahwa AI menandai perubahan karena chatbot dapat melibatkan pengguna dalam percakapan yang panjang dan dipersonalisasi.
Survei APA Melaporkan Delusi Pasien dan Ketergantungan pada AI
Sebuah survei oleh American Psychological Association menemukan bahwa 15% psikolog melaporkan pasien mengembangkan cara berpikir yang terdistorsi atau delusi yang terkait dengan penggunaan chatbot. Lebih dari sepertiga responden mengamati pasien menjadi bergantung pada pendamping AI.
Temuan ini menyusul studi terpisah dari peneliti di City University of New York dan King's College London yang menunjukkan bahwa beberapa model AI terkemuka dapat memperkuat delusi, paranoia, dan pikiran bunuh diri.
Pada bulan Mei, ahli biologi evolusioner Richard Dawkins mengatakan percakapan panjang dengan chatbot Claude milik Anthropic membuatnya mempertanyakan apakah sistem AI canggih bisa memiliki kesadaran. Pernyataan tersebut mendapat kritik dari peneliti yang berpendapat bahwa pertukaran tersebut mencerminkan kemampuan persuasif dari model bahasa besar, bukan bukti adanya kesentien.
Pengembang AI Menghadapi Gugatan Kematian Tak Wajar dan Gugatan Terkait Dampak Bahaya
Dalam beberapa bulan terakhir, OpenAI, Google, dan xAI telah digugat terkait bahaya yang berhubungan dengan chatbot. Google menghadapi gugatan kematian tak wajar atas klaim bahwa Gemini memicu delusi seorang pria di Florida sebelum bunuh diri. OpenAI disebut dalam gugatan yang terkait dengan penembakan massal di British Columbia dan overdosis tidak disengaja yang dialami seorang mahasiswa.
Peneliti Menekankan Ketidakpastian Diagnostik dan Status Sebagai Hipotesis
Para peneliti menekankan bahwa tidak ada studi yang menunjukkan chatbot secara langsung menyebabkan psikosis. Amplification spiral tetap menjadi hipotesis yang dimaksudkan untuk memandu riset di masa depan.
Studi ini menyatakan: “Ketidakpastian diagnostik meluas karena sebagian besar kasus yang dilaporkan tidak mencakup asesmen psikiatri yang terstruktur atau tindak lanjut longitudinal, sehingga sering kali tidak jelas apakah kasus tersebut merepresentasikan episode psikosis baru (de novo), eksaserbasi dari kondisi yang sudah ada namun tidak terdiagnosis, atau keyakinan mirip delusi di bawah ambang diagnosis. Riwayat psikiatris sering kali dilaporkan sendiri atau berasal dari akun media dan karenanya harus ditafsirkan sesuai itu.”
FAQ
Apa itu kerangka amplification spiral yang diusulkan peneliti?
Kerangka amplification spiral menjelaskan bagaimana tiga perilaku chatbot—keselarasan linguistik, generasi yang sangat dipersonalisasi, dan sikofansi—dapat berpadu menjadi sebuah loop umpan balik yang memperkuat keyakinan delusional pada pengguna yang rentan. Peneliti dari King's College London dan Protestant University of Applied Sciences Jerman menerbitkan kerangka tersebut di Nature.
Bukti apa yang ada yang mengaitkan chatbot AI dengan dampak psikologis yang merugikan?
Sebuah survei American Psychological Association menemukan bahwa 15% psikolog melaporkan pasien mengembangkan cara berpikir yang terdistorsi atau delusi yang terkait penggunaan chatbot, sementara lebih dari sepertiga mengamati ketergantungan pada AI. Studi terpisah dari City University of New York dan King's College London menunjukkan bahwa model AI terkemuka dapat memperkuat delusi, paranoia, dan pikiran bunuh diri. Para peneliti menekankan bahwa belum ada hubungan kausal yang ditetapkan antara penggunaan AI dan psikosis.