Libur Tahun Baru baru saja berakhir, dan pasar logam mulia sudah memasuki fase reli penuh. Pada 29 Desember 2025, harga spot emas melonjak ke level USD 4.553 per ons, sementara perak mencatat lonjakan yang bahkan lebih mengesankan hingga mencapai USD 83,9 per ons.
Memasuki pekan pertama tahun 2026, harga spot emas terus bertahan di level tinggi, di atas USD 4.450 per ons. Meski harga perak sedikit terkoreksi, nilainya tetap kuat dan antusiasme di pasar logam mulia belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kinerja Pasar
Di awal tahun 2026, pasar logam mulia melanjutkan reli kuat yang telah terjadi sepanjang 2025. Sepanjang tahun 2025, harga emas naik lebih dari 50%, sementara perak mencatat kenaikan tahunan yang mengesankan sebesar 102%.
Memasuki 2026, harga perak memang sedikit terkoreksi namun tetap berada di level tinggi, sehingga baik emas maupun perak menjadi aset unggulan dalam portofolio investor. Analisis jangka panjang menunjukkan bahwa harga emas cenderung berkinerja kuat dari November hingga Januari, dengan rata-rata kenaikan tertinggi biasanya terjadi pada bulan Desember.
Tren musiman ini sangat sejalan dengan kinerja pasar belakangan ini, memberikan dorongan tambahan bagi logam mulia. Faktor utama di balik fenomena ini berkaitan erat dengan perubahan likuiditas di akhir tahun, rebalancing portofolio institusional, serta lonjakan kejadian risiko.
Faktor Pendorong
Reli harga emas dan perak didorong oleh kombinasi faktor makroekonomi dan keuangan.
Pertama, dolar AS menunjukkan tren pelemahan yang jelas. Sejak awal 2025, Indeks Dolar AS turun sebesar 9%, menempatkannya pada jalur kinerja tahunan terburuk dalam delapan tahun terakhir. Seiring depresiasi dolar, emas yang dihargai dalam dolar secara alami menjadi lebih menarik. Konsensus pasar memperkirakan dolar akan melemah lebih lanjut, terutama jika ketua Federal Reserve yang baru menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar, sehingga mengurangi daya tarik aset berbasis dolar bagi investor.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian dalam lingkungan perdagangan internasional memberikan "premi kepastian" bagi logam mulia. Menurut UBS Wealth Management’s Asia-Pacific CIO Office, tren dedolarisasi, independensi The Fed, dan kekhawatiran atas keberlanjutan fiskal AS akan tetap menjadi fokus utama investor hingga 2026, yang semakin mendorong permintaan terhadap emas.
Laporan Bank of America bahkan lebih lugas, menyebutkan bahwa faktor makro yang mendorong bull market emas kali ini meliputi diversifikasi cadangan bank sentral global, kekhawatiran terhadap utang AS, dan kebijakan fiskal AS yang tidak konvensional—semua faktor ini diperkirakan akan berlanjut hingga 2026.
Pandangan Institusi
Mengenai prospek pasar logam mulia pada 2026, mayoritas institusi sepakat terhadap prospek bullish emas, meskipun pendapat terhadap perak lebih beragam. Emas menonjol sebagai pilihan utama di sektor komoditas untuk 2026, dengan Goldman Sachs mengambil posisi paling optimis. Tim strategi komoditas Goldman menobatkan emas sebagai pilihan terbaik di seluruh pasar komoditas untuk 2026, dengan proyeksi harga akhir tahun sebesar USD 4.900 per ons. JPMorgan bahkan lebih agresif, memproyeksikan emas dapat mencapai USD 5.055 per ons pada kuartal IV 2026, dengan potensi naik hingga USD 6.000 per ons.
Berbeda dengan konsensus bullish pada emas, pandangan institusi terhadap perak di 2026 jauh lebih terbagi. Sebagian besar institusi tetap berhati-hati. Analis Heraeus secara langsung memperingatkan bahwa harga perak dan logam mulia lain mungkin akan mengalami penurunan, setidaknya pada paruh pertama tahun depan. Mereka mencatat bahwa kecepatan reli saat ini telah mendorong harga naik terlalu cepat. Meski harga bisa naik lebih lanjut dalam jangka pendek, momentum kemungkinan akan memudar dan pasar akan memasuki fase konsolidasi. Proyeksi HSBC bahkan lebih konservatif, menaikkan prediksi harga rata-rata perak tahun 2026 menjadi USD 68,25 per ons, dan USD 57,00 per ons untuk 2027.
