Bank-bank Korea sedang mengencangkan standar pemberian pinjaman pada kuartal ketiga, terutama di sektor rumah tangga, menurut survei Bank of Korea yang dirilis pada tanggal 20. Indeks gabungan sikap penyaluran kredit turun menjadi -7 pada Q3 dari -2 pada Q2, yang menunjukkan kondisi penyaluran kredit yang lebih ketat. Bank-bank menyebut meningkatnya risiko kredit di sektor korporasi dan rumah tangga sebagai pendorong utama, dengan tingkat kredit macet usaha kecil dan menengah (UMK) naik dari 0,72% pada Desember menjadi 1,00% pada Mei. Suku bunga obligasi korporasi juga naik tajam, mencapai 4,38% pada akhir Juni dari 3,46% di awal tahun, sehingga meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan.
Bank Korea Mengencangkan Pinjaman Rumah Tangga di Q3
Survei Bank of Korea menunjukkan sikap pinjaman rumah tangga mengencang secara signifikan, dengan indeks perumahan rumah tangga di -11 dan pinjaman umum rumah tangga di -14 pada Q3. Kedua angka tetap berada di wilayah negatif, meski sedikit membaik dibanding Q2. Sikap pinjaman korporasi berpindah menjadi 0 dari tingkat positif pada kuartal sebelumnya, dengan baik perusahaan besar maupun UMK mencatat 0. Indeks komposit keseluruhan -7 mencerminkan efek gabungan dari pengencangan sektor rumah tangga dan pergeseran sikap penyaluran kredit korporasi.
Bank Memprakirakan Risiko Kredit Meningkat di Berbagai Sektor
Bank-bank domestik memperkirakan risiko kredit korporasi akan meningkat pada Q3, khususnya pada UMK, karena ketidakpastian berkelanjutan dalam kondisi bisnis domestik dan internasional, termasuk ketegangan di Timur Tengah. Tingkat kredit macet UMK berdasarkan dana pokok dan bunga yang jatuh tempo lebih dari satu bulan naik dari 0,72% pada Desember menjadi 0,81% pada Maret dan 1,00% pada Mei. Risiko kredit rumah tangga juga diperkirakan tumbuh karena kekhawatiran atas kemampuan pembayar utang dari peminjam yang rentan.
Permintaan Pinjaman Korporasi dan Rumah Tangga Umum Diperkirakan Meningkat
Permintaan pinjaman diproyeksikan naik untuk sektor korporasi dan rumah tangga umum. Permintaan pinjaman korporasi diharapkan meningkat baik untuk perusahaan besar maupun UMK karena kebutuhan likuiditas di tengah ketidakpastian domestik dan internasional serta dampak dari kenaikan suku bunga obligasi korporasi. Suku bunga obligasi korporasi 3 tahun berperingkat AA- naik dari 3,46% di awal tahun menjadi 4,38% pada akhir Juni, sehingga meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan. Permintaan pinjaman rumah tangga umum diperkirakan bertumbuh karena kebutuhan biaya hidup dan investasi di pasar saham. Namun, pinjaman terkait perumahan diperkirakan menurun karena pengencangan regulasi dan kenaikan suku bunga.
FAQ
Apa yang diungkap survei Bank of Korea tentang sikap penyaluran pinjaman pada Q3?
Survei Bank of Korea menunjukkan indeks gabungan sikap penyaluran kredit turun menjadi -7 pada Q3 dari -2 pada Q2, yang mengindikasikan standar penyaluran kredit yang lebih ketat. Pinjaman rumah tangga mengencang secara signifikan dengan perumahan di -11 dan pinjaman umum di -14, sementara sikap penyaluran pinjaman korporasi berpindah ke 0.
Mengapa bank-bank Korea mengencangkan standar pemberian pinjaman?
Bank mengencangkan penyaluran kredit karena meningkatnya risiko kredit di sektor korporasi dan rumah tangga. Tingkat kredit macet UMK naik dari 0,72% pada Desember menjadi 1,00% pada Mei, dan suku bunga obligasi korporasi naik dari 3,46% di awal tahun menjadi 4,38% pada akhir Juni, yang mencerminkan meningkatnya biaya pinjaman dan tekanan finansial.