Prediksi Harga Logam Mulia 2026 dari Berbagai Institusi
| Institusi | Target Harga Emas (USD/ons) | Target Harga Perak (USD/ons) | Insight Utama |
|---|---|---|---|
| Goldman Sachs | 4.900 (akhir 2026) | - | Permintaan struktural bank sentral dan pemangkasan suku bunga The Fed mendukung emas sebagai pilihan terbaik di pasar komoditas |
| JPMorgan | 5.055 (Q4 2026) | - | Potensi naik ke 6.000; tren jangka panjang cadangan resmi dan alokasi investor ke emas |
| BMO Capital Markets | - | 56,3 (rata-rata tahunan) | Harga tinggi mulai menekan permintaan; kekurangan pasokan mulai menyempit |
| HSBC | - | 68,25 (rata-rata tahunan) | Memproyeksikan defisit pasokan perak 2026 akan menyempit menjadi 140 juta ons |
| OANDA | 5.000 (H1 2026) | 90 (potensi H1 2026) | Likuiditas tipis akhir tahun, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, pelemahan dolar, dan risiko geopolitik berperan penting |
Permintaan dan Penawaran
Dinamika permintaan dan penawaran di pasar logam mulia menjadi pendorong utama tren harga. Di sisi emas, institusi secara luas memperkirakan pembelian oleh bank sentral akan tetap kuat. Goldman Sachs memproyeksikan bank sentral akan melanjutkan pembelian emas secara agresif pada 2026, dengan rata-rata pembelian bulanan mencapai 70 ton—empat kali lipat dari rata-rata bulanan sebelum 2022 yang sebesar 17 ton. Menurut World Gold Council, kepemilikan ETF emas global naik menjadi 3.932 ton pada akhir November 2025, menandai pertumbuhan selama enam bulan berturut-turut. Sepanjang 2025 saja, pembelian bersih baru melebihi 700 ton, menjadikan 2025 sebagai tahun dengan peningkatan tahunan kepemilikan ETF emas terbesar dalam sejarah.
Gambaran permintaan dan penawaran perak lebih kompleks. HSBC memperkirakan defisit pasokan perak akan menyempit menjadi 140 juta ons pada 2026, dan turun lagi menjadi 59 juta ons pada 2027. Chen Sijie, analis di Huatai Futures Research Institute, mencatat bahwa dengan menurunnya persediaan perak global yang terlihat, tambahan pasokan dari pertambangan perak akan tetap terbatas dalam beberapa tahun mendatang, sehingga ketidakseimbangan permintaan-penawaran bisa menjadi semakin nyata. Guo Zhaohui, kepala riset komoditas di CICC, menambahkan: "Kekurangan persediaan perak saat ini mungkin bahkan lebih parah, seperti yang terlihat pada insiden ‘short squeeze’ di pasar perak London pada Oktober lalu." Ia menilai status perak sebagai sumber daya strategis semakin menguat, dan risiko tarif serta kekhawatiran persediaan di masa depan bisa jadi lebih tajam dibandingkan pasar emas.
Prospek Investasi
Bagi pengguna Gate, memahami peran logam mulia dalam kondisi pasar saat ini sangat penting. Logam mulia—khususnya emas—berfungsi sebagai alat diversifikasi dalam alokasi aset, dengan korelasi yang umumnya rendah terhadap aset keuangan tradisional seperti saham dan obligasi. UBS Wealth Management’s Asia-Pacific CIO Office merekomendasikan investor yang tertarik pada emas untuk mengalokasikan sekitar 5% portofolionya ke instrumen ini. Sementara itu, perak menawarkan elastisitas harga yang lebih tinggi dan sering kali mengungguli emas selama bull market logam mulia. Chen Sijie dari Huatai Futures Research Institute menilai bahwa ketika ekspektasi penurunan suku bunga dan pelonggaran likuiditas menguat, modal cenderung mengalir ke perak yang lebih volatil. Ia tetap pada pandangan bahwa "rasio emas-perak akan terus menurun, perak akan mengungguli emas, dan harga akan bergerak naik dengan volatilitas yang lebih tinggi." Perlu dicatat, volatilitas di pasar logam mulia meningkat signifikan. Seiring pasar semakin sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, peristiwa geopolitik, dan data makroekonomi, harga diperkirakan akan tetap sangat fluktuatif.
Strategi investasi perlu lebih fleksibel, dengan perhatian khusus pada perubahan rasio emas-perak. Sejak 2022, rasio emas-perak naik ke kisaran utama 85–90, jauh di atas rata-rata pasca-2010 yang sebesar 75. Guo Zhaohui memperkirakan kisaran wajar rasio ini adalah 80–85. Ketika rasio bergerak keluar dari kisaran normal, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa salah satu logam dinilai terlalu murah atau terlalu mahal relatif terhadap yang lain, sehingga membuka peluang trading bagi pelaku pasar.
Antusiasme pasar tetap tinggi. Tim strategi komoditas Goldman Sachs memperkirakan harga emas bisa turun ke level terendah USD 4.200 per ons pada kuartal I 2026, rebound di atas USD 4.400 pada kuartal II, mencetak rekor tertinggi di sekitar USD 4.630 pada kuartal III, dan naik ke USD 4.900 di akhir tahun. Analis pasar senior OANDA menilai emas bisa mendekati USD 5.000 per ons pada paruh pertama 2026, sementara perak berpotensi mencapai sekitar USD 90 per ons. Setelah terkoreksi dari level tertinggi USD 83,9, perak kini berkonsolidasi di level tinggi bersama emas, menanti katalis baru dari pasar.


